Sekitar 40 KM arah timur dari kota Labuan Bajo, tepatnya di Desa Cunca Wulang Kecamatan Mbeliling, sebuah air terjun menjatuhkan bulir-bulir air lalu membentuk sungai yang mengalir membelah batu-batu besar yang ujungnnya sampai di muara di wilayah selatan Kota Labuan Bajo.
Oleh orang setempat, air terjun ini diberi nama ‘Cunca Wulang’, dua kata dalam Bahasa Manggarai yang berarti cunca dan wulang. Cunca berarti air terjun, wulang berarti bulan. Dari cerita orang setempat, Cunca Wulang ditemukan pertama kali oleh orang Australia tahun 1992.
Kala itu ia ke Cunca Wulang bermodalkan sebuah peta. Ia menerobos hutan dan membuat jalan sendiri. Belum ada informasi terkonfirmasi, siapa sebenarnya orang Australia yang menemukan Cunca Wulang tahun 1992 itu. Namun tahun-tahun setelahnya, seorang tokoh kampung Wersawe bernama Yakobus Ban yang kala itu menjadi pejabat di Kabupaten Manggarai mulai mengenalkan Cunca Wulang ke banyak orang lainnya. Selama tahun-tahun itu, beberapa tamu kenalan Yakob Ban berkunjung ke Cunca Wulang dengan berjalan kaki dari Labuan Bajo, menyusuri sepanjang sungai hingga tiba di Cunca Wulang. Tahun 2009, pemerintah kabupaten Manggarai Barat mulai memperhatikan Cunca Wulang dan mulai mengenalkannya sebagai salah satu destinasi wisata Manggarai Barat.
Air sungai Cunca Wulang berasal dari beberapa mata air di Kecamatan Boleng dan Kecamatan Mbeliling sendiri. Air terjunnya dibentuk dari air sungai yang mengalir melewati bebatuan lalu jatuh di antara tebing batu setinggi sekitar 25 M. Tumpahan air terjun itu kemudian mengalir membentuk sungai yang mengalir di antara tebing batu selebar 2-3 M. Air yang mengalir di antara tebing batu ini membentuk pemandangan yang indah memesona dengan percikan air terjun yang tumpah di ujungnya. Formasi bebatuan dan tebing ini membuat air terjun ini sering juga disebut Cunca Wulang Canyon. Wisatawan biasanya memanjat dua sisi tebing yang setinggi 4-6 m dan berlompat ke bawah sungai.
Nama Cunca Wulang diambil merujuk pada fenomena cahaya dan air di kolam di atas tebing, tepat di kepala air terjun. Air yang tumpah dari celah-celah batu membentuk bayangan serupa bulan di atas kolam. Kolam yang dimaksud juga menjadi satu lokasi penting dalam legenda Cunca Wulang.
Cerita yang masih ada dalam ingatan orang setempat, dulunya Cunca Wulang dijaga oleh ‘roh’ penjaga alam. Roh ini menjaga hutan, sungai, dan air terjun Cunca Wulang. Setiap musim kemarau, sungai menjadi kering, kecuali satu bungki (kolam) yang berada di atas tebing air terjun Cunca Wulang saat ini. Kolam ini kecil namun sangat dalam. Sehingga setiap musim kemarau, ia bisa menyimpan air lebih lama. Saat itu, bagian lain dari wilayah Manggarai dilanda kekeringan panjang. Seorang leluhur kemudian memutuskan datang ke Cunca Wulang dan menemui roh penjaga. Ia sangat haus dan ingin meminum air Cunca Wulang. Ia meminta air kepada penjaga Cunca Wulang. Namun penjaga Cunca Wulang tak mau memberinya. Tak diizinkan untuk meminum air Cunca Wulang, sang leluhur tak kehilangan akal. Ia meminta izin kepada penjaga Cunca Wulang untuk mengukur kedalaman air di kolam kecil itu.
Kolam itu sangat dalam. Karena hanya untuk mengukur kedalaman air, Roh penjaga Cunca Wulang mengizinkannya. Sang leluhur pun mengambil sebatang ‘belang’, sejenis bambu kecil yang tumbuh di dekat kolam. Ia mengambil sebatang bambu yang panjang. Ia kemudian membuat lubang di tiap-tiap ruasnya. Lubang-lubang ini diharapkan bisa menampung air bila ia angkat bambu dari kolam.
Setelah mengambil bambu dan membuat lubang di tiap ruas-ruasnya, sang leluhur kemudian mulai melakukan pengukuran air di dalam kolam. Ia memasukkan bambu itu pelan- pelan hingga menyentuh bagian dasar kolam. Lalu dengan pelan-pelan, ia kemudian menarik bambu itu yang tiap-tiap lubang tiap ruasnya sudah dipenuhi air.
Setelah selesai melakukan pengukuran itu, ia pun pamit kepada Roh penjaga. Ia membawa serta bambu yang di dalamnya sudah memuat air. Roh penjaga tentu saja tak mengetahui hal itu.
Sang leluhur terus berjalan. Bila ia lelah, ia berhenti. Meminum air dari lubang di ruas bambu. Saat ia minum dan berhenti, air dari ruas bambu juga menetes ke tanah. Tiap-tiap tempat ia berhenti, air dari ruas bambu juga menetes ke tanah. Tak lama kemudian, bekas tetesan air bambu ini membentuk mata air. Beberapa mata air itu menyebar di wilayah sekitaran punggung pegunungan Mbeliling hingga sampai ke Lembor..
Hingga kini, kolam tempat sang leluhur megambil air di Cunca Wulang masih ada dan bisa dilihat. Juga serumpun bambu yang menjadi alat ukur air dan tempat menampung air yang ia bawa juga masih bisa dilihat di atas tebing dekat kolam, persis di samping air terjun. Mata air- mata air yang terbentuk dari hasil tetesan air bambu sang leluhur kini dipercaya menjadi mata air untuk beberapa sungai di pegunungan Mbeliling seperti Wae Mene, Wae Wentik, Wae Rawas, dan Wae Tere di Lembor.
Ada sensasi yang berbeda ketika kita menghabiskan waktu berada di aliran sungai yang deras sambil menikmati dentuman air terjun yang jatuh di permukaan sungai. Sedikit mengalami hal yang berbeda dari menikmati terjangan gelombang pada saat mandi di pantai. Air terjun Cunca Wulang berada di ketinggian dengan udara sejuk. Apalagi jembatan layang telah dibangun di air terjun tersebut menambah terpukaunya air terjun tersebut. Dalam kondisi normal, jembatan itu menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan selain air terjun.
Di tempat ini setiap tahun diadakan ritual adat barong wae (bahasa local). Warga masyarakat Kampung Warsawe dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bersama-sama melakukan ritual sakral tersebut. Tempat-tempat yang dilakukan ritual di antaranya di mbaru gendang (rumah adat), compang (tempat sesajian kepada leluhur), sumber mata air dan Cunca Wulang. Hewan sembeliannya pada acara ritual tersebut adalah babi hitam. Pelaksanaan ritual adat barong wae bertujuan untuk meminta hujan, menjaga penghuni dan pengunjung yang datang ke Cunca Wulang. Ritual barong wae dilaksanakan sekali dalam setahun.
Lengenda Cunca Wulang Versi 2
Pada zaman dahulu kala di suatu daerah hiduplah sekelompok orang, yaitu Empo Nganta dan kawan-kawannya. Pada suatu hari Empo Nganta dan kawan-kawannya berburuh ke sebuah hutan. Selama berburuh berlangsung, Empo Nganta dan kawan-kawan melihat seekor rusa dan merekapun mengejar rusa tersebut. Pada saat mengejarnya, rusa tersebut berlari begitu cepat dan akhirnya rusa tersebut jatuh ke Cunca Wulang. Ketika itu, Empo Nganta dan kawan-kawannya berunding untuk mengambil rusa dengan menggunakan dua utas tali. Tali digunakan untuk mengangkat rusa dari dalam Cunca Wulang dan untuk mengikat rusa. Ketika tiba di Cunca Wulang, Empo Nganta dan Kawan-kawannya mengikat rusa tersebut. Setelah itu, dalam perjalanan mereka pulang, Empo Nganta melihat Gua dan Gua tersebut terlihat bulan yang sedang bersinar. Empo Nganta kembali ke darat, lalu ia bercerita dengan kawan-kawannya tentang apa yang dilihatnya di Cunca Wulang tersebut. Setelah ia bercerita, Empo Nganta dan kawan-kawannya berunding dan bersepakat menamakan air terjun itu adalah Cunca Wulang.
Sejarah Kampung Warasawe
Kampung Wontong Alo salah satu tempat yang pernah didatangi oleh 3 (tiga) suku, yaitu suku Bambor, suku Senge, dan suku Wontong. Sesampainya di kampung Wontong Alo, mereka membuka kebun baru dan menemukan satu pohon bayam besar sejenis kayu. Pada saat itu, wilayah kempo masih di bawah kekuasaan Kesultanan Bima. Mereka menamakan pohon itu Wara Sawe. Dalam bahasa Bima, Wara artinya ada dan Sawe artinya Bayam. Jadi, Warasawe artinya Ada Bayam. Sehinga Kampung Wontong Alo tersebut diganti dan diberi nama Kampun Warsawe.