Kota Labuan Bajo
Labuan Bajo terdiri dari banyak suku dengan adat istiadat, Bahasa, dan agama yang berbeda-beda. Suku-suku yang merupakan penduduk asli menganut agama katolik dan Islam. Selain itu, ada juga para pendatang yang sudah menetap di Labuan Lajo, seperti suku Bajoe, Bonerate, Butung, dan Selayar. Mereka hidup berdampingan membaur secara damai dan akrab sebagai saudara dalam semangat kebersamaan dan kekeluargaan.
Labuan Bajo alamnya indah dan kekayaan lautnya juga melimpah menjadi kawasaan strategi dan menjadi incaran pendatang, seperi Bima, Larantuka, Bonerate, Makasar dan lain-lain. Mereka datang mencari nafkah mengadu nasib menyambung hidup dengan menyelam mencari kerang mutiara selain menangkap ikan. Kehadiran para pendatang umumnya diterima baik oleh penduduk asli Labuan Bajo.
Beberapa tahun belakangan, kota kecil di wilayah paling barat Pulau Flores ini semakin populer. Mendengar kata Labuan Bajo akan berkelabat bayangan binatang Komodo (Varanus Komodoensis), pulau-pulau yang cantik, pantai-pantai berpasir putih dan pink, dan alam bawah laut yang memesona. Labuan Bajo telah menjadi destinasi wisata populer dan unggulan, bukan hanya nasional namun internasional. Sesungguhnya, Labuan Bajo adalah kota yang menjadi pintu masuk untuk mengakses Taman Nasional Komodo, tempat dimana pulau-pulau yang cantik itu berada. Selain pesona Komodo, pantai berpasir putih dan pink, dan alam bawah laut, Labuan Bajo juga memiliki beberapa destinasi di daratan yang tak kalah memesona dengan narasi budaya dan sejarah yang menarik.
Sumber: BPOLBF
Komodo yang dikenal dengan nama ilmiah Varanus komodoensis adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Oleh penduduk setempat, komodo kerap disebut Ora.
Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup. Komodo ditemukan pada 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang.
Habitat komodo di alam bebas telah menyusut dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional didirikan untuk melindungi mereka.
Sebenarnya daya tarik Taman Nasional Komodo tidak semata-mata oleh kehadiran Komodo belaka. Seperti yang saya kutip dari situs resmi Kementerian Kehutanan yang mengelola situs Taman Nasional Komodo ini, panorama savana dan pemandangan bawah laut merupakan daya tarik pendukung yang potensial. Wisata bahari misalnya, memancing, snorkeling, diving, kano, bersampan.
Sedangkan di daratan, potensi wisata alam yang bisa dilakukan adalah pengamatan satwa, hiking, dan camping. Mengunjungi Taman Nasional Komodo dan menikmati pemandangan alam yang sangat menawan merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.
Keberadaan Komodo di Pulau komodo ditemukan sekitar tahun 1911 oleh seorang belanda. Saat itu dia tidak sengaja melakukan perburuan di Pulau ini, lalu bertemu dengan komodo dan kemudian mendokumentasikan dalam bentuk foto.
Hasil foto tersebut di publikasikan di museum zoologi Bogor, dan pada tahun 1912 dokumentasi itu dipublikasikan secara luas hingga ke luar negeri. Tak lama berita tentang keberadaan biawak raksasa ini tersebar ke suluruh penjuru dunia.
Dari situ banyak ilmuan dari seluruh penjuru dunia datang untuk melakukan penelitian ilmiah, berikut ini rekam jejak yang kami kutip dari Loh Liang (Taman Nasional Komodo) tentang eksistensi komodo di pulau ini.
· 1911 Penemuan Komodo oleh J.K.H Van Steyn
· 1912 Pemberian nama ilmiah Varanus Komodoensis oleh P.A. Owens
· 1912 SK. Sultan Bima tentang perlindungan Komodo
· 1926 SK. Pemda Manggarai perlindungan Komodo
· 1930 SK. Residen Flores perlindungan Komodo
· 1931 Komodo Tercantum dalam daftar satwa yang mutlak dilindungi dalam UU Perlindungan binatang liar
· 1938 Pembentukan Suaka Marga Satwa P. Rinca dan P.Padar
· 1965 Pembentukan Suaka Marga Satwa Pulau Komodo
· 1977 Pulau Komodo kawasannya ditetapkan sebagai sebagai cagar budaya alam (cagar biosfer) di Indonesia
· 1980 Pembentukan Taman Nasional Komodo
· 1991 Penunjukan sebagai Warisan alam dunia oleh UNESCO
· 1992 Komodo sebagai satwa nasional kepres No.4 Tahun 1992
· 2013 Taman Nasional Komodo menjadi salah satu dari 7 keajaiban alam dunia
Tak hanya sejarah ilmiah saja yang tercatat di Loh Liang, terdapat juga cerita rakyat atau legenda tentang keberadaan komodo di pulau tersebut. Kisah ini bahkan anda bisa baca saat mengunjungi Loh Liang, ada sebuah banner yang menceritakan tentang asal muasal komodo.
Taman Nasional Komodo (TNK) adalah salah satu dari 54 Taman Nasional yang ada di Indonesia, satu dari enam situs warisan dunia (UNESCO world heritage site) di Indonesia, satu dari sembilan taman bagian dari jaringan cagar biosfer dunia (Man and Biosphere Reserve), dan satu dari tujuh keajaiban dunia kategori alam (new seven wonders of nature).
Taman Nasional Komodo terletak di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur persis di antara Pulau Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB). Wilayahnya mencakupi 3 pulau utama yaitu
Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar, dan banyak pulau-pulau kecil lainnya yang jika dijumlahkan memiliki luas 603 km² dari total luas Taman Nasional Komodo 1.817 km².
Taman Nasional Komodo merupakan habitat asli binatang Komodo (Varanus Komodoensis). Di kawasan ini, binatang Komodo tersebar di empat pulau yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, Nusa Kode (Gili Dasami), dan Gili Motang. Selain binatang Komodo, taman nasional ini juga memiliki kekayaan Flora dan Fauna yang luar biasa. Ia menjadi rumah bagi 277 spesies hewan yang merupakan perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia. Ada 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptilia. Bersama dengan Komodo, setidaknya 25 spesies hewan darat dan burung termasuk hewan yang dilindungi, karena jumlahnya yang terbatas atau terbatasnya penyebaran mereka. Selain itu, kawasan ini memiliki kekayaan alam bawah laut yang luar biasa. Setidaknya terdapat 253 spesies karang pembentuk terumbu dan ada sekitar 1.000 spesies ikan.
Memiliki kekayaan Flora dan Fauna yang luar biasa, Taman Nasional Komodo menjadi laboratorim tempat berbagai kegiatan pendidikan dan penelitian dilakukan. Selain itu, dengan pengaturan wilayah kawasan berbasis zonasi, Taman Nasional Komodo membuka aktivitas wisata terbatas. Di seluruh kawasan Taman Nasional Komodo terdapat lebih dari 40 situs selam (dive site), puluhan tempat snorkeling (snorkeling site), pulau-pulau dengan pemandangan yang indah dan pantai-pantai berpasir putih dan merah (pink beach).
Beberapa pulau dalam kawasan Taman Nasional Komodo memiliki pantai pink. Beberapa yang populer adalah Pantai Pink di Pulau Komodo dan Pantai Pink di Pulau Padar (long pink beach). Dua pantai pink ini menjadi lokasi wisata pantai favorit dengan atraksi utama warna merah dari pasir pantainya dan pemandangan bebukitan di sekitarnya.
Diceritakan pada zaman dahulu kala hiduplah seorang putri yang diberi nama Putri Naga yang hidup dan tinggal di sebuah pulau. Kemudian sang putri menikah dengan seorang pemuda dari seberang yang bernama Moja. Tak lama kemudian sang putri hamil dan melahirkan anak kembar 2 (dua) berjenis kelamin laki-laki. Namun kedua anak kembar tersebut mempunyai bentuk yang berbeda. Satu berbentuk manusia dan satu lagi berbentuk kadal. Hal ini membuat putri naga dan moja malu.
Kemudian bayi yang berbentuk kadal dan diberi nama ‘Orah’ tersebut diasingkan di sebuah hutan di pulau yang berbeda. Sedangkan bayi manusia diasuh dan diberi nama ‘Gerong’. Hari berlalu dan tahun demi tahun berganti Gerong bertumbuh menjadi seorang pemuda yang tangkas dan gagah berani. Di ceritakan suatu saat Gerong hendak berburu rusa disebuah hutan, dan dia bertemu dengan sebuah kadal raksasa. Gerong lantas mengejar kadal raksasa itu dan hendak membunuhnya dengan tombak. Tiba-tiba, si Putri Naga muncul dan mencegah Gerong menghunuskan tombaknya ke arah kadal raksasa tersebut.
Si Putri Naga memberitahu Gerong bahwa kadal raksasa itu adalah komodo yang merupakan saudara kembar Gerong. Selepas dari kejadian itu, masyarakat sekitar memperlakukan komodo itu dengan baik. Komodo hidup di hutan dengan berburu hewan lain seperti rusa, kambing atau babi hutan. Kadal raksasa itu pun hidup berdampingan dengan penduduk lokal yang hidup tinggal di Pulau Komodo sampai saat ini.
Komodo yang dikenal dengan nama ilmiah Varanus komodoensis adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Oleh penduduk setempat, komodo kerap disebut Ora. Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m.
Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena Komodo memiliki tubuh yang besar maka jenis reptil raksasa ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.
Sumber: BPOLBF