Situs Benteng Ledang Ledak merupakan salah satu Benteng Peninggalan zaman dahulu yang terletak di Desa Benteng Tado, Kecamatan lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat. Untuk menempuh tempat bersejarah ini para pengunjung harus menyusuri perjalanan yang panjang dan tentu sangat melelahkan. Jarak yang ditempuh dari Labuan Bajo menuju tempat bersejarah tersebut mencapai 80-an Km dalam waktu kurang lebih 4 jam.
Benteng Ledang adalah salah satu situs bersejarah yang terletak pada kawasan titik sara penduduk Suku Rampeng, Desa Benteng Tado, Kecamatan Lembor Selatan. Posisi Benteng Ledang Berada di antara dua sungai, yaitu sungai Wae Leba di bagian selatan dan sungai Wae Nggorong di bagian Utara. Kita dapat menjangkau lokasi ini dengan berjalan kaki sejauh 600 Meter dari bibir jalan raya lokasi Ras, Dusun Watu Tondol, Desa Watu Tiri.
Legenda
Di zaman dahulu kurang lebih lima ratus tahun yang silam, hiduplah seorang pujangga yang bernama: NDARONG /HIMPALO. HIMPALO artinya Palo Wae Lesosor. Alasan dibuatnya sosor ini oleh bapak Ndarong karena saat itu musim kering atau musim kemarau, dengan maksud untuk menyiram tanaman jagung Jewawud yang mereka usahakan pada saat itu. Begitu bulan keempat, jagung Jewawud ini sudah masak. Lalu mereka memetik hasilnya dan mengumpulkannya ke dalam gudang/lumbung mereka. Pada saat itu juga mereka membuat benteng pertahanan mereka dengan kawan-kawan dari bapak Ndarong, karena pada zaman itu adalah zaman Pegorak.
Motto dari Bapak Ndarong, yaitu KAKOR LALONG BAJO BANIRUT LAU BIMA Artinya Kecerdasan dari Bapak Ndarong diketahui oleh Sultan Bima/Pegorak. Maka pada saat itulah Sultan Bima datang bersama rombongannya, dengan menumpang perahu berlayar menuju Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo mereka berlayar lagi lewat Laut Sawu dan tiba di Pantai Mberenang (Situs Watu Tiri). Dari situ mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Kampung Kembo dengan berjalan kaki. Begitu tiba di Gelarang Kembo, Bapak Gelarang Kembo merasa takut dan dia bertannya kepada Sultan Bima “Daeng, apa tujuan Daeng ke sini? Sultan Bima menjawab kami datang untuk mencari benda keramat yang ada di sini jawaban dari Bapak Gelarang Kembo. Daeng aku tidak punya apa-apa di sini kecuali yang ada di gelarang Rampeng (Bapak Ndarong) di sana apa saja yang kita mau pasti ada.” Begitu disetujui oleh Bapak Sultan Bima/Pegorak ini akhirnya mereka diantar ke Bapak Ndarong karena bapak Gelarang Kembo ini tidak tahu kepintaran dari Bapak Ndarong.
Dari berbagai sumber, Benteng Ledang adalah salah satu peninggalan kuno sejak 500 ratus tahun yang lalu. Menurut masyarakat setempat zaman itu terkenal dengan sebutan zaman Pegorak. Pegorak adalah kelompok tertentu yang bersifat otoriter dan bertindak sewenang terhadap kaum-kaum yang berhasil dikuasainya.Yang dapat dijumpai di sana adalah susunan dan barisan batu yang unik dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut.
Benteng Ledang dibngun oleh seorang panglima perang yang bernama Ndarong.Tempat ini berupa istana dan dijadikan sebagai tempat perlindungan dari para pegorak dan juga sebagai Benteng pertahanan saat perang. Wujud yang dapat dijumpai di sana susunan-susunan batu dengan bentuk susunan yang bervariasi berdasarkan fungsinnya masing-masing, berbaris memanjang dari timur ke barat dalam kawasan yang luasnya 7.500 m2 (150 meter x 50 meter) di atas permukaan sebuah bukit kecil. Sebelah selatan terdapat tebing yang curam dan sebelah utara terdapat susunan batu yang menyerupai pagar pembatas.
Susunan batu yang dapat dijumpai di dalamnya antara lain batu yang tersusun berbentuk tangga, batu yang tersusun berbentuk segi empat (kubur) sepanjang 2 meter di bagian Timur, pagar dari batu alam, batu yang tersusun dalam bentuk tangga 1 m x 2 m, batu yang bulat untuk tua-tua untuk Ritual Adat,dan jalan setapak menuju ke kali. Pada bagian timur terdapat empat titik batu yang tersusun dalam bentuk tangga dan menurut informasi, titik yang keempat merupakan tempat untuk penjaga/prajurit. Pada bagian barat terdapat susunan batu-batu bulat yang menyerupai jalan masuk istana. Bagian tengah merupakan pusat istana yang didalamnya terdapat batu bulat sebagai tempat perjamuan.
Salah satu cerita sejarah yang paling dikenal oleh beberapa sumber tentang “Benteng Ledang” adalah kisah pertempuran melawan Sultan Bima. Kisah ini berawal dari perjalanan Sultan Bima dari Labuan Bajo ke Nisar melalui jalur Laut Sawu ke Watu Tiri. Dari Watu Tiri ke Benteng Ponto, lalu ke Benteng Ledang.
Maksud kedatangan rombongan Sultan Bima ke Benteng Ledang adalah untuk menguasai barang-barang bawaan mereka yang berupa barang-barang berharga milik kerabatnya di Benteng Ponto. Ema Ndarong tetap tenang menyambut kehadiran Sultan Bima tersebut. Rombongan Bima disuguhi makan malam berupa jagung jewawut yang belum ditumbuk. Suguhan ini tidak dapat dimakan oleh Sultan Bima, dan membuat Sultan Bima dan rombongan kelaparan. Hal ini membuat Sultan Geram. Namun, Ema Ndorang tetap tenang menghadapinya dengan manis ia memohon maaf kepada Sultan dan mengatakan bahwa seperti itulah makanan sehari-hari warga Benteng Ledang. Ema Ndarong lalu mengajak Sultan Bima bersama rombongannya ke kampung sebelah untuk makan malam karena di sana makanannya lebih enak.
Sultan bersama rombongan dituntun ke arah utara melalui jalur setapak untuk melintasi Sungai Wae Nggorong yang sempit. Sesampainnya mereka di tempat yang sempit, Sultan bersama rombongan dibunuh warga Benteng Ledang. Salah satu anggota rombongan dibiarkan hidup lalu diikat dengan tali lalu diarahkan ke dalam lubang gua yang terletak di bagian tebing di sisi selatan Benteng. Orang tersebut dipenjarakan di dalam lubang tanpa diberi makan hingga tewas. Karena takut akan karma atas tindakan kejam mereka, Ema Ndarong bersama seluruh warganya memilih untuk meninggalkan Benteng Ledang dan menyebar menetap ke beberapa tempat seperti Wae Rebo, Wae Pau,dan Nandong.