Situs Benteng Ndope terletak di Kampung Helung Desa Ndope Kecamatan Pacar. Situs Benteng Ndope merupakan situs bangunan batu sebagai benteng pertahanan perang dan persembunyian dari serangan musuh. Benteng ini terletak di atas Golo Saloh dibangun pada saat penjajahan Belanda.
Benteng Ndope adalah sebuah bangunan dari batu yang dibuat oleh para leluhur dikala mereka menghadapi situasai perang. Bangunan ini terletak di sebuah puncak pada sebuah gunung. Nama gunung tersebut adalah Golo Saloh. Benteng ini dibangun pada saat menghadapi situasi peperangan. Pada saat itu, semua masyarakat pacar yang berada di Kampung Latung dan Polok melarikan diri untuk mencari tempat yang lebih aman dari serangan musuh. Mereka menuju ke Golo Saloh melalui sebuah tempat yang namanya adalah Liang Ndokong.
Liang Ndokong itu adalah dua buah batu besar yang letaknya bersebelahan membentuk gua. Jarak ± 4 m, yang satu tingginya ± 4 m dan satu lagi tingginya ± 2 m. Lalu di atas kedua batu tersebut, ada dua buah batu lempeng besar dengan ukuran masing-masing tiga kali lima meter dan bentuknya semacam atap. Lalu model atap satu air. Tempat itu disebut gua. Disebut Liang Ndokong karena sebagai tempat tinggal sementara para leluhur. Liang Ndokong ini terdiri dari dua kata, yaitu liang artinya Gua sedangkan ndokong artinya sementara. Kemudian ndokong terdiri dari dua suku kata, yaitu ndo artinya di sini sedangkan kong artinya bisa. Lalu kemudian mereka pergi meninggalkan Liang Ndokong itu menuju ke Golo Saloh. Tempat itu dianggap layak untuk menjadi tempat tinggal mereka karena terasa aman dan susah dijangkau oleh musuh karena di dikelilingi oleh tembok batu besar (pere ruget) dan berlubang-lubang. Namun sebagian kecil di bagian Timurnya ada bebatuan tetapi masih ada jalan masuk dan keluar.
Di tempat itu, mereka bersepakat untuk membangun sebuah benteng dan benteng tersebut diberi nama Benteng Ndope. Benteng adalah sebuah hasil karya tangan mereka yang arti dan tujuannya adalah sebagai tempat pertahanan, persembunyian, dan tempat keselamatan bagi mereka dari serangan musuh. Sedangkan kata ndope adalah suara ungkapan mereka waktu memilih dan menunjukan tempat yang menjadikan tempat tinggal tetap mereka dan untuk dibangun sebuah benteng. Kata ndope terdiri dri dua suku kata, yaitu ndo artinya 'di sini' sedangkan pe artinya tepat/cocok sehingga nama Benteng Ndope artinya tempat pertahanan, persembunyian, dan tempat keselamatan yang paling aman.
Bangunan tersebut berupa susunan batu, yang tersusun rapi, dengan ketinggian bervariasi. Ada yang sampai 2 m dan ada yang 1,5 m. Bangunan tersebut memang kelihatan tidak tuntas karena kegiatan mereka pada waktu itu terburu-buru karena ada masalah antara Dalu Pacar dengan Mori Todo tentang perbedaan paham dalam sistem pembayaran pajak pada masa itu. Mori Todo menginstruksikan soal sistem pembayaran pajak. Pembayaran pajak menurut Mori Todo dapat dilakukan dengan dua opsi. Opsi pertama, yaitu bagi rakyat mampu membeli lilin, dapat dibayar dengan lilin (ampas madu) disebut Taki liling, dan opsi kedua, bagi rakyat yang tidak mampu membeli lilin, dapat dibayar dengan manusia atau disebut Taki Mendi.
Dalu Pacar menolak dengan keras kebijakan dari Mori Todon meskipun Mori Todo adalah atasan dari Dalu Pacar, maka timbulah konflik antara Dalu Pacar dengan Mori Todo dan muncul isu perang yang disebut perang Todo melawan Pacar. Karena isu perang, maka Masang segera mengatur tenaga kerja untuk membangun benteng-benteng di Hamente Pacar. Benteng-benteng yang dibangun, yaitu Benteng Tinggil di Kampung Pacar, Benteng Nojar di Kampung Dangka, Benteng Letek di Kampung Dangka, Benteng Ndope di Kampung Latung.
Setelah masalah di atas sudah terkendali muncul lagi masalah baru, yaitu antara Dalu Pacar dengan Petugas Cacar dari pasukan Belanda. Masalah tersebut terjadi karena Mori Dima mengutus petugas Cacar dari pasukan Belanda untuk melaksanakan program kegiatan Cacar di Dalu Pacar. Kedatangan petugas Cacar tersebut melalui Mori Reok, tidak melalui Mori Todo sebagai atasan dari Dalu Pacar, maka atas dasar itulah Dalu Pacar menolak kehadiran petugas Cacar dari pasukan Belanda. Sebenarnya Dalu Pacar bukan menolak program cacar tersebut, tetapi karena prosedurnya yang salah. Dalu Pacar tetap pada pendiriannya bahwa atasannya Mori Todo bukan Mori Reok. Sehingga muncul isu konflik bahwa pasukan Belanda akan menyerang Dalu Pacar. Namun, tokoh terkenal di Dalu Pacar yang disebut Macang Pacar memiliki niat dan hati yang keras untuk melawan Belanda. Semua peristiwa di atas dapat diselesaikan dengan damai sehingga berakhir dengan aman dan damai. Karena sudah aman, mereka segera kembali ke kampung masing-masing dari setiap Benteng. Mereka Yang dari Benteng Ndope kembali ke kampung Latung dan Polok sampai sekarang, dan bangunan mereka di Golo Saloh (Benteng Ndope) masih ada sampai sekarang. Karena situasi dan kondisi aman, maka mereka merasa gembira dan senang, kemudian melahirkan sebuah syair lagu sebagai berikut:
Cako :
1. Riang dia ga…..riang dia go dite tana ge….muku capu u ge neka woleng curut, tiu sa ambong ge, neka woleng jaong go riang dia, pinga dia go dite tana ge…..(Wale)
2. Riang dia ga….riang dia go dite tan age…todo kole golon ge,pacar kaeng tana wan penjaga ge,etan merdeka go pinga dia…..riang dia go dite tan age….(wale)
3. Riang dia ga….riang dia go dite tan age…Belanda kole tanan ge, Nipon kole kilon wan penjajah gee tan merdeka go pinga dia,riang dia go dite tana ge….(Wale)
Wale :
Lawe lenggong nga….a….e….lawe lenggong ….nga de wokong lelo….manik laing go dite tana ge….