Jembatan alam merupakan sebuah peninggalan bersejarah yang berada di kampung Lengkong Lala, Desa Repi, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat. Jarak yang ditempuh oleh para pengunjung menuju wisata alam ini mencapai kurang lebih 80 Km dalam waktu 3 sampai 4 jam dari Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat. Perjalanan yang sangat jauh dan menantang, namun terobati dengan panorama persawahan yang membentang luas sepanjang jalan.
Hal inilah yang menandakan bahwa sebagian besar penduduk di wilayah Kecamatan Lembor Selatan dan sekitarnya adalah petani. Para pengunjung harus melewati jalur Trans Flores dari arah Labuan Bajo menuju Malawatar, Ibu Kota Kecamatan Lembor. Sesampainya di Malawatar para pengunjung belok Kanan ke arah Selatan menuju Jembatan Alam.Dari arah Malawatar menuju wisata alam tersebut, pengunjung ditantang dengan kondisi jalan aspal yang tidak mulus lagi. Kondisi inilah yang menyebabkan kelamaan bagi para pengunjung tiba di lokasi wisata alam tersebut.
Pantai Repi memiliki panjang 1.13 km dan lebar 40 m. Pantai Repi ini masuk dalam 2 wilayah, yaitu wilayah kampung Watu Weri, dusun Golo Lados dan kampung Lengkong Lala, dusun Watu Wangka, kemudian 2 wilayah tersebut dipisahkan oleh jembatan yang bernama jembatan Wae Latung. Air lautnya sangat jernih walaupun memiliki ombak yang lumayan tinggi, namun pada waktu-waktu tertentu ombaknya kadang tenang sehingga aman untuk berenang. Pasir pantainya juga putih dan halus sehingga menjadi tempat ideal bagi para penyu untuk bertelur. Pengunjung yang datang kedua objek wisata ini merupakan warga lokal yang berasal dari dalam desa maupun desa sekitar pantai tersebut. Untuk pengunjung mancanegara yang datang ke tempat ini hanya sebagai tempat persinggahan sebelum maupun sesudah mengunjungi Wae Rebo karena jalur menuju pantai repi merupakan jalur menuju ke objek wisata Wae Rebo. Pantai Repi ini akan ramai dikunjungi oleh para wisatawan lokal pada akhir pekan, pada saat hari raya, dan juga saat tahun baru.
Setibanya di pesisir Pantai Repi, kita menemukan sebuah jembatan alam dari batu dan di sebelah jembatan alam tersebut terdapat sumber mata air yang bernama Wae Rongkek. Wae Rongkek merupakan satu satunya sumber mata air bagi warga setempat ketika rumah warga tidak teraliri air minum. Wae Rongkek yang dalam bahasa Indonesianya air yang disongket. Pengambilan air agak unik, yaitu menggunakan ember atau jirigen yang dinyangkutkan pada sebuah bambu yang kemudian dimasukan ke lubang air tersebut. Cara menimbanya agak berbeda dengan sumur galian yang menggunakan tali dan diikatkan pada ember atau jirigen. Dan satu-satunya akses masuk dan ke luar dari mata air melalui Jembatan Alam. Air minum berada di dalam celah batu yang berada di pesisir pantai Repi.