Ritual Mappacci merupakan salah satu tradisi adat paling sakral dalam masyarakat Bugis-Makassar yang dilaksanakan menjelang akad nikah. Mappacci sendiri berasal dari kata "pacci" yang berarti daun pacar (lawsonia inermis), digunakan untuk melambangkan pembersihan dan penyucian diri. Secara simbolis Mappacci merepresentasikan pensucian diri, khususnya hati calon pengantin, dalam menyongsong kehidupan baru sebagai pasangan suami istri. Tradisi ini juga menandai peralihan dari masa lajang menuju kehidupan berumah tangga dan dilaksanakan pada malam yang sarat dengan doa serta restu dari keluarga.
Prosesi ritual adat Mappacci pada masyarakat Bugis dimulai dengan calon pengantin yang duduk di Lamming, tempat khusus prosesi berlangsung dari awal hingga akhir. Setelah itu, dilakukan pembacaan Al-Barzanji yang dipimpin tokoh masyarakat dan diikuti para tamu undangan. Pembacaan ini berupa lantunan shalawat Nabi Muhammad SAW dengan suara keras dan meriah, sebagai tanda dimulainya prosesi Mappacci.
Puncak ritual adalah pemasangan daun pacci ke tangan calon pengantin. Daun pacci yang telah dihaluskan dioleskan oleh tokoh masyarakat secara bergiliran di atas tangan pengantin yang ditopang kain sutra tujuh lapis, lalu ditaburi beras (wenno). Setelah itu dipanjatkan doa bersama, diakhiri dengan penyajian kue tradisional dan makan bersama, serta saling bersalaman sebagai simbol mempererat silaturahmi. Ritual ini bermakna penyucian dan pembersihan calon pengantin sebelum memasuki kehidupan baru. (https://doi.org/10.59435/menulis.v1i5.237) (https://doi.org/10.31316/jk.v6i2.3145)