Lokasi penemuan menhir tidak hanya di Eropa, Timur Tengah, Afrika Barat, India, Korea, tetapi juga di Indonesia. Di Eropa Barat, khususnya di Irlandia dan Inggris, ditemukan sekitar 50.000 menhir sedangkan di barat laut Prancis terdapat 1.200 menhir.
Di Indonesia, banyak ditemukan menhir. Salah satunya adalah Watu Rombang. Watu Rombang merupakan menhir terbesar di Indonesia (the great menhir of Indonesia) dan Menhir terbesar kedua, yaitu di Sumatera Barat (ukuran 4.8 m dan lebar 70-90 cm, serta ketebalan 70-80 cm).
Setelah dibandingkan dengan negara lain, Watu Rombang termasuk menhir raksasa terbesar kedua dunia setelah batu Trussel atau Trushal Stone atau di North Lewis di Hebrides Luar Skotlandia dan di negara Perancis. Batu Trussedi Skotlandia tinggginya hampir 6 m. Salah satu dari banyak monumen neolitik yang luar biasa di pulau Lewis & Harris. Menhir Watu Rombang ditemukan di Sokrutung, salah satu kampung di Kabupaten Manggarai Barat. Tingginya diperkirakan 5 m di atas permukaan tanah, dan lebar diperkirakan 3 m, serta ketebalan diameter 1,5 m. Menhir ini didirikan secara tunggal di atas tanah.
Benda peninggalan zaman Megalitikum ini dapat berupa batu tunggal (monolith) atau berupa sekelompok batu yang diletakkan sejajar di atas tanah. Pembuatan menhir telah dikenal sejak periode Neolitikum (mulai 6000 Sebelum Masehi). Menhir Watu Rombang memiliki pahatan pada permukaannya sehingga membentuk figur ibu hamil dan menampilkan pola-pola hiasan.
Menhir berfungsi sebagai monumen masa prasejarah sebelum masehi. Para arkeolog melihat bahwa menhir digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan arwah nenek moyang. Menhir Watu Rombang adalah batu yang disembah pada zaman dahulu.
Para pengunjung harus menempuh jarak kurang lebih 25 km dalam waktu satu jam dari Labuan Bajo Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat. Kurang lebih 10 km menyusuri Trans Flores menuju Desa Nggorang, dan selanjutnya berbelok ke arah Selatan sejauh 15 km menuju Kampung Sokrutung dengan kondisi jalan beraspal yang tidak mulus lagi. Setibanya di lapangan sepak bola Sokrutung kita bisa memarkirkan kendaraan dan melakukan perjalanan kaki sejauh 2 km melewati lahan pertanian warga. Berbagai tanaman pertanian sepanjang jalan memanjakan mata para pengunjung seperti Jambu Mente dan padi di areal persawahan. Sesampainya di lokasi, para pengunjung disambut oleh sebuah batu yang berdiri kokoh dengan ketinggian kurang lebih 5 meter di tepi sebuah lembah. Batu itulah yang dinamakan Watu Rombang. Menurut warga setempat, batu ini selalu berubah, yaitu bertambah tinggi dan bertambah besar sejalan dengan perkembangan waktu. Atas perubahan tersebut, masyarakat setempat menilai Watu Rombang masih menjadi misteri sampai sekarang.
Legenda Watu Rombang
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat bahwa Watu Rombang mengisahkan sepasang suami istri. Suatu hari sang suami pergi berburuh dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Dalam rentangan waktu yang cukup lama, sang suami belum juga pulang ke rumah. Sang istri merasa tidak tenang dan mencoba menelusuri tempat perburuan untuk mendapatkan kepastian tentang keberadaan suaminya. Menurut cerita, sang istri yang disapa Rombang tidak diperkenankan untuk menyaksikan perburuan dari sang suaminya, karena tradisi setempat kaum perempuan tidak boleh menyaksikan orang yang sedang berburu apalagi dalam keadaan hamil, namun kemauan keras dilakukan oleh si Rombang. Pada saat dia sedang berdiri menyaksikan suaminya yang sedang berburu, seketika itu dia dikutuk dan menjelma menjadi batu. Jadi beliau dikutuk karena melangkahi salah satu syarat berburu, bahwa perempuan tidak boleh menyaksikan perburuan binatang.