Situs Laleng Lombong ditemukan di Desa Ponto Ara, Kecamatan Lembor. Lale Lombong merupakan situs Batu berbentuk altar (compang) peninggalan Raja Todo bernama Kita Pernia atau dikenal Raja Masyur. Menurut sejarah bahwa Kita Pernia dipilih menjadi Raja di Bukit Tinggi Pulau Sumatera.
Namun, dia ditolak menjadi raja di sana karena dia dinilai keturunan Australia, meskipun terpilih kedua kalinya melalui ujian kecerdasan yang dilakukan oleh panitia pemilihan. Karena dia ditolak jadi raja di sana, akhirnya Kita Pernia mengambil keputusan untuk meninggalkan Pulau Sumetera menuju Daerah Mangga Masi atau Nusa Lale melalui Kampung Warloka dengan menggunakan Wangka atau Lambo (Sampan tanpa mesin).
Selanjutnya, dia tinggal bertahun-tahun di Kampung Warloka. Setelah itu, Dia bersama keluarganya meninggalkan Warloka. Dalam perjalanan, mereka melewati sebuah persimpangan jalan dalam bahasa lokalnya salang dangka pat. Di Perempatan jalan antara Warloka, Labuan Bajo, Paku, dan Naga, istri dari Perkata Selata meninggal dunia dan dikuburkan di situ. Di sekitar perempatan jalan itu ditemukan compang kubur. Kemudian, Kita Pernia menuju Lale Lombong. Di tempat ini Kita Pernia tinggal. Di tempat ini mereka menyusun batu Tureng atau Bentuk Altar. Di atas bukit ada kubur dan Compang. Kubur dikelilingi batu susun. Pada bagian kepala, batu agak besar dan batu compang tebalnya kurang lebih 10 cm. Panjangnya kurang lebih 1,72 cm, dan Lebarnya kurang lebih 80 cm. Tersusun batu di sekelilingnya. Di tempat yang agak rendah sebelum ke bukit, ada batu besar yang namanya Watu Dari. Menurut cerita warga setempat bahwa di tempat ini sebelum dibuat kebun unik sekali. Ada pohon-pohon besar. Pecahan periuk dibuat dari tanah dan batu rapi tersusun di pintu masuk bukit serta orang segan atau takut jalan sendiri-sendiri di tempat ini, tapi bagaimanapun bentuknya sekarang, tempat ini diharapkan untuk tetap dijaga dan dipelihara. Dari Lale Lombong, Kita pernia ini menuju Todo Koe Satar Mese melalui Kala Mada. Lalu bertunangan dengan seorang puteri asal Kampung Desu. Karena pertunangan mereka direstui, maka rombongan Kita Pernia membunyikan Meriam yang sangat dasyat membuat Kampung Desu menjadi Masyur. Karena kemasyuran bunyinya, maka Mori Desu menyebutnya Kita Pernia sebagai Tuan Masyur. Dia dikenal sebagai Tuan Masyur. Selanjutnya, Kita Pernia atau Tuan Masyur di angakat jadi raja oleh semua kalangan Manggarai karena ia sangat kuat melawan musuh yang menjajah Manggari dan bukan hanya kekuatan gaib yang dimilikinya, tetapi ia juga memiliki senjata rakitan dan memiliki kepintaran, sehingga pantas sekali diangkat menjadi raja Manggarai, yaitu Raja Masyur. Raja Masyur menciptakan lagu yang berjudul "Kakor Sala Lale Lombong", yang artinya "Berbuatlah yang terbaik untuk Manggarai dari segi adat dan agama." sebagai wujud syukur atas terplihnya dia sebagai Raja.
Perkata Selata, yaitu kakak dari Raja Masyur yang tinggal di Lale Lombong dikenal sebagai pembuat Kitab Undang-Undang Adat. Kitab Undang-Undang yang disusun Perkata Selata diserahkan ke Raja Masyur untuk disebarluaskan. Berdasarkan Kitab Undang-undang adat tersebut, rumah adat kita dipasang tanduk kerbau, Sanda Lima, dan hubungan Suami Istri, yaitu Woe dan Nelu.
Cerita Situs Lale Lombong
Di Pulau Sumatera tepatnya di Bukit Tinggi ada pertikaian dalam merebut kekuasaan. Pada zaman itu, ada seorang bernama Perkata Selata dan ada Seorang bernama Kita Pernia. Mereka berdua kakak beradik. Perkata Selata sebagai kakak dan Kita Pernia sebagai adik. Dalam hal ini, yang dipilih jadi raja, yaitu Kita Pernia. Akan tetapi sebagian warga Bukit Tinggi dan sekitarnya tidak setuju, karena bukan asli WNI, melainkan asal Australia/keturunan Australia. Karena ditolak, maka diambil kebijakan untuk mengetes kepintaran atau kecerdasan di antara para calon. Dibuatlah even pertarungan Kerbau. Masing-masing mencari kerbau jagoan, Calon lain mangambil Kerbau Jantan Besar Merah sedangkan Kita Pernia sebagai raja terpilih hanya mengambil kerbau kecil yang masih menyusui yang induknya merah.
Sebelum pertarungan dimulai, Raja terpilih menyuruh agar kerbau kecil diikat jauh dari induknya sehari sebelum pertarungan hingga kelaparanlah kerbau kecil ini dan pada saat pertarungan dimulai, kerbau kecil dalam kelaparan merasa bahwa induknya sudah ketemu sehingga dengan bergegas menjemput lawannya dan lari terus kebelakang kerbau jantan yang besar ini untuk mencari susu. Dan lagi sebelum bertarung, Raja Terplih memasang Pisau tajam kepada kedua induknya, sehingga ia menyusul kemaluan kerbau jantan sambil menusuk ke atas berulang-ulang dan kerbau besar tak berani lawan, karena masih gelih dan sakit tertusuk pisau, akhirnya kerbau besar lari melewati garis batas sehingga dianggap kalah. Akhirnya diputuskan agar Kita Pernia tetap manjadi Raja. Namun, tetap saja sebagian warga Bukit Tinggi menolak. Karena mereka masih menolak, maka Kita Pernia merasa malu lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan Bukit Tinggi Sumatera menuju ke Mangga Masi/Nusa Lale untuk bertamasya menggunakan Wangka atau Lambo (sampan tanpa Mesin) melalui Warloka.
Mereka tiba di Warloka dan tinggal di Warloka bertahun-tahun, namun tidak menetap, mereka berpindah tempat serta meninggalkan tempat itu. Peninggalan KITA PERNIA saat itu balok yang dibuat dari batu. Berangkat dari Warloka menuju ke salang dangka pat (perempatan jalan), yaitu ke arah Paku, Warloka, Naga, dan Labuan Bajo. Dari perempatan itu, istri Perkata Selata meninggal dunia dan kubur di situ, sekarang yang ada di situ adalah compang kubur dan mereka tak betah dan mau pindah lagi dan mereka mempunyai 2 ekor anjing. Nama anjing, yaitu Ruk dan Rumpek.
Di perempatan jalan itulah, Perkata Selata berunding agar mereka berbagi arah tujuan, ada yang ke Labuan Bajo bersama Rumpek (Anjing buruan) dan ada yang ke Welak bersama Ruk (anjing buruan). Babi Hutan mati di Kampung Munting yang sekarang jadi situs Watu Kina. Rusa yang dikejar ikut Welak matinya di Kilor yang sekarang masih ada bekas Rusa di Liang Dudang Ndaot. Sedangkan majikan bersama adiknya menuju Wontong, yakni di Poco Ganggang di Buruk, di sana ada peninggalan Compang, dan berangkat ke Gurung Turi di Peri dan dari gunung Turi menuju Hehe/Perang Pontoara. Di situ ada peninggalan Compang dan juga ada Kolam yang di huni BELUT BESAR, tapi pendek dan ada semacam (Wohe Kaba) di mulut belut. Dan kalau Belut pendek itu sering dilihat orang berarti ada berita kematian di Perang.
Dari Kampung Hehe, Kita Pernia Ke Kampung Lale Lombong.
Di sana tempatnya unik ada bukit yang kurang-lebih 100 meter panjangnya dan di sekelilingnya tebing, di situlah Empu Leluhur ini terasa nyaman sehingga mereka berusaha menyusun batu TURENG/Bentuk Altar (tangga masuk ke bukit) dan di atas bukit ada kubur dan Compang. Kubur dikelilingi batu susun. Pada bagian kepala, batu agak besar dan batu compang tebalnya 10 cm. Panjang= 1,72 cm Lebar= 80 cm dan tersusun batu di sekelilingnya. Di tempat yang agak rendah sebelum ke bukit, ada batu besar yang namanya Watu Dari. Menurut cerita warga setempat bahwa dahulu sebelum ada/dijadikan kebun, di tempat ini unik sekali kalau dilihat. Ada pohon-pohon besar. Pecahan periuk dibuat dari tanah dan batu rapi tersusun di pintu masuk bukit serta orang segan atau takut jalan sendiri-sendiri di tempat ini, tapi bagaimanapun bentuknya sekarang, tempat ini diharapkan untuk tetap dijaga dan dipelihara.
Ada pendatang baru yakni Empo yang di suruh oleh Majikan di Salang Dangka Pat, yakni yang ikut anjing RUK, kejar Rusa dan Rusanya dapat, tapi api tak ada. Di Ndoso ada asap api, mereka ke Ndoso untuk minta api, tapi Empo Ndoso tak memberinya. Lalu, mereka tetap berpikir bagaimana cara mereka untuk mendapat api. Mereka guling kain yang tak terpakai lagi (Seleng Botek). Lalu, pergi lagi ke Ndoso untuk minta api, sampai di Ndoso mereka minta (Ole kraeng, ami mai kole landing toe ta’ong ces, am te pisi koe ta ite) Jawab (bom eme te pisi ta). Sambil duduk di tungku api, Empo ini dengan pura-pura membakar gulingan kain ke api dan setelah ujung gulingan terbakar, mereka pamit dan bergegas ke Kilor-Koe untuk membakar rusa yang telah mereka sembunyi di lubang/Gua Kecil,yang sekarang di kenal ‘’Dudang Ndaot’’ yang terletak di Wae Letang dekat Kilor Koe. Empo Ndoso melihat ke Kilor ada asap, dan mereka berpikir, tadi ada orang tak di kenal minta api tapi api tak diberi, di sana Kilor Koe ada asap api, dan saat itu Empo-Empo Ndoso pergi (Tauk) ke Kilor Koe. Api ini dari mana asalnya??....Dijawab, milik sendiri (api de rug ami). Tetapi, kamu ke Ndoso minta api tidak diberi, lalu kamu pulang, dalam sesaat kamu datang lagi (tegi te pisi) dilayani, tak lama lalu pulang, ternyata pada saat yang sama ada asap. Maka pada saat ini kami menuntut kamu telah mencuri api milik kami. Pada saat itu terjadi ketegangan dalam mempertahankan kebenaran masing-masing, sampai ahirnya janji PERANG (reke rampas) dan tempat perangnya di Tangga Ndoso sebelah Timur. Di saat menunggu hari janji perang tersebut, Empo ini mendengar info bahwa ada pendatang baru di Lale Lombong. Dan mereka anggap itu bahwa adalah majikan mereka yang datang ke Lale Lombong untuk bertemu dengan tuan PERKATA SELATA dan KITA PERNIA bahwa di Kilor kami di tuduh orang Ndoso pencuri api . dan sudah sepakat berperang dengan mereka di Tangga sebelah Timur kampung Ndoso. Lalu majikan bertanya: Apakah api itu kamu bawa tanpa diminta? Mereka menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir , dan majikan menganggap ada jalan bagi mereka untuk menang dalam Perang. Ternyata Babi yang menghilang beberapa hari ada di kilor koe dan mau melahirkan anaknya di situ,tetapi hanya beberapa hari saja di situ dan langsung menghilang lagi. Berita menghilangnya Babi tersebut di sampaikan oleh Empo yang datang dari Kilor Koe, bahwa kami melihat babi bunting dan warnanya serta tanda-tandanya tepat sesuai ….Berangkatlah Empo ini ke Kilor Koe. Keesokan harinya berperang melawan Empo Ndoso di Tangga dan bahan-bahan perang yang dipakai Empo Ndoso adalah parang, tombak, dan ijuk pengikat tubuh agar kebal dengan lawan perang. Sedangkan Empo yang dari luar ini hanya memakai kulit pisang (kulit batang) dan api. Pada hari perang tiba, berangkatlah Empo Perkata dengan semua anggota ke Tangga dan mereka tiba duluan di tempat, lalu menyusulah Empo dari Ndoso. Di tempat itu banyak alang-alang yang sudah tua dan kering apalagi pada waktu itu musim kemarau. Beberapa orang disuruh oleh Empo Perkata Selata agar kamu harus tinggal di sini. Ketika saya beri aba-aba untuk menyalakan api, maka segeralah dinyalakan. Kira-kira dalam jarak 100 m ke tempat tempur, Empo Ndoso datang untuk bertempur dan Empo Perkata Selata memberikan aba-aba "segera bakar’’ terbakarlah alang-alang di depan dan di belakang mereka dan menjalar pada seluruh tubuh yang satu terbakar dan dibantu oleh yang lain, maka api semakin menjalar dari satu orang ke orang yang lain, sehingga sebagain pasukan dari Empo Ndoso lari dan menyerah kekalahan dan akhirnya pulanglah Empo-Empo ini ke Kilor Koe dan di sana mereka berunding untuk tetap tinggal di Kilor Koe. Tetapi alasan Empo yang di anggap majikan mereka bahwa aku tetap tinggal di Lale Lombong karna di sana masih banyak yang harus dikerjakan dan alat-alat perang masi disimpan di sana, tetapi peliharalah baik-baik babi yang kamu temui di sini. Pulanglah Perkata Selata dengan adiknya Kita Pernia ke Lale Lombong…Empo Perkata Selata menyuruh adiknya untuk memberi makan, sambil menyiram abu dapur (rawuk) pada tubuh babi hingga selesai makannya. Babi tersebut sempat membuat jejak sehingga gampang diikuti oleh mereka (abu dapur dibasahi dengan air dioles ke sepanjang bulu babi). Adiknya melakukan semua apa yang di suruh kakaknya dan sehabis makan, babi ini meninggalkan Lale Lombong untuk berjalan menuju ke arah Kilor Koe dan diikuti oleh tuan Kita Pernia tetapi di Kilor Koe babi tersebut tak berhenti dia terus berjalan melalui Kala Mada menuju Satar Mese. Tibalah babi ini di Todo Koe (di sebelah kampung Todo) di situlah terlihat oleh Kita Pernia "SARANG BABI" yang di dalam sarang babi tersebut ada anak babi yang gemuk dan babi tersebut memasuki sarangnya. Di sekitar tempat itu ada kebun yang di pagar dengan kayu besar dan di kebun itu ada banyak tanaman, ada ubi kayu, ubi tatas, papaya, dan lain-lain. Dalam hati Empo berpikir sebaiknya aku bertemu dengan tuan kebun agar aku tak pulang ke Lale Lombong, tetapi bagaimana dengan kakak yang di Lale Lombong. Akhirnya ia tetap pulang ke sana dan menyampaikan semua kejadian itu pada kakaknya dan Perkata Selata bertanya, Apakah di sana ada kampung? Dijawab ia, di dekat pegunungan, jaraknya dari tempat babi tidak tidak terlalu jauh. Kalau begitu,esok engkau pergi lagi dan setibanya engkau di sana kamu harus bertemu dan bertamu di rumah mereka serta melihat apakah ada anak gadis mereka yang kau cinta. Pergilah Kita Pernia ke Todo Satar Mese dan melakukan apa yang disampaikan oleh kakaknya Perkata Selata, dan di sana ia bertamu dan dilihatnya ada gadis yang cantik lagi ramah dalam melayani tamu yang gagah perkasa, dan ia menceritakan semua kejadian kenapa dia ada di situ. Nama kampung itu adalah kampung Desu dan Kita Pernia menyampaikan bahwa kakak saya ada di Lale Lombong. Ia menyuruh aku agar mengawini anak tuan agar kami tak cape dalam memelihara babi yang lahir di Todo Koe. Dijawab, kami dengan senang hati menerima kehadiran tuan. Kalau begitu aku pulang ke kampung untuk menyampaikan kepada kakak saya Perkata Selata. Lalu ia pulang ke Lale Lombong dan menyampaikan semua hal itu pada kakaknya. Tidak lama setelah itu kakak beradik segera ke Desu sambil membuat alaran meriam di tempat-tempat tertentu hingga semua orang yang mendengar ledakan itu menjadi kagum dan disahut begini "oleh…cala ho,o rencon tana lino". Hingga tibalah mereka di Todo Koe tempat babi beranak dan meledak lagi alaran hingga Mori Desu mengetahui bahwa mereka telah datang dan dianggap MASYUR sehingga Mori Desu memanggil atau menyapa tuan yang datang adalah Tuan MASYUR. Di Desu ada dua orang anak Gadis yakni kakak beradi, dalam satu ayah dan ibu dan yang lebih dicintai oleh Kita Pernia adalah adiknya. Dan selanjutnya pasangan mereka direstui sehingga mereka hidup berkeluarga dan tetap ia tinggal di Todo Koe untuk memelihara babi, sedangkan kakaknya pulang ke Lale Lombong ,sambil berpesan “Ho,os alat-alat perang menan sai Musu, kep sai aku”. Lalu Perkata Selata meninggalkan adiknya untuk kembali ke Lale Lombong.
Di Kilor
Kilor adalah sebuah kampung dengan sebutan sekarang Kilor-Niang dan Empo Niang ini menawarkan Empo-empo yang dari luar ini untuk tinggal sama di Kilor. Di sana mereka berunding buat compang dan susunan batu di bagian Timur. Beberapa persyaratan yang disampaikan oleh Empo dari luar yaitu pada malam hari, anjing diikat semua dan tak boleh keluar dari rumah selama kereja padamalam hari karena bukan manusia yang kereja tetapi makluk halus (darat) dan tak boleh ada bunyi-bunyian. Akhirnya semua penghuni kampung taat semua aturan yang ditetapkan pada pertemuan itu. Buat compang sudah seleasai dan malam pertama sudah berlalu, mereka lihat compang tersusun rapi dan tinggi besar dan diatas compang ada batu besar dan kecil . sungguh ajaib dirasakan oleh mereka , dan tibalah pada malam yang kedua. Darat (roh halus) mulai bekereja untuk menyusun batu mendaki masuk kampung di bagian Timur ,sebagian sudah tersusun tiba-tiba ada bunyian ….Seorang janda tua di dalam rumah bangunan tidur mau buang air kecil. Mau keluar dari rumah ingat larangan tidak boleh keluar rumah pada malam hari sehingga ia kencing di dalam rumah saja, lagipula rumah panggung, tepat mengenai daun lale yang sudah kering di kolom rumah dan berbunyi: Bunyi kencing… Pe-Pat poli ata pat, Pai-Paot poli ata alo. Darat ini menilai bahwa habis terjerat (rencana toe di’a data so’o ge) apalagi jumlah darat yang bekerja 8 orang 4 orang ambil batu di kali dan 4 orang yang susun batu. Apalagi bunyi kencing seperti satu ungkapan Pe-Pat poli ata pat Pai-Paot poli ata alo. Sementara dalam pertemuan, tidak boleh ada bunyian. Akhirnya darat meninggalkan pekerejan mereka dan menghilang. Sehingga tak tersusun semua batu itu hingga sampai dihalaman. Pagi harinya semua penghuni kampung bangun dari tidur, mereka melihat setengah mendaki sudah tersusun dan mereka melihat di tempat lain batu berserakan dan masih basah Nampak sekali batu dari kali. Akirnya empo yang dari luar membuat sidang lagi bersama warga dan dalam sidang seorang laki tua mengatakan, malam tadi si janda kencing mengenai daun lale yang kering di kolom rumah dan bunyinya: Pe-Pat poli ata pat ………… Pai-Paot poli ata alo ……tot…tot…tot. Kalau demikian berarti tak ada lagi yang bekerja sehingga banyak yang marah kepada janda tuah dan hingga sekarang batu tureng itu batas disitu saja. Akhirnya tuan tanah yakni Kilor Niang menawarkan untuk menetap di Kilor, tetapi majikan yakni perkata selata tetap ka lale lombong dan menetap disana. Di Lale Lombong sama juga sama halnya untuk menyusun batu tureng di tempat mendaki menuju bukit yang di kerjakan oleh roh halus ( Darat ) dan batu compang yang panjang (batu dari kali). Di todo, kita pernia menciptakan sebuah lagu yang judulnya KAKOR SALE LALE LOMBONG. “Kakor sale lale lombong” mempunyai makna antara lain: Berbuatlah yang terbaik untuk Manggarai dari segi adat dan agama. Kitab Undang-undang adat yang tersusun rapi diserahkan ke Raja Masyur untuk disebarluaskan ke semua masyarakat luas dan disambut baik oleh masyarakat pada umumnya sehingga apa yang dapat kita laksanakan sekarang ini, Rumah adat di pasang tanduk kerbau, Sanda lima, Hubungan suami istri, si suami di namakan WOE, dan si istri dinamakan NELU. WOE-NELU berarti suami istri. Undang-undang adat yang di buat oleh Perkata Selata ini sangat menyenangkan bagi warga Manggarai, sehingga adiknya Kita Pernia diangkat menjadi raja sehingga sebagai ungkapan syukur dan pesanya kita Pernia menciptakan lagu: KAKOR SALA LALE-LOMBONG. Kakor berarti bangkit, maju untuk berjuang, syair lagu tersebut menunjukkan bahwa mereka datang dari luar dan selalu dikenang.
Contoh syair lagu:
“ e……..a……e…..kakor e……” dst……….
Sale Lale Lombong “ hia empo pe’ang mai “…
“mori-mori ge ….a…e….aeng a… mbate taka taen mori ga-toto taka tombon mori ga
RAJA TODO : KIta Pernia “ dikenal Raja Masyur”
Kita pernia diangakat jadi raja oleh semua kalangan manggarai karena ia sangat kuat melawan musuh yang menjajah manggari dan bukan hanya kekuatan gaib yang dimiliki, tetapi ia juga memiliki senjata rakitan dan memiliki kepintaran, sehingga pantas sekali diangkat menjadi raja Manggarai. Di Todo, Raja Masyur didamping istri Asla dari Desu yang lagi hamil 8 bulan. Pada saat itu raja ada kunjungan ke Bima karena diundang. Ia berpesan pada istri dan hambanya: “Kalau engkau melahirkan anak laki-laki harus dijaga baik-baik, tetapi kalau yang dilahirkan itu perempuan harus dibunuh dan dikuburkan segera!.” Pada saat itu, istri raja dan hamba sangat susah untuk menjawab, tetapi karena dipaksa terus akirnya terjawab “ YA “ raja. Ketika Raja sudah di Bima, tibalah saatnya istri raja bersalin dan ternyata yang dilahirkan adalah perempuan cantik. Istri raja berpikir panjang lebar dan memanggil hamba. Kalau raja kembali katakan saja kami telah membunuh anak yang dilahirkan itu, karena dia perempuan dan sudah kami kuburkan di halaman rumah dan sebagai bukti, kita bunuh seekor kambing dan kulitnya di keluarkan semua. Hamba melakukan semua yang diperintah. Raja di Bima selama 12 tahun lamanya. Setibanya sang raja di Todo dan ia berkata kepada hamba yang selalu menjaga pintu rumah “Bagaimana keaadan ibu? Hamba sambil berlutut menjawab “maaf raja , ibu telah melahirkan anak perempuan dan aku telah membunuhnya dan sudah dikuburkan pada saat itu juga." Dengan kekuatan gaibnya sang raja , ia tak percaya atas penyampaian hamba dan istrinya karena itu raja menyuruh gali kembali kubur sebagai bukti. Ternyata hamba sudah tahu dan berat sekali ia melakukan kegiatan itu dan raja mengatakan ini kambing! Di mana kamu sembunyikan anak itu? Sekian hari sang istri tak menjawab dan semakin desak pertanyaan raja tetaplah istri dan hamba tak mengakui, akirnya raja memutuskan agar sang istri dibunuh untuk Perssembahan Randang Golo. Di Desu terdengar bahwa istri raja disembeli sebagai pengganti kerbau untuk membuat “PERSEMBAHAN RANDANG GOLO" (yang sekarang dikenal lagu RANDANG TANA TADO, sebetulnya adalah RANDANG TANA TODO. Anak yang dilahirkan Sang istri raja disembunyi di anak rona Desu.
Berita tentang pembunuhan istri raja, tersiar ke mana-mana dan pada saat berita itu anak rona Desu membuat pemberian nama dari anak itu, yaitu Rueng atas suruhan dari ibunya. Pada saat keesokan hari istri raja dibunuh, istri raja menciptakan lagu Rueng. Ia memanggil Rueng dengan haru dan sedih, namun Mori Desu tak mengijinkan dan akhirnya banyak harta yang di taruh, yakni Emas, Luju, Lopa, dan Uang (ringgi). Asalkan kamu datang.
"e…..a….e…..rueng e….ie……rueng randang tana……Todo a…..(bukan tana Tado tetapi tana Todo)
am somba laing lopa tamat mai eta mai……
am rinding laing ringgi tamat mai eta mai ……lengkang hau eta mai
am rending laing emas, tamat eta mai ……
am ulur laing luju, tamat eta mai …….lengkang hau etamai
Akhirnya, Rueng sudah dewasa dan cantik datang menjumpai ibunya dan rueng tak mau kalau ibunya dibunuh, rueng siap dibunuh. Ternyata raja tak berubah niatnya semula, malah tambah tegas untuk tetap membunuh anak itu sebagai pengganti kerbau untuk persembahan. Akhirnya, Rueng dibunuh dan kulitnya dijadikan kulit gendang pada saat Randang Tana Todo.