Danau Sano Limbung terletak di tengah hutan sekitar Kampung Ngaet, Desa Golo Lujang Kecamatan Boleng, yang memiliki luas 11.944 meter. Pengunjung yang ingin melihat dari dekat danau tersebut harus berjalan kaki sejauh 58 meter dari jalan umum trans Boleng-Pacar.
Dalam perjalanan menuju danau Sano Limbung bisa mampir di Wae Bobok untuk menikmati makanan tradisional Manggarai, dan bisa mengunjungi Situs Batu Balok peninggalan zaman prasejarah di Kampung Tureng Desa Mbuit, dan Batu Balok di Kampung Woko. Di danau Sano Limbung juga tersedia kuliner tradisional yang disiapkan oleh masyarakat lokal.
Selain menikmati pesona danau, pengunjung juga dapat melihat compang (tugu) yang tak jauh dari Danau Sano Limbung. Tugu berusia ratusan tahun ini dibuat dari batu oleh warga setempat. Daerah ini sangat sejuk karena danau ini dikelilingi oleh hutan lindung yang sangat lebat. Kita dapat melepas lelah ditempat yang sangat indah ini. Pengunjung juga dapat menyaksikan puluhan monyet yang berada di seputar danau. Menurut cerita, danau ini pada mulanya adalah sebuah perkampungan bernama Lada. Kampung ini kemudian tenggelam karena kutukan alam akibat adanya perkawinaan sedarah yang dilakukan oleh warga kampung tersebut. Pada waktu tertentu mereka dapat mendengar suara musik gong dan gendang yang berasal dari danau tersebut. Sampai saat ini warga kampung Ngaet menyakini cerita itu. Itulah sebabnya dilakukan ritual adat di sekitar danau tersebut.
Legenda Danau Sano Limbung
Dahulu kala, Sano Limbung merupakan sebuah kampung, yaitu kampung Lada. Konon ceritanya bahwa kampung Lada ini dihuni oleh leluhur mereka, yaitu Nenek Lujang dan istrinya serta tiga orang anaknya, yaitu Ndabar, Ngaet, dan seorang anak perempuannya. Anak perempuan ini tidak diketahui namanya. Dalam sejarah, Ndabar memiliki anak delapan orang. Keturunan Ndabar berkembang menjadi banyak keturunan. Di antara mereka tidak saling mengenal karena jarak kampung berjauhan satu dengan yang lainnya. Itulah sebabnya mereka tidak saling mengenal.
Akibat dari tidak saling mengenal, terjadilah hubungan yang tidak terlarang. Di antara mereja saling mencintai, yaitu kakak beradik jatuh cinta. Dalam istilah bahasa Manggarai adalah Hang toe tanda, inung toe nipu yang artinya terjadi hubungan seperti suami istri antara adik dan kakak kandung (Weta-Nara). Sebagai akibat dari perbuatan mereka berdua, terjadilah bencana besar di mana satu kampung tersebut menjadi runtuh atau reno dalam bahasa lokal dan kampung mereka berubah menjadi sebuah danau. Keturunan Ndabar yang menghuni kampung tersebut tengelam dalam danau tersebut. Satu keturunan mereka dinamakan Sano Limbung artinya satu danau ini di dalamnya satu keturunan (Sa empo, sa limbung). Menurut mereka keturunan ini hanya satu yang tersisa kebetulan ia tinggal di kampung istrinya di Rangkang desa golo Lujang. Orang kampung menyebutnya Empo Lodos. Menurut kepercayaan masyarakat setempat danau ini tidak akan pernah kering dan para pengunjung dilarang mandi.