Kubur Tua Empo Mehe adalah sebuah kubur peninggalan zaman prasejarah. Kubur ini masih terawat dan terpelihara. Lokasinya persis di Desa Nanga Kantor, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat.
Lokasi yang begitu jauh di sebelah utara dari pusat Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo, mengundang rasa keingintahuan para pengunjung untuk melihat secara dekat seperti apa Kubur Tua tersebut. Dengan menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam dengan jarak tempuh menghampiri 100 Km, tidak menyurutkan pengunjung dalam memenuhi keinginannya menuju situs bersejarah tersebut. Pada mulanya ada 7 orang bersaudara yang mengembara dari ujung Barat Flores (pulau Medang) dengan menggunakan perahu yang pada akhirnya terdampar karena air surut. Perahu yang terdampar tersebutlah yang kita kenal dengan sebutan Watu Wangka dan berada persis di Desa Manong.
Sambil menunggu air naik mereka mengembara sepanjang pulau Flores, di mana dalam perjalanan mereka merasa lapar dan mengeluh tidak ada makanan untuk dimakan. Tiba–tiba di depan mereka tergantung nasi ketupat sebanyak tujuh bungkus dengan warna berbeda–beda. Sesampai di danau Kelimutu mereka makan dalam tiga kelompok, pada tiga danau yang berdekatan dengan kelompok 2 danau yang dua orangnya dan 1 danau yang 3 orang. Karena nasi ketupat 7 bungkus dengan warna yang berbeda–beda maka air kumur mereka buang kembali ke danau sehingga danau itu menjadi berwarna–warni (7 warna). Itulah sebabnya warna danau Kelimutu yang terkadang berubah – ubah pada masa tertentu seputar 7 warna.
Dari danau Kelimutu mereka pulang kembali menuju ke perahu yang terdampar dan dikira air laut sudah naik kembali sehingga mereka bisa pulang ke Pulau Medang. Dalam perjalanan mereka menghilang mulai yang paling belakang. Hilang pertama di Beanio Nagekeo (itulah orang Goa) yang ada di Beanio sekarang. Yang lain berjalan terus dan selalu menghilang mulai dari belakang. Dan yang sampai kembali ke Watu Wangka 3 bersaudara yaitu Mori Sanggo, Mori Mela, Mori Metung.
Yang tinggal di Pacar Mori Sanggo dan Morimela sedangkan Empo Meung ke Bengkong
Empo Mehe yang hilang dalam perjalanan dari danau Kelimutu terdampar di Pong dimana ada satu batu besar yang mempunyai gua yang bisa dijadikan tempat untuk tinggal. Sedangkan Saimai muncul kembali ke Bengkong yang mengaku diri kepada cucunya Empo Metung yaitu Henggo. Dan Henggo berkata bahwa saya adalah saudari kalian tapi Henggo Wako tidak menerima dia sebagai saudari kecuali Henggo. Sehingga Saimai memprofokasi kedua saudarinya sampai terjadinya perang (rampah) Henggo Bengkong dan Hanggo Wako yang dimenangkan olen Henggo Bengkong sehingga adiknya Hanggo Wako dari wilayahnya Henggo Bengkong ke Cibal, itulah Bengkong Cibal. Setelah rampah (perang) Henggo Bengkong dan Hanggo Waho, Siamai menghilang diambil oleh Empu Mehe dijadikan istrinya yang memperanakan Sari sehingga disebut Insari. Nama Insari yang menonjol dan ditakuti karena Saimai sangat dekat dengan darat (roh halus) sehingga apa saja yang dia minta semuanya akan terlayani dan jadi fakta dalam kehidupan mereka, tetapi jangan melanggar syarat dan kalau melanggar pasti ada tumbal. Misal Bale Ikan yang ada di kaki batu Insari. Bale itu dibuat oleh Empu Mehe dengan bermacam-macam jenis ikan–ikan yang ada dalam bak tidak bisa dimancing atau diracuni pakai tuba, tapi dengan pesan kata “Beteng–Beteng–Beteng, air bak akan surut dan ikan boleh diambil dan kasih imbalan dengan telur ayam kampung. Ikan yang diambil rasanya lebih enak dari ikan – ikan lain tapi jangan dianggap soal rasa enak. Kalau dianggap maka yang bersangkutan mencecer dan bisa diakhiri dengan kematian Insari yang berhuni itu juga paling serakah dengan manusia yang lewat seperti: kalau orang sementara jalan dia bentak “kenapa jalan“, kalau orang tidak jalan “kenapa tidak jalan “,kalau orang lihat “kenapa lihat “, kalau orang tidak lihat “ kenapa tidak lihat “. Dan pada akhirnya orang yang bersangkutan mati di tempat.
Empu Mehe (suami) orangnya bijak sehingga dia menyelamatkan orang dengan cara:
1. Tinggal pisah guanya Insari lebih rendah, dan guanya Empu Mehe lebih tinggi untuk bisa memantau orang yang lewat.
2. Bila ada orang yang lewat Empu Mehe memanggil anaknya sari dan suruh mencari kutu mamanya sampai manusia bisa lewat dan tidak dilihat oleh Insari.
3. Dibuat tanah ( sein ) pada tempat tertentu bila orang mau lewat wilayah Insari. Bila datang dari laut maka harus goyangkan daun lipah yang di laut tempat mereka berlabuh. Daun nipah itu menjadi angker tidak bisa dipotong oleh orang dan kalau dipotong pasti ada tumbal inilah nipah Ireng Nanga Kantor . Setelah orang lewat wilayah Insari dibuat tanda dengan memukul Gong di jalan yang sekarang disebut Watu Nggong dan bila Watu Nggong sudah bunyi maka Empu Mehe juga memukul Gong menyatakan orang sudah lewat sehingga sari hentikan cari kutu mamanya. Sebaliknya kalau orang datang dari gunung maka Watu Nggong dibunyikan, maka Empu Mehe membunyikan Gongnya dan menyuruh sari cari kutu mamanya sampai mereka goyangkan npa di Nanga Kantor dan sudah dalam perahu maka Empu Mehe menghentikan sari untuk mencari kutu mamanya. Karena banyak korban manusia maka tentara Lalo Koe dari Bima menembak kepala batu Insari dari pasir putih sehingga sekarang Insari tidak bersuara lagi tapi tentara Lalo Koe meninggal sebelum masuk Reo.
Itulah sepenggal cerita tentang Insari tapi masih ada cerita lain tentang hubungan Empung Mentung – Empu Mehe (Insari ) dan Watu Mbolong.