Dalam hal berkesenian, masyarakat Betawi mempunyai sebuah musik tradisional yang dinamakan Gambang Kromong. Musik Gambang Kromong yang sudah dikenal pada tahun 1880 pada waktu Bek Teng Tjoe (seorang kepala kampung atau wilayah pada saat itu) menyajikan musik tersebut untuk sebuah sajian penyambutan para tamunya. Ensambel musik ini berkembang di kalangan masyarakat Cina Benteng. Hal itu dikarenakan masyarakat tersebut dalam hal kehidupannya (segi materi) dapat terpenuhi, sehingga untuk mengadakan perjamuan tamu kerap kali mengadakan suatu sajian musik Gambang Kromong.
Musik Gambang Kromong yang berada dalam masyarakat Betawi merupakan perpaduan antara beberapa kebudayaan yang saling mengadakan interaksi (akulturasi). Hal ini dapat terlihat dari beberapa instrumen yang digunakan dalam ensambel tersebut, misalnya: instrumen gesek dan tiup dari Cina, instrumen gendang dari Sunda, dan instrumen gambang, kromong, kempul, kecrek, serta gong dari Jawa.
Musik Gambang Kromong yang merupakan sebuah ensambel musik yang terdiri dari gambang, kromong, kongahyan, tehyan, sukong, ningnong, jutao, kecrek, suling/basing, gendang (satu buah gendang besar dan dua buah kulanter), kempul, dan gong masih dipergunakan oleh masyarakat Betawi dalam perayaan pesta, mengiringi teater Lenong, dan penyemarakan upacara ritual. Orang Betawi peranakan/Cina Benteng (penyebutan untuk hasil perkawinan antara orang Betawi dan Cina) dalam perayaan acara pernikahan masih mempergunakan musik Gambang Kromong sebagai sajian penyemarak upacara ritual. (https://doi.org/10.24821/selonding.v1i1.7)