Upacara Metatah sendiri merupakan upacara peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa. Metatah berasal dari kata “tatah” yaitu dalam bahasa Bali berarti pahat. Metatah mengandung makna yang dalam bagi kehidupan, yaitu: pergantian perilaku untuk menjadi manusia sejati yang dapat mengendalikan diri dari hawa nafsu, memenuhi kewajiban orang tuanya terhadap anaknya untuk menemukan hakikat manusia yang sejati dan untuk dapat bertemu kembali di surga antara anak dan orang tuanya yang telah meninggal.
Dalam ritual Metatah (potong gigi) masyarakat Bali, sebelum inti prosesi dimulai, terdapat rangkaian simbolik penting yang harus dilaksanakan. Misalnya sungkem kepada orang tua untuk memohon restu, naik ke Bale Penatahan, hingga penggunaan tebu dan kelapa gading dalam prosesi potong gigi sebagai perlambang pembuangan sifat buruk (sad ripu). Tahap inti Metatah dilakukan dengan mengikir enam gigi atas (empat seri dan dua taring) yang dilanjutkan dengan srawad (menghaluskan bekas kikiran), pengurip gigi (mengoles kunyit, kapur, madu), dan pembuangan ludah ke sungai sebagai simbol pembersihan diri. Setelah itu, anak dianggap telah dewasa dengan tanggung jawab baru yang digambarkan lewat simbol lesung dan alu. Prosesi ditutup dengan nasihat orang tua, persembahyangan, upacara mepetik (memotong rambut), dan pewintenan yang bermakna agar sang anak senantiasa berperilaku baik dalam kehidupannya.
Jadi dapat disimpulkan metatah adalah tradisi pengikisan gigi dalam agama Hindu. Dua buah gigi taring dan empat buah gigi taring dan empat buah gigi seri. Hal ini bermakna simbolis yaitu menurunkan sifat sad ripu yang ada di dalam diri manusia. (http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/11815).