Salah satu jenis kesenian tradisional dalam masyarakat Indonesia adalah Ludruk yang berasal dari Jawa Timur. Ludruk merupakan pertunjukan teater tradisional yang dikemas secara humoris untuk mengekspresikan dan mengungkapkan kritik sosial. Berawal dari hiburan jalanan dengantampilan sederhana, ludruk dapat berubah menjadi teater rakyat yang memiliki pakem kompleks dan terstruktur.
Humor dalam kesenian Ludruk dikontruksikan dalam percakapan yang cenderung menggunakan bentuk hinaan yang mengarah pada pada diri sendiri maupun orang lain dengan melontarkan kesombongan dan pujian yang berlebihan untuk menciptakan kondisi yang memancing tawa. Di era 80-an atau masa-masa sebelumnya, seni ludruk benar-benar “hidup” dan dapat menghidupi para pelaku seninya. Antusiasme dan apresiasi masyarakat terhadap seni ludruk pun dapat dibilang sangat apresiatif. Pertunjukan ludruk tampak sering terlihat digelar di hajatan rumah tangga, acara pertunjukan khusus, maupun acara yang digelar oleh instansi pemerintahan. Di TVRI pun ludruk juga tergolong menjadi acara primadona yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh masyarakat.
Ludruk juga dapat diartikan sebagai simbol transisi masyarakat dari tradisional ke masyarakat modern. Melalui seni Ludruk tradisional, masyarakat kecil dan tingkat bawah memasuki era modernisasi seni. Kesenian Ludruk memiliki pakem dalam penampilannya, di mana penampilan dimulai dari Tarian Remo, Tarian Bedhayan, Kidungan Jula-Juli dan Parikan, Dagelan, dan Lakon. (https://doi.org/10.20473/bk.v11i2.40352)