Podo Tenge merupakan bagian dari Upacara adat penti (pesta syukur adat) yang bertujuan untuk mempersembahkan segala kekurangan. Melalui acara ini diharapkan agar bencana kelaparan dapat dijauhkan, dan dibuang segala ketimpangan, kepincangan, dan kemalasan. Hewan persembahannya adalah seekor babi kecil dan ayam hitam yang agak kecil. Sebelum disembeli, dilakukan wada (doa). Darah hewan persembahan dibuang di cunga (tempat pertemuan dua sungai) sebagai tanda penolakan kelaparan. Biarlah semua bencana kelaparan hanyut bersama darah dan air, bersama redupnya senja mentari di sore itu.
Penti adalah upacara syukur kepada Mori Jari Dedek (Tuhan Sang Pencipta) dan kepada arwah leluhur atas semua hasil jerih payah yang telah diperoleh dan dinikmati dan sebagai tanda musim berganti tahun beralih). Tradisi ini biasanya dilakukan setelah panenan (boleh dilakukan setiap tahun, boleh juga dilakukan lima tahun sekali, tergantung kesiapan dana dan kesepatakan warga kampung). Jika tradisi ini tidak dilakukan, akan mendapat amarah dari Mori Jari Dedek dan Arwah Nenek Moyang dalam bentuk bencana atau musibah. Upacara penti terbagi atas lima babak, yaitu (1) Barong Wae Teku (upacara di sumber mata air yang dipakai sebagai air minum oleh warga kampung); (2) Barong Compang (upacara persembahan/batu persembahan yang berada di tengah kampung; (3) Libur Kilo (upacara persembahan umum dalam gendang karena arwah nenek moyang sudah diajak masuk di rumah gendang); (4) Wae Owak (upacara persembahan pada masing-masing keluarga, yang letak sesajiannya ditempatkan pada batu tertentu atau pohon tertentu; (5) Tudak penti (upacara puncak syukur);