Karapan sapi merupakan sebuah tradisi balap sapi yang populer di Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Karapan sapi lahir dari tradisi petani sebagai ungkapan rasa syukur adanya peristiwa musim hujan, musim tanam serta musim panen padi. Selain itu karapan sapi diadakan sebagai makna kekariban yang memiliki arti bahwa masyarakat Madura menjaga persahabatan yang erat. Lambat laun, karapan tersebut dijadikan sebagai ajang lomba balap sapi yang mampu bertahan hingga saat ini. Menjaga kelestarian budaya karapan sapi, masyarakat dan pemerintahan setempat bersinergi untuk menjadikan budaya tersebut sebagai ajang perlombaan, penyambutan serta pariwisata yang dikemas dalam festival budaya di Bangkalan.
Perayaan festival karapan sapi dimulai dengan iringan musik saronen, tarian musik gamelan khas Madura. Musik saronen ditampilkan untuk mengarak sapi-sapi masuk ke dalam arena pertandingan. Sapi-sapi yang ditampilkan mengenakan hiasan dengan aksesoris yang berwarna semenarik mungkin. Sesuai aturan, aksesoris dilepas kecuali hiasan kepala (obet) sebagai tanda kegagahan sapi-sapi tersebut. Setelah melepaskan aksesoris, kaleles dipasangkan kepada sepasang sapi untuk dinaiki para pengarah (joki) dalam pertandingan atraksi karapan sapi. Atraksi karapan sapi tersebut dimulai dengan arahan para joki, terlihat kalales melambung dengan kelihaian para joki untuk mengendalikan sepasang sapi yang lari dengan lincah. Pada puncak pertandingan, suara wisatawan bersorak meneriaki meriahnya pertandingan yang telah berlangsung dengan melihat sapi mana yang menjadi juara. (https://doi.org/10.30647/jip.v29i2.1767)