Dalam upacara Rambu Solo tidak bisa dilepaskan dari ritual Ma’badong, karena badong merupakan bagian terpenting dalam upacara kematian bagi suku Toraja. Badong dilakukan saat jenazah akan dimakamkan, badong dilakukan di tanah lapang atau pelataran yang cukup luas, yaitu, ditengah-tengah lantang (pondok). Ma’Badong menjadi salah satu tempat untuk berkumpul bagi masyarakat Toraja untuk saling meningkatkan hubungan kekerabatan atau persaudaran yang menjadi penghubung antar mereka dalam upacara mbu Solo’.
Ma’Badong menjadi komponen yang penting dalam upacara kedukaan suku Toraja, dimana setiap gerakan, syair, sarat dengan simbol-simbol memiliki arti khusus bagi masyarakat suku Toraja yang memahami makna didalamnya. Badong terkesan mistis sehingga memunculkan rasa penasaran serta banyak pertanyaan yang muncul didalam benak masyarakat yang ikut serta ataupun hanya menyaksikan badong ini.
Tarian badong dilakukan dengan cara Pa’badong mengaitkan cari kelingking, membuat lingkaran, dengan menyentakan kaki dengan melantukan kadong badong, ma’badong dapat dilakukan oleh semua kalangan tua maupun muda dan laki-laki maupun perempuan. Pa’badong melantunkan syair (kodong badong) yang berisi puji-pujian kepada jenazah, riwayat hidup jenazah, serta lagu penghiburan bagi keluarga dari kesedihan. Ma’badong biasanya dilakukan semalam suntuk dan dalam waktu lama. (http://repositori.uin-alauddin.ac.id/id/eprint/18832)