Situs Liang Panas berlokasi di Kampung Mbore Desa Tondong Belang Kecamatan Mbeliling. Situs ini berupa Gua Batu yang di dalamnya terdapat Kolam kecil dan Kolam Besar, airnya terasa panas, terdapat kerang-kerang laut, dan Ular dari berbagai jenis.
Di Liang Panas ini, Pastor Theodore Verhoeven asal Negara Belanda menemukan tulang manusia purba asal India, yaitu satu orang India Belaka tingginya 2 meter dan satu orang India Muka tingginya 1.5 meter.
Gua Batu ini menjadi terkenal setelah tahun 1950–an. Seorang pastor asal Belanda bernama Theodore Verhoeven asal Negara Belanda telah melakukan penelitian di tempat ini bersama temannya, yaitu Daniel Samsudi asal Provinsi Sumatera Utara, Paulus Ngongo asal Sumba NTT, Bonavantura Satuan asal Nara Kabupaten Manggarai dan Simon seorang Pembantu. Pada waktu itu, Pastor Theodore Verhoeven dibantu oleh beberapa warga di kampong Dalong, yaitu Mikael Ndaka, Antonius Aco, Andreas Baga, Sebas Saku, Aloisius Nakung, Lamber Jalu, dan Bertolomeus Kongo. Dilakukan penggalian terhadap sisa-sisa kehidupan manusia purba di tempat tersebut. Hasil penggalian ditemukan tulang-belulang manusia purba. Setelah diidentifikasi ternyata tulang manusia purba tersebut asal India, yaitu satu orang India Belaka tingginya 2 meter dan satu orang India Muka tingginya 1.5 meter. Keduanya ditemukan dalam dalam gua batu tersebut. Namun keberadaan tulang-belulang tersebut sampai dengan saat ini belum diketahui.
Mitos
Dahulu kala kehidupan warga masyarakat dilanda wabah penyakit mematikan. Tidak disediaakan obat ampuh untuk menyembuhkan penyakit yang mereka alami, hingga kemudian mereka bertemu dengan seorang pemuda tampan yang tinggal di Liang Panas. Pemuda tersebut membuat ramuan untuk menyembuhkan warga kampong. Berkat ramuannya, seluruh warga kampung dipulihkan kembali penyakitnya. Sebagai tanda syukur, warga berjanji untuk memberikan apa saja yang diminta oleh pemuda. Kemudian, pemuda meminta salah satu gadis cantik untuk menjadi istrinya. Permintaan itu disanggupi warga. Pada saat mereka menyerahkan anak gadis, pemuda tampan yang mereka lihat ternyata seekor naga besar. Apabila tidak dituruti, naga tersebut mengancam menghapuskan kampong tempat mereka tinggal. Sebelum masuk ke dalam Gua, gadis tersebut berpesan kepada kedua orang tua dan warga kampung, yaitu bila mereka ingin bertemu dengan dia cukup datang dan mandi di air yang ke luar dari dalam gua. Menurut keyakinan nenek moyang, air hangat tersebut merupakan simbol pengingat anak gadis mereka berubah wujud menjadi seekor ular phython atau ular sawah. Oleh karenanya, setiap pengunjung wajib mengikuti acara ritual adat yang dipandu oleh Tua adat di Kampung itu.