Liang Nggerang merupakan sebuah gua yang terletak di Pongkor Rana, Desa Ndoso, Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat. Liang artinya gua dan Nggerang artinya nama seorang gadis asal Ndoso.
Jarak Liang tak jauh dari kampung Ndoso, kurang lebih satu kilo meter dari kampung Ndoso. ini berada persis di atas batu yang tingginya mencapai 30 sampai 40 meter dari permukaan tanah. Untuk memanjat sampai di puncak gua tersebut, para pengunjung menyusuri sela sela batu yang sangat menguji adrenalin.
Struktur batu gua tersebut terpisah dari batu penyangga yang tinggi dan terjal tersebut.Gua ini merupakan tempat penyimpanan terakhir tiga buah Gendang loke Nggerang. Sebelumnya gendang Loke Nggerang disimpan di rumah Gendang Ndoso. Mori Todo didesak oleh Istri Raja Bima untuk menjual kulit Nggerang kepadanya. Karena didesak, Mori Todo pun berusaha untuk memindahkan Loke Nggerang ke tempat lain. Dia menggunakan ilmu sihirnya agar warga Ndoso mengalami wabah penyakit munta berak. Warga Ndoso ketahui kalau Mori Todo melakukan itu, maka warga Ndoso mencari perlindungan di sebuah gua yang berada di sekitar kampung Ndoso yang sekarang disebut Liang Nggerang, sekaligus mereka mengamankan gendang Loke Nggerang di gua batu yang ada di Lingko Pongkor Rana tersebut.
Beberapa bulan kemudian, orang Todo diperintahkan oleh Mori Todo untuk mengambil Loke Nggerang di tempat persembunyiannya dengan motif dagang. Sebagian orang datang ke kampung Ndoso untuk menjual barang dagangannya dan yang lain langsung ke Gua Nggerang untuk mengambil Loke Nggerang. (Fidelis Jehadin yang akrab disapa Delis, warga Ndodso keturunan Nggerang)
Dalam perjalanan pulang menuju kampung Todo, mereka membunyikan Loke Nggerang persisnya di kampung Wela perbatasan Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat saat ini. Bunyi “Sisik Loke Nggerang Tit-tit” kedengaran sampai di telinga warga kampung Ndoso. Mendengar bunyian ini mereka langsung cek keberadaan tiga gendang Loke Nggerang di Gua, ternyata orang Todo mengambilnya dan langsung melakukan pengejaran. Sampai di Langke Majok mereka mendapatkan rombongan orang Todo tersebut dan terjadi perkelahian yang sengit. Namun, dalam pertempuran ini orang Ndoso kalah karena mereka tidak mempersiapkan alat perang kope 'parang' dan korung 'lembing', namun tidak ada korban jiwa. Saat itu juga mereka berjanji melalui wada kepada orang Ndoso bahwa mereka tidak akan menginjakan kaki lagi di kampung Ndoso. Namun, dalam perjalanan waktu, warga Todo tidak ingat lagi dengan janjinya dan mereka menginjakan kaki di kampung Ndoso yang pada akhirnya mereka sakit bahkan berujung kematian.
Saat ini hubungan kawin-mengawin terjalin di antara kedua kampung yang memiliki nilai historis tersebut. Anak dari Raja Ngambut menikah dengan cucunya Dalu Ndoso, namun sebelumnya orang Todo harus membuat ritual khusus untuk mendamaikan kembali dengan para leluhur. Hewan kurban yang digunakan dalam acara ini, yaitu ayam putih dan kambing putih yang dibuat di rumah gendang Ndoso. Setelah melakukan ritual adat ini, hubungan keduanya sangat baik dan tidak mengalami masalah lagi baik sakit maupun masalah-masalah lainnya.