Legenda Sumpah Puyang Lubai
Pendahuluan
Dikisahkan dahulu kala nenek moyang Desa Kurungan Jiwa dan Baru Lubai baca "Jiwa Baru" terdiri dari orang yang sakti mandra guna. Sumpahnya dapat menjadi kenyataan, hal ini akan menjadi awal cerita legenda Sumpah Puyang Jiwa Baru Lubai. Cerita ini merupakan cerita rakyat desa Jiwa Baru kec. Lubai kab. Muara Enim prov. Sumatera Selatan.
Sewaktu penulis masih kecil, saat kami masih bertempat tinggal dikampung halaman "Desa Baru Lubai" kedua orang tuaku tercinta menceritakan kepada penulis bahwa dahulu kala ada seorang Puyang membuang sebuah Kelapa Muda dalam bahasa Lubai disebut Mumbang Nioh. Mumbang Nioh oleh Puyang ini, dibuang ke Batanghari Lubai.
Terumpah Kayu Puyang
Salah seorang Puyang di Desa Jiwa Baru Lubai, yang hidup beberapa ratus tahun yang silam adalah seorang rajin beribadah di masjid Annuqobah desa Baru Lubai. Setiap waktu sholat beliau pergi ke masjid Annuqobah, selalu menggunakan terompah kayu. Terumpah kayu ini jika dipakai berjalan, suara dari jarak puluhan meter masih dapat didengar. Tak, tak, tuk… tak, tak, tuk… begitulah kira-kira bunyi terumpah puyang. Terumpah puyang dibuat dari kayu pulai ataupun kayu gabus/pehutat. Kayu termasuk jenis kayu yang mempunyai karakter lembut dan tidak berat, sehingga cocok untuk dijadikan alas kaki “terumpah”. Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia masyarakat desa Jiwa Baru Lubai, menggunakan terompah kayu sebagai alas kaki.
Puyang rajin ibadah menyumpah
Walaupun puyang ini merupakan seorang ahli ibadah dizaman itu, akan tetapi sebagai manusia biasa kesabaran beliau ada batasnya. Konon ceritanya suatu hari, Puyang ini setelah melaksanakan aktivitasnya ibadah di masjid Annuqobah Baru Lubai, pada saat beliau hendak pulang ternyata Terompah baca "Terumpah Kayu" yang diletakkan ditempat yang dianggap Puyang itu aman, ternyata ketika dilihatnya saat itu telah rahib entah kemana?.
Beberapa saat puyang rajin ibadah berfikir cara apa dan bagaimana sepantasnya memberikan pembelajaran pada seseorang yang telah mengambil terumpah kayu itu. Puyang rajin ibadah merasa kekecewaan yang mendalam, atas perbuatan seseorang ini. Pada mulanya puyang rajin ibadah memberitahukan perihal kehilangan terumpah kayunya kepada beberapa orang jemaah masjid Annuqobah desa Jiwa Baru Lubai dan kepada beberapa tokoh masyarakat serta kepada beberapa kaum kerabatnya.
Namun sangat disayangkan dari hari ke hari, pekan ke pekan, bulan ke bulan terumpah itu tidak dapat diketemukan. Puyang rajin ibadah akhirnya membuat keputusan “menyumpah” kepada anak keturunan masyarakat desa Jiwa Baru Lubai.
Kutifan Sumpah Puyang
Berdasarkan cerita kedua orang tua penulis Puyang rajin ibadah ini, mengeluarkan suatu sumpah yang ditujukan kepada anak keturunan masyarakat desa Jiwa Baru Lubai. Kutifan bunyi sumpah Puyang rajin ibadah dari desa Jiwa Baru Lubai sebagai berikut: “Dengan ini aku membuangkan mumbang nioh ke Batangakhi Lubai, aku melakukan ini akibat ulah pengawian sanak keluarge yang durhake, dikde menghargeiku yaitu telah ngambek terumpah kayu untuk aku beribadah ke masjid. Sehubungan dengan terumpah kayu kesayanganku, dekde pacak ditegahkan makenye dengan ini aku menyumpahkan kepade jeme ye ngambek terumpah kayuku dan seluroh anak keturunannye, juge kesegale masyarakat duson Baru Lubai dan Kurungan Jiwe, sape bai ye menetap tinggal di dalam duson ini die akan menghasekan kehidupannye lok-lok mumbang nioh di Batangakhi Lubai ye kebuang ini, kadang timbol - kadang tenggelam, kadang tenggelam – kadang timbol, kadang tombol – kadang tenggelam”
Sumpah puyang rajin ibadah ini, nampaknya mempunyai dampak yang negative bagi masyarakat desa Jiwa Baru Lubai. Beberapa generasi yang menetap tinggal di desa ini, perekonomian selalu mengalami kesulitan dalam bahasa Lubai sare derake, suntuk buntu dekde belubang. Dulu ada suatu rangkaian kata-kata sepertinya pemeo bagi masyarakat desa Jiwa Baru Lubai yang sering sekali diucapkan oleh orang-orang tua, yaitu bahwa jeme Baru Lubai dan Kurungan Jiwe adalah Alai berete (Kaye), berite juge mati mude, banyak rite banyak bini, banyak rite lupe diri.
Alai berete seseorang itu artinya dianggap tidak cocok mempunyai harta yang melimpah dikarenakan dia itu mempunyai budi pekerti yang jelek setelah dia mempunyai harta yang melimpah. Ataupun harta melimpah itu cocoknya dimiliki oleh seseorang yang tampan dan mempunyai isteri yang cantik, dan mempunyai akhlak yang mulia. Berite juge mati mude maksudnya seseorang anak keturunan dari desa Jiwa Baru Lubai, walaupun mampu mencapai memiliki harta yang melimpah, biasanya meninggal dunia dalam usia muda. Banyak rete banyak bini maksudnya jika seseorang anak keturunan dari desa Jiwa Baru Lubai telah menjadi kaya, maka pola hidupnya jadi berubah. Semula hidup damai dengan isteri pertama yang telah mendampinginya saat dia hidup susah, setelah dia hidup berharta dia ingin mempunyai isteri lagi. Banyak rete lupe diri maksudnya seseorang anak keturunan dari desa Jiwa Baru Lubai setelah mempunyai harta yang melimpah jadi lupa diri, dia melupakan darimana dia berasal, siapa saja kaum kerabatnya yang membantu tatkala dia hidup susah, dia melupakan darimana asal usulnya.
Kesimpulan
1. Akibat perbuatan seseorang yang telah mengambil terumpah kayu puyang rajin ibadah, seluruh masyarakat desa Jiwa Baru Lubai menannggu dampak sumpahan puyang rajin ibadah;
2. Keampuhan kata-kata sumpah Puyang ini ada dampaknya, hal ini jangan dikatakan bahwa puyang ini mempunyai kesaktian mantraguna, melainkan kita harus menyakini bahwa seseorang yang dianiya maka doanya ataupun kata-katanya makbul;
3. Jangan menilai sesuatu itu dari harga, akan tetapi harus dinilai manfaatnya bagi seseorang. Terumpah kayu puyang rajin ibadah memang harga tidak seberapa, akan tetapi makna bagi puyang itu yang harus kita maklumi;
4. Apakah sumpah puyang rajin ibadah telah sirna dimakan zaman? Jawabannya terserah kepada anda masing-masing. Apakah anda merasa sukses dalam hidupnya, harta berlimpah, hidup penuh dengan tertawa? Ataupun anda merasa gagal dalam hidup ini, miskin harta miskin ilmu.
5. Hasil penelitian membutkikan bahwa tahun 2004 sampai dengan 2008 pada saat harga getah karet mencapai harga Rp. 13.500,- (tigabelas ribu lima ratus rupiah) kondisi perekonomian masyarakat Jiwa Baru Lubai, sudah lebih baik dari kehidupan dari beberapa generasi yang lalu. Handphone, Sepeda motor, kendaraan roda empat, roda enam mudah untuk dibeli. Tahun 2009 harga getah karet rp. 7.000,- (tujuh ribu rupiah) perekonomian masyarakat Jiwa Baru Lubai, mengalami penurunan kembali.
6. Selamat merenung sanak keluarge jeme Lubai di duson dan di rantauan…
7. … ???
Bandar Lampung, 23 Juli 2009
Amarmakruf Silahturrahim Lubai