Kawali merupakan warisan kebudayaan fisik dan juga merupakan produk kesenian berupa senjata tikam jarak pendek dengan bilah yang hanya memiliki satu sisi tajam dan ujung yang runcing. Kawali secara utuh memiliki tiga elemen pokok yaitu bilah, wanoa, dan pangulu. Masing-masing elemen tersebut memiliki bentuk dan makna tersendiri. Bilah merupakan elemen paling pokok karena di dalamnya terdapat motif pamor yang mengandung pesan atau makna simbolik yang dijadikan pedoman masyarakat pendukungnya dalam hal ini masyarakat Bugis.
Kawali merupakan wujud kebudayaan masyarakat Bugis. Setiap elemen-elemen kawali menggambarkan nilai-nilai kebudayaan Bugis. Pangulu menggambarkan kepemimpinan orang Bugis yang tegas. Wanoa dianggap sebagai wilayah tempat pemimpin mengatur masyarakatnya. Bilah merupakan bagian paling pokok karena di dalamnya terdapat pamor yang menggambarkan nilai-nilai falsafah orang Bugis. Pamor kawali menggambarkan nilai kehidupan yang ideal yaitu kekayaan (abbaramparangeng), kepemimpinan dan kemuliaan (arajangeng), keselamatan (asalamakeng), kelaki-lakian (arowanengeng), kerukunan dalam rumah tangga (alaibinengeng). Kelima poin utama tersebut merupakan faktor yang paling menentukan siri' (harga diri dan kehormatan) seseorang, karena bagi orang Bugis, siri' merupakan ideologi tertinggi yang dipegang teguh oleh semua etnis di Sulawesi Selatan khususnya Bugis. Sehingga mereka mengatakan "siri e mi riongroang lino", yang artinya "hanya karena siri' kita hidup di dunia." (https://doi.org/10.33153/glr.v15i1.2068)