Seni menato tubuh merupakan tradisi yang ada di kepulauan Mentawai dan dikenal dengan sebutan titi. Alat yang digunakan oleh penato berbahan sangat sederhana yaitu dengan duri sebagai alat untuk memasukkan tinta ke dalam tubuh, arang batok kelapa sebagai zat pewarna hitam dan air tebu. Sebelum proses penatoan dimulai biasanya diselenggarakan sebuah pesta kecil yang disebut ulia sebagai bentuk penghormatan kepada roh leluhur agar diberikan kelancaran ketika sedang menjalani proses menato.
Sarepak abak merupakan salah satu pilihan motif untuk membuat sebuah tato pertama kali karena bagi mereka keseimbangan dengan para roh dan alam salah satu hal penting untuk kelangsungan hidup. Motif sarepak abak merupakan penegasan atas keseimbangan manusia, alam dan roh kepercayaan lokal Arat Sabulungan. Kepercayaan lokal penduduk tradisional Mentawai disebut Arat Sabulungan Kepercayaan ini memiliki tiga roh dewa pujaan yaitu roh laut (Tai Kabagat-Kaot), roh hutan dan pegunungan (Tai Ka-Leileu), dan roh awing-awang (Tai Ka-Manua). Kepercayaan ini menganggap bahwa setiap benda-benda memiliki arwah yang harus dirawat, jika tidak maka roh tersebut akan membawa nasib sial bahkan kematian. (https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.20311)