Ritual topo bisu mubeng beteng ini merupakan salah satu tradisi Keraton Yogyakarta yang diagendakan pada setiap tahun baru hijriah atau 1 syuro’ (jawa). Sebab banyak sekali cerita di Jawa yang menggambarkan bahwa pemenuhan harapan tidak cukup hanya dengan bekerja dan bersembahyang, ada upaya lain yang harus mereka lakukan yaitu ritual topo bisu
Dalam hal ini topo bisu kata yang diambil dari bahasa jawa yang memiliki arti yaitu diam tanpa bicara, sehingga seseorang yang mengikuti ritual tersebut diam tanpa berbicara kecuali dzikir atau mengingat sang kholik, intropeksi diri, mencari keberkahan, dan lain sebagainya. Begitu pula kata mubeng beteng berasal dari bahasa jawa yang memiliki arti muser atau munjer (memusat) yang artinya mengelilingi pusat, dalam hal ini topo bisu mubeng beteng menjadi salah satu wisata religi Keraton Yogyakarta,
Ritual tersebut diikuti oleh lintas elemen, agama, kepercayaan, dan juga kelompok-kelompok yang berbeda-beda. Ritual topo bisu mubeng beteng ini dilakukan pada pukul 00.00 WIB, dengan berjalan kaki mengelilingi beteng dan tidak boleh berbicara. Peserta ritual topo bisu mubeng beteng tidak di batasi oleh usia dan tidak hanya dari daerah Keraton, akan tetapi dari berbagai daerah seperti Kulon Progo, Bantul, Sleman, Gunung Kidul ikut berpartisipasi dalam ritual tersebut. (https://digilib.uin-suka.ac.id/19530/)