Lokasi Situs Watu Manggar di Kampung Kilor, Desa Wae Bangka Kec. Lembor. Situs Watu Manggar merupakan situs batu peninggalan Raja Goa-Tallo. Diceritakan bahwa dahulu batu ini berasal dari perahu peninggalan Raja Goa-Tallo..
Selain Perahu, ada juga batu gung, batu kursi, batu meja (masih ada tetapi sudah pecah) sebagai peninggalan Raja Goa-Tallo.
Diperkirakan usia peninggalan tersebut ratusan tahun yang lalu. Dikisahkan dalam sejarah Watu Manggar berkaitan dengan kedatangan raja Goa-Tallo, itu ada hubungannya dengan apa yang disebut dengan Watu Wangka (Watu Perahu). Kata Wangka yang dimaksud itu adalah perahu. Bahwa kedatangan orang Bugis Makasar ini menggunakan perahu. Dalam sejarah menurut beberapa orang ata repeng pede dalam hal ini tokoh adat di kampung Kilor, Yohanes Deram (68 tahun) menceritakan kedatangan orang Bugis Makasar. Mereka datang dari Bima menuju Manggarai melalui wilayah Warloka pesisir. Kemudian beberapa orang melanjutkan perjalanan ke pegunungan. Menurut Bapak Hubertus Nagut, seorang saksi sejarah mengatakan bahwa tempat menetap mereka sementara di Desa Pontoara tepatnya di kampung Deket yang sering kita dengar Lale Lombong. Di sana juga ada peninggalan dari perjalanan mereka.
Dari Lale Lombong Masyur dan Masjur (kakak beradik) menuju kampung Kilor Koe. Dari situ mereka pindah ke Kampung Kilor. Sedangkan adiknya ke kampung Todo. Hierarki kerajaannya pula masih melekat di sana. Bukti bahwa kemiripan rumah adat atau gendang sama dengan yang di kilor. Sebelum peristiwa kebakaran rumah gendang sekitar tahun 1970-an, nama Kilor sendiri belum ada yang bisa menerangkan mengapa dinamakan Kilor. Menuju kampung Kilor yang dalam bahasa Manggarai 'Pa’ang' (awal masuk) ada tangga. Menurut sejarah bahwa tangga di pa’ang ini disusun atas dasar kesepakantan antara ata pali sina. Ada satu keyakinan, terbukti bahwa batu-batu ini disusun dari ukuran besar yang dalam kemampuan orang sekarang tidak mungkin akan terjadi. Kita lanjut satu hal dalam compang 'tempat persembahan' teksturnya alami, bentuknya seperti perahu. Seolah-olah ada anjungan, batu besar tempat nahkoda dan sebagainya. Sehingga warga kampung Kilor beranggapan bahwa compang ini mengingatkan leluhur akan asal-usul mereka dan satu transportasi yang mengantar mereka pada saat itu adalah perahu. Bukti juga mengatakan beberapa bentuk batu juga menyerupai perahu. Ada juga batu gung, batu kursi, batu meja (masih ada tetapi sudah pecah).
Watu dalam bahasa Manggrai adalah Batu. Kata Manggar berhubungan erat dengan Manggarai, dan tentunya masing-masing wilayah punya cerita sendiri. Di sini dikisahkan bahwa Manggar yang dimaksud adalah Jangkar. Jangkar itu benda yang berfungsi untuk mengikat kapal didasar laut. Penggunaan kata Watu Manggar sudah dari jaman dulu yang artinya Watu Jangkar. Watu Manggar ini berada di tengah compang yang berbentuk perahu dan keunikannya bisa digoyang tetapi tidak bisa dicabut.
Belum ada saksi sejarah yang menyatakan bahwa ini sengaja ditanamkan atau terjadi secara alami. Sedangkan Batu yang mengelilinginya sengaja disusun, tetapi itu sudah ratusan tahun lalu.