Watu Nggoang
Watu Nggoang merupakan sebuah nama untuk sebuah batu yang menyala atau bercahaya. Dari asal kata, Watu artinya batu dan Nggoang artinya menyala atau bercahaya. Jadi Watu Nggoang adalah batu yang menyala/bercahaya.
Tidak logis, tidak pernah dilihat dan didengar, untuk dipercayaipun sangat mustahil kalau sebuah batu bisa menyala atau bercahaya. Namun, sepenggal kisah yang disampaikan oleh Kepala Desa Sano Nggoang, menuturkan bahwa Watu Nggoang adalah sebuah batu yang menyala atau bercahaya di malam hari. Hal ini terjadi setiap hari pada saat matahari kembali ke peraduannya. Masyarakat Kampung Golo Hiher (kampung pertama sebelum pindah ke Kampung Nggoang) memwariskan cerita ini secara turun temurun. Yang keluar dari batu tersebut menyerupai cahaya kunang-kunang. Peristiwa ini tentu menjadi pertanyaan bagi masyarakat setempat apa yang terjadi pada benda alam ini. Suatu hal yang pasti, bahwa ketika mereka melihat secara dekat, mereka tetap melihat cahaya seperti kunang kunang dari batu tersebut. Atas dasar itulah masyarakat setempat menamainya Watu Nggoang.
Watu Nggoang berada di sebuah bukit kecil, di pinggir Danau Sano Nggoang, yang diklaim sebagai Danau Vulkanik terbesar di Propinsi NTT. Panorama danau dan alam sekitar membuat para pengunjung warisan alam tersebut tidak berkedip mata memandang keindahan danau Sano Nggoang.
Cerita tentang Kampung Nggoang, tidak terlepas dari cerita tentang masyarakat Kampung Todo. Nenek moyang dari kedua kampung ini memiliki garis keturunan yang sama. Keduanya adik kakak. Keturunan Todo berstatus sebagai kakak dan keturunan Nggoang berstatus sebagai adik. Namun tidak diceritakan secara jelas siapa nama dari kedua nenek moyang tersebut dan mengapa mereka harus tinggal di tempat yang berbeda dan jauh.
Pada suatu waktu, warga keturunan Todo mendengar bahwa di Golo Hiher ada batu yang bercahaya atau menyala. Merekapun tidak tinggal diam untuk mencari tahu sekaligus mengunjungi sanak saudara mereka yang sudah lama tidak bertemu. Merekapun meminta dan membawa batu ini ke kampung Todo. Sang adik yang baik hati mengiakan apa yang menjadi keinginan sang kakak, karena menganggap bahwa sang kakaklah yang lebih berhak untuk mengambilnya. Sikap positif dari sang adik menambah semangat bagi sang kakak untuk menggalinya. Kobaran semangat yang menyala nyala dengan menyita waktu yang sangat lama bagi sang kakak dalam menggali batu ini tidak mendapatkan hasil yang memuaskan, karena mereka tidak menemukan pangkal dari batu tersebut. Semakin dalam mereka gali semakin tidak menemukan pangkal dari batu tersebut. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan penggalian. Namun mereka tidak kehabisan cara untuk mendapatkan batu ini. Sang kakak (keturunan Todo) memecahkan sebagian kecil batu tersebut pada bagian atasnya dan membawanya pulang ke Kampung Todo. Terlihat jelas pada gambar, bahwa bagian atas batunya pecah. Sampai dengan berita ini dibagikan belum ada informasi atau cerita lanjutan bagaimana dan seperti apa bagian batu yang mereka bawakan ke Kampung Todo.
Watu Nggoang yang berbentuk bulat, berdiameter kurang lebih 1 meter, serta dikelilingi oleh batu batu kecil menyerupai sebuah altar (compang) berada tepat di pinggir jalan Nggoang-Naga sekitar 100-an meter dari Kantor Desa Sano Nggoang. Dua setengah jam dengan jarak tempuh 70-an Km dari Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat sebagai Kota Super Premium. Melelahkan, karena jarak yang cukup jauh dengan kondisi jalan yang tidak bersahabat, namun panorama alam menghiasi mata, kerindangan pohon sepanjang jalan meneduhkan dan menyejukan hati, kicaun burung yang merdu menghibur sang pengembara dan pecinta Watu Nggoang
The Watu Nggoang site is one of the unique and interesting historical relics. This site is precisely located in Nggoang Village, Sano Nggoang Village, Sano Nggoang District, West Manggarai Regency. The distance traveled by visitors to this location is 58 km in approximately 2 hours from Labuan Bajo, the capital of West Manggarai.
They have to pass Trans Flores to Langgo Intersection. Arriving there, travellers turn right to the south towards Sano Nggoang.
The journey is quite challenging, because of the asphalt road conditions with potholes, gravel, and loose stones along the road. But all are cured or redeemed with a variety of offerings of varied fruits that are sold along the way. Various types of fresh fruits are offered such as Durian, Pineapple, Rambutan, banana, etc. The shade of trees along the road also cools the inner atmosphere of the visitors, as well as a view point to see Lake Sano Nggoang.
Before entering the Watu Nggoang place, visitors are greeted by the ripples of Lake sano Nggoang which is one of the largest lakes in Indonesia. It takes about 10 minutes for visitors to walk along Lake Sano Nggoang by motorbike to the site.
Watu Nggoang has a historical record for the local community and its surroundings. He is a stone whose shape and size is like any other stone. During the day Watu Nggoang has no appeal because it does not have the uniqueness inherent in this stone. However, it's a different story when we see it at night. At certain times of the night this stone glows or glows. It is uncertain at what time it lights up at night. Literally Watu Nggoang has the following meanings. Watu means stone and Nggoang means light or light. So Watu Nggoang means burning stone or glowing stone. That is the uniqueness and interest of Watu Nggoang.
Selengkapnya tentang teks sumber ini