Lokasi Situs Compang Uling di Desa Compang Uling, Kecamatan Mbeliling. Compang Uling merupakan situs batu peninggalan sejarah diperkirakan berdiri sejak abad ke-18 pada masa kerajaan Sultan Bima
Sejarah singkat:
Compang Uling berdiri pada abad ke-18 pada masa kerajaan Sultan Bima. Pada mulanya ada sebuah anak kampung yang berada di sebuah wilayah Todo Kabupaten Manggarai namanya Kampung Nuling. Di kampung tersebut, dihuni oleh puluhan kepala keluarga. Naas kampung tersebut wabah penyakit yang mematikan hingga tersisia 3 kepala keluarga. Ketiga kepala keluarga tersebut memilih untuk meninggalkan kampung Nuling menuju wilayah Kempo. Mereka hanya membawah bekal seaadanya. Salah satu di antara mereka membawah hewan ternak seekor babi binatang peliharaanya. Perjalanan mereka memakan waktu hingga dua minggu. Karena kelelahan, mereka membangun tenda sederhana untuk berteduh. Usai lepas lelah, mereka pun bergegas untuk melanjutkan perjalannya. Namun babi yang mereka bawa serta tidak mau jalan lagi. Karena hal itu, mereka pun sepakat untuk memilih tinggal di tempat itu dan segera membangun sebuah pondok untuk mereka tinggal dan hiduplah mereka di tempat itu. Sebagai kenangan, mereka menamakan tempat itu Uling. Setelah belasan tahun kemudian, mereka bangun rumah agak besar untuk menampung anak cucu mereka.
Pada saat mengerjakan rumah tersebut salah satu dari mereka melihat seekor tikus sedang mengejar seekor jangkrik, dengan singap sang kakek menangkap seekor jangkrik lalu disembunyikan di bawah semak, tikus yang mengejarnya lari tunggang langgang. Pada saat kakek melanjutkan pekerjaannya, mereka didatangi oleh empat orang yang tidak dikenal. Wajahnya serem sambil membawa tombak keempat orang tersebut memperkenalkan diri dihadapan kakek bertiga, bahwa kami sedang memburu rusa. Ketiga kakek tersebut menggelengkan kepala dan serentak menjawab bahwa "kami tidak melihat apa-apa”. Keempat pemburuh pun penasaran perasannya rusa yang mereka buruh tadi melintas disini. Akhirnya, sang kakek bertiga jujur menyampaikan memang tadi ada yang melintas di sini hanya seekor tikus sedang mengejar seekor jangkrik. Jangkriknya kami tangkap sedangkan tikusnya sudah lari entah ke mana. Salah satu dari ketiga kakek tersebut memperlihatkan jangkrik dihadapan mereka. Begitu diperlihatkan, keempat pemburuh tersebut lansung memeluk sang bertiga sembari mengucapkan terima kasih atas kebaikannya.
Saking senangnya keempat pemburuh tersebut, mereka menawarkan ketiga kakek tersebut imbalan apa yang harus kami lakukan untuk membalas kebaikan sang kakek. Kakek bertiga terkejut mendengarnya dan merasa heran lalu bertanya, siapa sebenarnya kalian? Kakek bertiga binggung melihatnya. Seekor jangkrik malah dianggap rusa, makin aneh lagi keempat pemburuh tersebut minta bantuan untuk mengangkat jangkrik yang dianggapnya rusa. Akhirnya kakek bertiga pun sadar kalau mereka bukan dari bangsa manusia melainkan bangsa jin (dedemit). Kesokan harinya keempat pemburuh tersebut mendatangi ketiga kakek dan merasa beban atas kebaikan yang sudah dilakukan oleh kakek bertiga. Mereka ingin membalas kebaikannya. Sesampainya di lokasi tempat sang kakek bekerja merekapun menyapa sang kakek bertiga, apapun permintaan kakek bertiga akan kami penuhi.
Namun sang kakek bertiga menolaknya karena apa yang mereka lakukan untuk keempat bangsa jin tersebut tidak ada nilainya, akan tetapi sebaliknya dari keempat jin itu sesuatu kebaikan yang sangat besar yang dilakukan oleh ketiga sang kakek. Ahirnya ketiga sang kakek bertiga meminta bantuannya untuk membuat sebuah Compang sebagai bagian kelengkapan peradaban Kampung Uling, maka keempat jin tersebut menerima tawaran sang kakek bertiga. Pada saat itu juga keempat jin itu menawarkan sesuatu kepada sang kakek bertiga dengan syarat Compang dibangun pada malam hari dan semua warga kampung tidak boleh ke luar dari rumah.
Tawaran itupun sang kakek menyetujuinya. Keesokan harinya kakek bertiga bersama anak cucunya keheranan di halaman rumah mereka sudah dipenuhi tumpukan batu yang tersusun rapi. Yang membuat mereka merasa heran, bagaimana cara mereka mengangkat batu-batu besar itu, akan tetapi mereka menyadari hal itu bahwasanya, ‘’apa yang menurut bangsa jin sulit , bagi manusia tidak sulit, begitupun sebaliknya. Pada malam kedua mereka pun (jin) melanjutkan pengerjaanya. Pada keesokanya, sang kakek bertiga bersama kelurganya terkejut, apa yang mereka rindukan terwujud dan berdirilah sebuah ‘’Compang’’ yang ukuranya lebih besar ± 11 x1 1 m2, memiliki empat sisi dan tinggi 2 meter dari permukaan tanah, setiap sisinya memiliki tangga, di bagian kepalanya berbentuk bundaran penuh, sembari mengucapkan lengkap sudah rasanya status Kampung Uling.
Sebagai wujud rasa syukur mereka, kakek bertiga sepakat membuat hajatan pesta adat atau dengan kata lainya syair Manggarai ‘’RANDANG LONTONG GOLO’’ semalam dua hari. Menjelang pesta adatnya sang kakek bertiga mengundang tetangga terdekat dari Kampung Uling, yaitu dari Kampung Keca sekarang Mantang juga tetangga terdekat lainya, yaitu kampung Podong sekarang Tondong Raja. Juga dari bangsa jin. Di hari pertama pestanya sangat meriah, hingga acaranya lanjut sampai malam hari.
Pada hari keduanya acaranya pun lanjut sampai malam. Namun sebuah peristiwa diakhiri malam menjelang pagi bangunlah seorang ibu, istri dari sang kakek buang air, dan tidak menyadari kalau tetesan air dari rumah panggung mereka dan mengenai daun kayu lale di bawah kolom rumahnya dan suara tetesanya seakan-akan menghitung jumlah dari mahluk jin yang jumlahnya empat orang, salah satu dari jin tersebut mendengar dan langsung mengajak yang lainya untuk meninggalkan acara tersebut. Terjadilah perpisahaan antara sang kakek bertiga dengan mahluk jin.
Turunan dari kakek bertiga telah berkembang biak hingga sekarang dan menjadi sebuah suku pertama yang ada di Kampung Muntung dengan nama sukunya adalah suku Uling.