Proses pembuatan pakaian adat Tolaki, khususnya yang terbuat dari kulit kayu (kinawo), merupakan warisan budaya yang panjang dan penuh makna. Meskipun saat ini lebih banyak menggunakan kain tenun, proses tradisional ini masih menjadi bagian penting dalam memahami sejarah dan nilai-nilai yang terkandung dalam pakaian adat Tolaki. Pakaian adat Tolaki yang dikenal sebagai Babu Nggawi untuk perempuan dan Babu Nggawi Langgai untuk laki-laki, memiliki proses pembuatan yang tradisional dan memerlukan keterampilan khusus. Pada awalnya, pakaian adat Tolaki dibuat dari kulit kayu yang dikenal sebagai Kinawo. Namun, seiring perkembangan zaman, bahan yang digunakan untuk pakaian adat Tolaki kini lebih beragam, termasuk kain tenun tradisional.
Sejarah pakaian adat Tolaki berakar dari kepercayaan dan cara hidup masyarakatnya, yang menghormati hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Pakaian adat ini awalnya digunakan dalam upacara adat, ritual keagamaan, dan acara penting seperti pernikahan dan penobatan pemimpin suku. Pada masa lalu, pakaian adat Tolaki juga berfungsi sebagai simbol status sosial. Orang-orang dengan status tinggi, seperti bangsawan dan pemimpin adat, biasanya memiliki pakaian dengan hiasan yang lebih kaya, seperti benang emas atau motif khas. Pakaian ini mencerminkan posisi mereka dalam masyarakat dan memberikan penghormatan kepada leluhur mereka.
Corak ragam hias pada pakaian adat masyarakat Tolaki yang motifnya menggambarkan beberapa motif-motif tumbuhan flora, dan motif binatang dan religi. Pada pakaian atau pakea di kalangan bangsawan Tolaki pada masa lalu terdapat ragam hias pinati-pati pada pakaian tradisional. Hiasan yang menstilir tumbuh-tumbuhan amat banyak dipergunakan. Motif tumbuh-tumbuhan hampir mendominasi setiap bentuk yang dibuat. (https://www.researchgate.net/publication/392551066_Pakaian_Adat_Tolaki_Warisan_Budaya_di_Tengah_Dinamika_Modernisasi)