Tradisi Sayyang Pattudu dan khatam al-Qur’an saling berkaitan erat. Tradisi Sayyang Pattudu dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada anak yang telah menyelesaikan bacaan al-Qur'an. Penghormatan tersebut diwujudkan melalui kegiatan menunggang kuda yang telah dilatih, diiringi bunyi rebana serta lantunan Kalindada, puisi tradisional Mandar dari Pakkalindada yang berisi pujian. Atraksi kuda menari, yang dikenal dengan sebutan Sayyang Pattudu, merupakan salah satu atraksi budaya unik dari suku Mandar, Sulawesi Barat.
Sebelum melaksanaan tradisi Sayyang Pattudu yang dirangkaikan dengan maulid Nabi SAW terlebih dahulu diadakan musyawarah di desa yang akan ditunjuk sebagai panitia pelaksana, setelah itu diadakan musyawarah dengan pihak keluarga yang anaknya telah khatam al-Qur’an serta ikut dalam arak- arakan Sayyang Pattudu.
Setiap pihak keluarga yang anaknya khatam al-Qur’an mendaftarkan anaknya kepada panitia pelaksana kegiatan yang dibentuk oleh pemerintah desa. Setelah itu bermusyawarah dengan panitia pelaksana mengenai proses pelaksanaan tradisi ini dan apa-apa yang harus disiapkan, serta kapan dan dimana pelaksanaan ini dilakukan. Pada saat musyawarah semua kalangan masyarkat menghadiri rapat tersebut juga dan para orang tua yang ingin mengikuti acara tersebut mendaftarkan anaknya kepada panitia yang telah dibentuk. Kemudian panitia menentukan apa sja yang harus dipersiapkan serta kapan dan di mana tradisi ini akan dilaksanakan. Selain itu, ditentukan siapa saja yang menghadiri acara tersebut baik sebagai peserta, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda maupun tokoh pemerhati budaya, serta mengundang bebarapa masyarakat yang membantu menyediakan perlengkapan pelaksanaan tradisi Sayyang Pattudu. (https://ojs.staialfurqan.ac.id/alqiyam/article/view/705)