Lokasi Situs Compang Runa di Kampung Runa, Desa Sukakiong, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat. Kampung Runa merupakan Kampung yang terletak di wilayah Kecamatan Kuwus, Desa Suka Kiong, Kabupaten Manggarai Barat NTT.
Letaknya tidak jauh dari kota kecamatan dan diapiti oleh kedua kampung, yakni Suka dan Dahang. Kampung Runa sangat strategis berada persis di atas bukit bebatuan dan berada pada jajaran sebuah lereng dan Kali (Wae import) yang bermuara hingga Nangalili. Berdasarkan sejarah, penduduk pertama kampung Runa adalah berasal dari Minangkabau. Mereka datang sebagai sepasang suami istri dan tinggal di kampung Runa.
Situs ini merupakan situs batu peninggalan zaman prasejarah berbentuk seperti altar (meja persembahan) yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada para leluhur Kampung Runa. Pada batu tersebut ada tulisan tangan yang berupa gambar berbentuk lonjong yang belum diketahui maknanya. Pada bongkahan batu tampak tulisan berupa huruf R U N-K W dan angka-angka, serta gambar yang usianya diperkirakan ribuan tahun lamanya. Selain compang, adapula situs-situs lainnya, yaitu Rukuh Tadu,dan Liang Segha Dewa dan Batu Cermin.
Compang (Mesbah)
Compang adalah sebuah mesbah persembahan atau upacara persembahan adat kepada leluhur dan Runa adalah nama sebuah Kampung. Jadi, Compang Runa adalah compang yang berada di Kampung Runa. Di kampung Runa terdapat dua compang, yaitu compang Runa yang terletak di halaman mbaru Gendang (rumah Adat) dan compang yang satunya lagi terletak di samping pohon Beringin kurang lebih 30 meter dari Compang Runa. Tekstur batu pada compang Runa ukurannya besar-besar. Melihat ukuran batu tersebut tidak dapat angkat atau dipindahkan dengan menggunakan tenaga manusia, kecuali menggunakan ilmu khusus. Batu-batu tersebut diperkirakan usianya ribuan tahun. Selain itu, pada compang Runa terdaapat enam bongkahan batu yang teksturnya sangat unik dan memiliki ukuran yang bervariasi. Keenam batu tersebut menyimpan sejarah mistis.
Rukuh Tadu
Pada tempat ini terdapat dua bongkahan batu berukuran besar, yang mana pada kedua batu tersebut terdapat beberapa ukiran yang menyerupai simbol tertentu, yakni telapak kaki laki-laki, telapak kaki perempuan, jenis kelamin laki-laki, dan perempuan. Pada batu ini juga terdapat sejumlah ukiran gambar pedang, binatang, yakni, Kuda, Anjing, Ayam, dan rumah adat.
Liang Segha Dewa
Secara harafia, kata liang artinya gua, segha artinya sembunyi atau persembunyian, dan Dewa adalah Tuhan. Liang Segha Dewa adalah gua tempat untuk melakukan persembunyian para dewa. Batu ini berukuran panjang 2,86 m dan lebar 1,75 m. Di atas batu tersebut terdapat sebuah lukisan yang menyerupai gambar peta. Menurut cerita masyarakat setempat bahwa peta yang ada batu merupakan peta Negara India atau peta India.
Watu Cermin
Frase watu cermin terdiri atas dua kata, yaitu watu dan cermin. Watu artinya Batu. Cermin artinya Cermin. Jadi, Frase watu cermin adalah sebuah batu yang di permukaanya terdapat air yang menyerupai cermin. Bayangan muka pengunjung terlihat jelas pada watu cermin tersebut. Ketiggiannya sekitar 2 m. Pada bagian barat, batu terdapat gambar jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Gambar-gambar pada batu memiliki arti sejarah, yang sampai sampai saat ini selalu sebagai bahan cerita masyarakat. Konon pada zaman dahulu, ada seorang perempuan mudah yang mengalami patah hati karena ditinggal kekasih pujaan hatinya, yang bernama Sansong. Pada saat mengalami hal ini dia mendendangkan lagu divatas batu tersebut sambil berkaca pada bayangan air pada Watu Cermin sambil merembah rambut mendendang lagu “oe Sansong, Sansong ga , eme sa koe winam hau koe leng aku, oe Sansong , Sansong ga , eme hau koe winam telu koe leng aku , ai aku nuk keta hau. Yang artinya hai Sansong, hai Sansong kalau satu saja isterimu jangan duakan aku, kalau dua jangan jadikan aku yang ketiga, karena aku sangat mencintaimu “sambil mendendangkan lagu ini dia melukis jenis kelamin perempuan dan laki-laki, dan Sansong tak kunjung datang.
Mitos
Ada enam bongkahan batu di sekitar compang Runa yang bentuknya sangat unik. Pada saat tertentu salah satu batu di sekitar Compang Runa menghilang dan pada waktu tertentu muncul lagi. Terkait hilang munculnya batu-batu tersebut berkaitan erat dengan pristiwa kematian warga kampung Runa. Jika ada peristiwa kematian warga di kampung Runa, maka salah satu batu akan hilang dengan sendirinya.