Leva Nuang di Lamalera, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur merupakan kearifan lokal yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Mei hingga Oktober, yang diawali dengan berbagai macam ritual adat. Leva nuang adalah musim melaut atau musim menangkap ikan paus secara tradisonal yang telah diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. Masyarakat lokal meyakini bahwa ikan paus yang akan ditangkap dengan cara ditombak atau ditikam pada tubuhnya adalah kiriman dari leluhur mereka. Hal ini disebabkan karena di Lamalera, banyak penduduknya yang memegang keyakinan animisme, yaitu percaya pada keberadaan roh-roh.
Tradisi Leva Nuang di Lamalera memiliki rangkaian ritual yang sarat nilai budaya. Pertama, ile gerek yaitu upacara memanggil paus di batu paus sebagai bentuk syukur dan doa agar diberi rezeki melimpah, mencerminkan nilai spiritual. Kedua, tobu nama fata, yakni musyawarah penyelesaian masalah antar suku dan tuan tanah sebelum berburu paus, yang mengandung nilai perdamaian, kebersamaan, dan demokrasi. Ketiga, misa arwah, berupa ibadat, tabur bunga, dan pemasangan lilin di laut untuk mengenang leluhur yang gugur dalam perburuan paus, sarat nilai religi dan penghormatan. Keempat, misa leva, yaitu doa di tepi pantai untuk memberkati laut dan perahu, melambangkan spiritualitas masyarakat.
Selain ritual, Leva Nuang juga mencerminkan kerja sama gender dalam kehidupan sehari-hari. Kaum laki-laki bertugas berburu paus, sementara perempuan berperan dalam barter hasil tangkapan dengan ubi, pisang, sayur, dan hasil perkebunan. Proses barter ini dilakukan baik dari rumah ke rumah dalam suasana kekeluargaan maupun di pasar tradisional melalui sistem tukar-menukar. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah gotong royong, kekeluargaan, dan kerja keras yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Lamalera. (https://doi.org/10.37329/cetta.v6i4.2583)