Tarian Caci adalah budaya tari tradisional di Manggarai yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun sehingga menjadi ciri khas budaya manggarai. Tarian Caci adalah salah suatu pertunjukan yang diperankan oleh dua orang laki-laki. Tarian ini bersifat uji ketangkasan menggunakan cambuk sebagai pelaku perang (Atambaut) dan perisai sebagai pelaku bertahan (Ata tada) secara bergantian. Peran utama dalam tarian caci hanya diperankan oleh dua orang laki laki, yaitu pelaku penyerang menggunakan cambuk sedangkan pelaku bertahan menggunakan perisai tetapi peran dua gerakan tersebut selalu dilakukan secara bergantian.
Menjadi seorang penari caci bukan hanya menunjukan kekuatan dan kegagahan melainkan bagaimana seorang penari caci melontarkan suara mengekspresikan gerakan tari caci sesuai dengan iringan sorakan (Dere). Pada tarian caci ada dua peran yaitu peran sebagai pemukul (Paki) dan penangkis (Ta’ang). Masing-masing peran menggunakan alat pendukung untuk memukul dan menangkis lawan yaitu cambuk (Lempa) adalah alat yang dipakai oleh pemukul untuk menyerang lawan, terbuat dari lapisan kulit kerbau yang sudah dikeringkan dan alat pendukung untuk menangkis serangan dari lawan tari disebut perisai (Toda) yang terbuat dari lapisan kulit kerbau yang telah dikeringkan serta busur (Tereng/agang) dan rotan (Koret) yang terbuat dari bambu.
Tarian Caci dipertunjukan di lapangan luas dan bisa ditonton oleh puluhan orang mulai dari orang tua hingga ke anak-anak. Tarian Caci mengandung makna kegagahan dan keperkasaan bagi pria Manggarai. (https://doi.org/10.59024/simpati.v1i1.59)