Situs Kubur Tua Nggerang terletak di Kampung Ndoso Pu’u, Desa Ndoso, Kec. Ndoso Kabupaten Manggarai Barat. Situs Kubur Tua Nggerang berjarak sekitar 2 km dari jalan antara Golowelu Kecamatan Kuwus dan Tentang ibu kota Kecamatan Ndoso.
Untuk sampai ke lokasi situs tersebut pengunjung dapat berjalan kaki, bersepeda motor atau kendaraan roda empat. Dapat dicapai kurang lebih 4 jam dari Labuan Bajo.
Yang ada di dalam kubur ini adalah jasad dari Nggerang. Usianya diperkirakan ratusan tahun.
Menurut cerita dari masyarakat setempat bahwa Nggerang adalah seorang Bidadari asal Kampung Ndoso. Dia berparas cantik, berambut panjang, berkulit putih bersih. Dia ingin diperistrikan oleh Raja Bima karena kecantikannya, namun dia menolaknya. Raja Bima memberikan pilihan bagi warga Ndoso, yaitu jika Nggerang menolak jadi istrinya, maka Raja Bima akan mengirim air laut ke Kampung Ndoso sebagai tempat kelahiran Nggerang dengan tujuan untuk ditenggelamkan. Mendengar itu, Nggerang menyerahkan dirinya untuk dibunuh demi menyelamatkan warga Kampung Ndoso dari ancaman tersebut.
Di suatu kawasan pemandangan alam nan indah disertai gundukan gunung-gemunung seakan mempertontonkan kemolekannya di sanalah terdapat Situs Kubur Tua Nggerang yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Kampung Ndoso. Ketika tiba di kampung Ndoso para pengunjung langsung di sapa situs kubur tua Nggerang di bagian timur kampung Ndoso. Situs kubur ini boleh dibilang sebagai gerbang masuk kampung tersebut. Karena setelah kuburan Nggerang terdapat lokasi kuburan dan kampung Ndoso. Letak kuburan Nggerang dan kampung Ndoso yang berada di sebuah punggung bukit membuatnya menjadi strategis dan dapat memanjakan mata dengan hamparan pemandangan alam nan indah bak lukisan mahakarya Sang Pencipta.
Sebagian besar masyarakat kampung Ndoso mendapatkan kehidupannya dari bercocok tanam dan berkebun. Mereka menanami kebun-kebun mereka dengan berbagai tanaman yang bernilai ekonomis, seperti: kopi, kemiri, cengkeh, fanili, padi, dan lain-lain. Selain bertani, sebagian kecil anak-anak kampung Ndoso bekerja sebagai guru dan pegawai pemerintahan baik di desa Ndoso, di kecamatan maupun di Labuan Bajo ibu kota kabupaten Manggarai Barat.
Sebagaimana di kampung lain di Manggarai, masyarakat kampung Ndoso juga memiliki tradisi budaya. Pewarisan budaya pada masyarakat ini masih dilakukan dengan tradisi lisan dengan menggunakan bahasa Manggarai subdialek Kolang. Subdialek Kolang, menurut Linguist Verheijen termasuk dalam subdialek SH. Klasifikasi ini didasarkan pada suatu fenomena bahasa di mana bunyi /s/ diucapkan /h/. Hal ini dapat dilihat dari kata-kata yang berbunyi /s/, antara lain: mata leso (matahari) diucapkan mata loho, salang (jalan) diucapkan halang, sale (arah barat) diucapkan hale, ase (adik) diucapkan ahe, wase (tali) diucapkan wahe, dan lain-lain.
Tradisi lisan pada masyarakat budaya (guyub tutur) Ndoso, sebagaimana pada guyub tutur lainnya, mencakupi ungkapan-ungkapan, nyanyian rakyat seperti mbata dan danding, dongeng, legenda, dan kisah nyata atau sejarah.
Salah satu kisah nyata yang eksis dan berkembang dalam guyub tutur subdialek Ndoso sampai saat ini adalah kisah si Nggerang: Bidadari Ndoso, seperti yang dikisahkan bapak Frans Nuruk pada bagian berikut ini.
Kisah si Nggerang
Pada jaman dahulu di kampung Ndoso hidup beberapa keluarga. Salah satu diantara kelurga tersebut adalah sepasang suami isteri yang bernama Jou dan Jai. Suami isteri Jou dan Jai dianugerahi anak laki-laki bernama Rua’p, Jahit, dan Jahat serta seorang anak perempuan bernama Hendang.
Menurut cerita turun temurun pada jaman itu dulu tidak banyak anak manusia di kampung Ndoso. Pada suatu saat terjadi hubungan gelap antara weta dengan nara yaitu Ru’ap dan Hendang dalam bahasa setempat disebut jurak. Hubungan gelap itu menyebabkan si Hendang mengandung. Keadaan ini mulai diketahui oleh warga kampung. Lalu warga kampung mulai bertanya kepada Hendang siapa suami dari bayi yang ada dalam kandungannya. Setiap kali ditanya, Hendang tidak memberikan jawaban mengenai ayah dari bayi yang sedang dikandungnya. Karena tidak memberikan jawaban, kemudian warga kampung lainnya mulai curiga bahwa bayi dalam kandungan si Hendang adalah milik Ru’ap saudaranya sendiri.
Mendengar begitu banyaknya pertanyaan warga kampung yang tidak bisa dijawab dan menimbulkan teka-teki yang besar, dan si Ru’ap merasa bersalah dan malu lalu kemudian mengucilkan diri bersama orang tuanya serta Hendang ke Namo. Sampai di Namo, beberapa warga juga mempertanyakan buah kandungan Hendang karena mereka tidak melihat orang lain dalam keluarga tersebut selain saudara-saudaranya sendiri. Pertanyaan tersebut juga tidak dijawab sampai si Hendang melahirkan bayi yang dikandungnya tersebut.
Kelahiran sang bayi yang tanpa ayah tersebut masih menimbulkan berbagai pertanyaan serta dugaan diantara warga kampung Namo. Mereka mulai menduga bahwa bayi yang dilahirkan Hendang adalah kepunyaan si Ru’ap saudaranya. Karena dirasa tidak tahu siapa pemilik si bayi tersebut dan tetap ada dugaan bahwa si Nggerang milik saudara Hendang, lalu Hendang membuang si bayi Nggerang di dekat sumber mata air Wae Boto. Di Wae Boto ini si bayi Nggerang dipiara dan dibesarkan oleh kakar tanah atau ata pele sina (makhluk penjaga air) yang menurut cerita bernama Wengke Ru’a.
Selang beberapa beberapa kemudian, di kampung Namo tersebut warga kampung mengadakan sebuah pesta adat Paki Kaba Rame Randang (semacam pesta syukuran atas hasil panen dari uma randang (kebun komunal). Pada acara ini warga menyembelih 8 ekor kerbau. Pesta sangat meriah. Ada berbagai tarian yang diperagakan termasuk tarian caci yang disertai hingar binger bunyi pukulan gong dan gendang yang berlangsung selama delapan hari berturut-turut.
Hingar binger bunyi-bunyian dari gong dan gendang sampai terdengar di sumber air Wae Boto tempat di mana kakar tanah berdiam bersama anak piaraannya si Nggerang. Bagi kakar tanah bunyi gong dan gendang dipandang sebagai kilat yang disertai bunyi Guntur yang mengelegar yang sangat mengusik suasana damai si kakar tanah. Bunyi-bunyian gong dan gendang yang begitu menggelegar di telinga kakar tanah membuatnya ketakutan. Kemudian dia berkata kepada si Nggerang, mungkin mereka sedang mencarimu sehingga terjadi kilat dan Guntur yang sedemikian hebat ini. Oleh karena itu si Kakar Tanah melepaskan si Nggerang dan menempatkanya di atas sebuah batu di sumber air Wae Boto.
Pada suatu pagi setalah pesta usai, warga Namo pergi ke sumber air Wae Boto menimba air. Sesampainya di mata air tersebut, warga dikejutkan oleh kerberadaan seorang gadis berparas nan cantik, berkulit putih dan berambut pirang panjang. Mereka lalu bertanya, “siapakah engkau hai gadis cantik?” Namun sang gadis tidak menjawab dan tetap duduk tenang di atas sebuah batu. Ditanya berkali-kali, namun dia tetap tak menjawab.
Berita tentang keberadaan sang gadis cantik di mata air cepat tersiar di kampung. Semua orang berbondong-bondong menuju ke mata air pergi melihat sang gadis dan mereka semua menanyakan namanya. Namun sang gadis tetap membisu diam seribu bahasa. Khabar tersebut juga di dengar oleh Hendang dan Rua’p. Keduanya lalu bergegas menuju ke mata air tersebut. Sesampainya di sana mereka berdua lalu mengambil si gadis, dan membawanya ke kampung Namo. Disinilah mulai terkuak teka-teki bahwa bayi yang dulu dikandung Hendang adalah anak si Rua’p saudara Hendang sendiri. Karena merasa malu si Rua’p lari dan tinggal di Golo Worok. Di sana hidupnya berkahir disambar kilat. Sedangkan si Hendang tetap tinggal di Namo sampai akhir hayatnya dan dikuburkan di kampung Namo tersebut (diperkirakan di desa Momol saat ini).
Karena Hendang sudah meninggal, kemudian si Nggerang dibawa kembali ke Ndoso. Di kampung Ndoso mulai menjalani hidup barunya dengan menkonsumsi kuhe hora ‘udang’ sebagai sebagai makanannya sehari-hari. Si Nggerang pelan-pelan bertumbuh menjadi seoarng gadis remaja yang berparas nan cantik, kulit putih serta berambut pirang panjang. Suatu keadaan yang sangat memesona bagi yang melihatnya.
Pada usia remaja si Nggerang, ada pedagang dari kampung Todo yang singgah di Ndoso dalam perjalannya menuju ke Bima. Mereka sangat terpesona menyaksikan kecantikan si Nggerang. Pedagang dari Todo meneruskan perjalannya pada hari berikutnya ke Bima.
Sesampainya di Bima, pedagang dari Todo pergi bertemu raja Bima dan mereka menceritakan bahwa di Ndoso ada seorang gadis remaja yang sangat cantik bagaikan bidadari. Berkulit putih mulus, berwajah cantik, serta berambut pirang panjang. Suatu kecantikan yang sangat luar biasa. Demikian pedangang Todo menympaikannya kepada raja. Mendengar cerita tersebut si Raja Bima lalu berpesan kepada pedagang Todo. “Jika kalian kembali ke Manggarai, sampaikan kepada Nggerang bahwa dia harus menikah dengan saya.”
Ketika pedagang Todo tiba di Ndoso, mereka kemudian menyampaikan keinginan si Raja Bima yakni bahwa si Raja Bima ingin menikah dengan Nggerang. Namun keinginan si Raja Bima ditolak si Nggerang. Karena ditolak, si Raja Bima geram dan marah dan memerintahkan untuk membunuh si Nggerang. Kalau si Nggerang tidak mau menikah dengan saya, Nggerang harus dibunuh, demikian perintah si raja. Dan kulitnya harus disayat dan dibuatkan gendang kecil. Untuk membuktikan bahwa si Nggerang telah dibunuh, warga kampung Ndoso harus membunyikan gendang yang terbuat dari kulit perut si Nggerang.
Ancaman si Raja Bima membuat warga kampung Ndoso mulai keatakutan. Mereka membunuh Nggerang itu artinya mereka membunuh kehidupannya sendiri. Merka dihadapakan pada suatu situasi yang sangat sulit. Kerena mereka tidak tega membunuh si Nggerang, lalu kemudian mereka membunuh kambing dan kulitnya dibuatkan sebuah gendang. Gendang ini dipukul, namun bunyinya tidak didengar oleh raja Bima. Karena raja Bima tidak memperolah berita bahwa si Nggerang telah dibunuh, lalu dia mengirimkan sebuah bala berupa air laut. Air laut pelan-pelan membubung naik mendekati kampung Ndoso.
Melihat ancaman ini, warga kampung Ndoso bertambah takut. Dalam ketakutannya, mereka membunuh kerbau dan kulitnya dibuatkan sebuah gendang. Dan mereka lalu menabuh gengang tersebut. Namun bunyi tabuhan gendang yang terbuat dari kulit kerbau tersebut tidak terdengar sampai ke telinga raja Bima. Karena raja tidak kunjung mendengar berita tentang dibunuhnya si Nggerang, kemudian dia membuat air laut semakin membubung tinggi dan mulai mendekati serta siap menyapuh bersih kampong Ndoso.
Dalam situasi yang semakin genting dan tidak tega menyaksikan keluarga dan seluruh warga kampong Ndoso disapubersih oleh gulungan air laut yang kian menakutkan itu, si Nggerang lalu berdiri dan memutuskan untuk mengorbankan dirinya demi keselamatan keluarga dan warganya dari petaka dari Sang Raja Bima. Kemudian dia menuju ke tengah halaman kampong dan meminta warga untuk segera membunuhnya demi memuaskan keinginan sang raja Bima. “Mbele kaku le meu ga!” (bunuh saya sekarang juga) dan lakukan apa yang diperintahkan raja Bima itu”, demikian suara lantang sang Nggerang meminta warga untuk segera membunuhnya.
Kemudian Nggerang dibunuh. Kulit perutnya lalu disayat dan diambil untuk dibuatkan sebuah Tutung ‘gendang kecil’. Mayatnya dikuburkan di bagian timur dari kampong Ndoso. Setelah itu gendang dibuat kemudian ditabuh. Ketika ditabuh tutung tersebut mengeluarkan sebuah bunyi yang sangat kuat dan lengking. Bunyi yang sangat indah.
Bunyi demikian, sisik loke Nggerang tit tit tit
Sisik loke Nggerang tit tit tit
Sisik loke Nggerang tit tit tit
Lengkingan dan keidahan bunyi dari hasil tabuhan tutung kulit Nggerang tersebut terdengar sampai ke telinga raja Bima. Mendengar bunyi tutung tersebut si raja Bima merasa puas. Dan bersamaan dengan itu, surutlah air laut yang tadinya mulai membubung tinggi siap menyapu bersih kampong Ndoso serta warganya. Semua warga merasa lega. mereka selamat dari malapetaka air laut meskipun hatinya tersayat karena Nggerang telah tiada. Nggerang telah hadir sebagai juru selamat bagi warganya.
Menurut cerita yang diwariskan turun temurun, nenek moyang Kampung Ndoso berasal dari Minangkabau. Dalam perjalan menuju ke Ndoso nenek moyang tersebut berlayar menggunakan perahu dan berlabuh di Nanga Woja. Dari Nanga Woja nenek moyang tersebut berjalan kaki menuju Wetol terus ke Weol Ndung. Di sana dia menetap sementara dan memelihara babi. Babinya membuat cewo ‘sarang’.
Pada suatu hari dia merasa lapar. Untuk itu dia mencari api. Dari tempat dia menetap sementara, terlihat olehnya asap api berasal dari suatu tempat. Dia menuju ke tempat sumber api tersebut. Tibalah dia di suatu tempat yang dikenal sampai hari ini sebagai kampong Ndoso.
Di kampong ini dia menemukan sumber api. Dan ternyata ada keluarga yang membuat api tersebut. Nama keluarga asli di kampong Ndoso tersebut adalah Mengkileng. Lalu kemudian si nenek moyang tadi menetap bersama keluarga Mengkileng di Ndoso.
Dari nenek moyang tadi, lahirlah keturunan yang bernama Jou. Jou menikah dengan Jai yang memberikannya anak yang bernama Rua’p, Jahit, Jahat, dan seorang perempuan bernama Hendang yang kemudian melahirkan si Nggerang.