Ritual Bakar Batu yang dilakukan oleh masyarakat Papua merupakan sebuah tradisi yang diturunkan dari para leluhur. Ritual ini diadakan karena mampu membangun satu kekuatan jiwa secara bersama-sama untuk menghadirkan kekuatan supranatural. Ritual bakar batu juga bertujuan untuk membagikan makanan kepada orang-orang yang belum mempunyai makanan, seperti ubi, jagung, dan sayur-sayur seperti yang ada di dalam ritual bakar batu. Makanan-makanan tersebut dapat dimakan bersama-sama setelah ritual ini berakhir.
Tradisi Ritual Bakar Batu secara harfiah berarti memasak dengan cara membakar batu terlebih dahulu, kemudian membuat lubang (kolam) kecil, lalu batu panas dimasukkan ke dalam lubang, disusun sedemikian rupa dengan daging babi, umbi-umbian dan daun-daunan yang dilengkapi dengan sayur. Sedangkan makna umumnya adalah ritual memasak tradisional yang merupakan dari rentetan adat-istiadat di pegunungan Papua.
Tahap persiapan dalam tradisi Bakar Batu diawali dengan pencarian kayu bakar dan batu yang disusun bertingkat, lalu dipanaskan selama 1–2 jam. Kaum pria menyiapkan tumpukan batu dan sekaligus menyembelih babi dengan cara dipanah di jantung, yang dipercaya sebagai tanda ketulusan hati pemilik acara. Sementara itu, kaum wanita menyiapkan bahan makanan seperti ubi, jagung, sayuran, dan bumbu sambil bernyanyi dan menari. Pada tahap memasak, babi dibersihkan lalu dimasukkan bersama sayuran, umbi, ayam, serta bumbu ke dalam lubang berlapis batu panas, daun pisang, dan tanah. Proses memasak ini berlangsung sekitar 2 jam sambil diiringi doa dan sambutan tokoh adat maupun tokoh masyarakat.
Tahap akhir adalah makan bersama sebagai puncak acara. Saat makanan matang, batu dan daun pisang dibongkar, lalu daging dan sayuran dibagikan ke tiap kelompok. Kepala suku memotong daging babi, sementara ibu-ibu membagikan makanan ke dalam noken untuk tamu. Sebelum makan, doa dipimpin oleh kepala suku atau tokoh agama. Semua orang wajib menikmati hidangan di tempat, duduk berkelompok sesuai paguyuban, dan siapa pun yang hadir boleh ikut bagian dalam pesta ini. Tradisi bakar batu di Kalome hingga kini tetap dijalankan secara terbuka sebagai warisan turun-temurun. (https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/holistik/article/view/41562)