Tiwu Peka merupakan salah satu tempat bersejarah yang terletak di Kampung Tado, Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat. Untuk menuju lokasi yang dimaksud, pengunjung menelusuri jalur Trans -Flores dari arah Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat. Setibanya di Persimpangan Wol, pengunjung belok kiri ke arah Datak-Tado -Desa Ranggu.
Perjalanan bisa ditempuh dengan sepeda motor dan kendaraaan roda empat. Waktu yang ditempu menuju lokasi tersebut, yaitu 4 sampai 5 jam dengan jarak 90-an Km. Cukup jauh dan cukup menantang, namun panorama yang indah nan hijau menghiasi perjalanan Anda sepanjang jalan. Sesampainya di lokasi, para pengunjung bisa mandi menikmati kesegaran air di kolam alam tersebut.
Di pinggir Tiwu Peka, sering dibuat sajian persembahan kepada leluhur (takung empo) oleh salah satu suku (panga) dari Dusun Tado, yaitu suku Podong. Mereka adalah Kraeng Kantul atau empo Klebong. Keturunan suku Podong ini tersebar di Tado, Ranggu, Lete, Pengka, Laing, Semang, Masang Pacar dan Lambur. Cerita ini diwariskan dari generasi ke generasi .
Pada zaman dahulu, ada satu kampung yang bernama Podong. Kampung ini terletak di sekitar wilayah Kampung Teno, Desa Sompang Suka, Kecamatan Kuwus. Di kampung Podong hiduplah satu keluarga yang mempunyai dua orang anak laki-laki yang sulung bernama Ndeghur Welu dan bungsu bernama Ndeghar Peka. Keduanya belum berkeluarga. Masyarakat kedaluan Kolang zaman dahulu, memiliki tradisi minum tuak putih atau dalam bahasa lokalnya tuak raja. Tuak putih bersumber dari pohon enau yang biasa disebut raping oleh orang Kolang. Keluarga Kampung Podong juga sudah terbiasa dengan minuman tuak raja. Ndeghur Welu adalah seorang yang bias meracik tuak raja, ia bahkan bisa dibilang ahli dalam meracik tuak raja di kampung Podong.
Suatu ketika, pada saat Ndeghur Welu sedang berada di kebun, adiknya yang bernama Ndeghar Peka kehausan kemudian ia melihat gogong tempat penyimpanan tuak milik kakaknya yang berada di gantungan. Diperiksanya gogong tersebut, ternyata berisi tuak, lalu ia mengambil gogong itu untuk meminum tuaknya. Karena kurang hati-hati, gogong tersebut jatuh lalu pecah, semua tuak di dalamnya tumpah ke tanah.
Ketika sore hari tiba, Ndeghur Welu kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, ia mencium bau tuak yang sangat enak, sangat menggoda kerongkongan. Kemudian ia berniat meminum tuak yang ada di gantungan tadi. Ketika ia hendak mengambil gogong tuak di gantungan, yang didapatnya hanyalah serpihan-serpihan gogong di tanah dan basah di sekitar gogong itu, juga tercium bau tuak yang sangat tajam, menggugah dahaga. Ia pun kaget, ternyata serpihan gogong dan tuak yang tumpah di tanah adalah miliknya.
Ketika mengetahui bahwa tuak yang tumpah adalah miliknya, ia pun sangat marah pada adik Ndeghar Peka. Ndeghur Welu menuntut supaya tuak yang tumpah tadi harus dikembalikan dan tidak boleh diganti dengan tuak lainnya. Ndeghar Peka sampai kehilangan akal, karena tak ada jalan keluar, ia terpaksa menggali tanah bekas tumpahan tuak tadi dengan harapan semoga tuak tadi masih tertampung di dalam tanah. Kemudian dia menggali, menggali dan terus menggali sampai ratusan meter. Karena Ndeghur Welu terus menuntut, akhirnya Ndeghar Peka menggali tanah tersebut selama bertahun-tahun lamanya.
Setelah digali puluhan meter sampai ke tepian Wae Impor, si Ndeghar Peka sangat tercengang karena melihat satu kota kecil yang sangat indah dan ramai dikunjungi orang. Ternyata itu bukanlah kota sungguhan jika dilihat oleh mata normal, tetapi itu adalah Tiwu Peka (kolam yang cukup dalam dan luas diperkirakan sedalam 30-40m dan luasnya± 1600m²). Hanya Ndeghar Peka yang melihat kolam itu sebagai kota yang indah dan ramai. Ndeghar Peka pun masuk ke sebuah rumah yang bagus. Ia diterima dengan baik oleh tuan rumah layaknya seorang tamu. Ia disuguhi makanan lezat dan minuman segar.
Saat bertamu, Ndeghar Peka melihat anak tuan rumah itu, dia seorang gadis muda yang berparas sangat cantik dan ayu. Gadis itu sedang sakit, lehernya terlihat bengkak. Ndeghar Peka sangat tertarik dan jatuh cinta pada gadis itu. Ia meminta izin pada ayah dan ibunya untuk melihat lebih dekat gadis cantik yang menderita sakit itu. Ia ingin mengetahui sakit yang di derita gadis itu. Setelah diamatinya ternyata leher gadis muda itu bengkak karena tersangkut sebuah umpan berupa mata kail.
Orang tua gadis itu sangat sayang pada anaknya. Mereka memberi tahu Ndeghar Peka bahwa belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Karena putus asa, kedua orang tua itu bersepakat untuk memberikan anak gadisnya pada Ndeghar Peka untuk dijadikan istri, dengan persyaratan Ndeghar Peka bisa menyembuhkan penyakitnya. Ndeghar Peka dengan senang hati menerima persyaratan tersebut, karena ia jatuh cinta pada gadis itu. Ternyata si gadis juga menyukai Ndeghar Peka, ia menerima cinta Ndeghar Peka dengan beberapa persyaratan.
Sebelumnya, Ndeghar Peka menyampaikan kesulitan berkaitan dengan tuntutan ganti tuak raja milik kakaknya Ndeghur Welu yang di tumpahkannya beberapa bulan lalu. Setelah negosiasi terjadilah kesepakatan antara keluarga si gadis dan si Ndeghar Peka. Tuak raja disiapkan oleh keluarga si gadis, dan mata kail yang tersangkut di leher si gadis di keluarkan dengan mudah oleh si Ndeghar Peka. Maka si gadis dijadikan istri oleh Ndeghar Peka dan tuak raja telah disiapkan untuk menggantikan tuak milik kakak Ndeghur Welu.
Ada pun beberapa persyaratan agar si gadis tetap mejadi istri Ndeghar Peka selamanya tanpa terjadi suatu kejadian aneh dalam keluarga sebagai berikut1. (1)Tidak boleh buang air kecil atau kencing di bawah pohon lale (sukun hutan), (2) Tidak boleh goreng wijen biji longa atau linse longa. Jika persyaratan ini dilanggar maka si gadis akan berubah menjadi belut dan kembali ke kampung atau kota asalnya yaitu Tiwu Peka. Semua persyaratan disetujui dan si gadis telah menjadi istri Ndeghar Peka dan tinggal bersama Ndeghar Peka di Kampung Welu, kampungnya Ndeghar Peka.
Pada suatu waktu sepakatlah keluarga besar kampung Welu untuk adakan acara adat (acara Paca) ke Anak rona Tiwu Peka yaitu belis istri Ndeghar Peka . Mereka meminta bantuan pada semua orang keluarga untuk terlibat dalam mengumpulkan uang belis (paca) untuk diberikan kepada anak rona yaitu keluarga dari istri Ndeghar Peka. Disiaplah orang-orang untuk pergi sida (meminta bantuan pada anak wina atau woe). Si Ndeghar Peka ditugaskan sida ke inang, amang, weta, dan kesa. Sebelumnya si Ndeghar Peka keluar ia telah mengingatkan kedua orang tuanya dan semua orang rumah untuk tidak boleh melakukan atau melanggar persyaratan tadi, karena jika dilanggar maka akan berakibat buruk. Ndeghar Peka pun berangkat, orang –orang rumah sangat sibuk. tiba-tiba salah seorang dari keluarga Ndeghar Peka secara tidak sengaja menggoreng biji wijen (linse longa) dan seorang yang lainnya mengencing di bawah pohon sukun (haung lale). Saat itu juga istri Ndeghar Peka memberitahu inang dan orang-orang rumah dan mengatakan:”kalian mengusir saya dari keluarga ini, kalian tidak senang dengan saya maka sekarang saya kembali ke orang tuaku. Seketika itu si gadis berubah menjadi belut dan lari ke dalam lubang (liang) tempat hasil galian yang menghubungkan kampung Podong dengan Tiwu Peka.
Sekembalinya si Ndeghur Peka dari tugas sida, ia tidak melihat istrinya ada di rumah. Kemudian keluarganya memberitahu bahwa istrinya telah kembali ke orang tuanya karena mereka tidak sengaja melakukan pelanggaran pada persyaratan yang sudah dijanjikan sebelumnya. Ia sangat kecewa dengan perilaku keluarganya di rumah lalu, ia pergi meninggalkan keluarganya kemudian mengikuti jejak istrinya ke Tiwu Peka dan sampai hari ini Ndeghar Peka bersama istrinya tidak pernah kembali ke kampung Podong. Lubang atau liang tersebut masih ada sampai sekarang. Kini Tiwu Peka dijadikan tempat persembahan untuk meminta hujan dari turunan kampung Podong saat musim kemerau panjang.