Kehadiran Sungai atau Batanghari Musi di Sumatra Selatan belum diketahui secara pasti sejak kapan, tapi kemungkinan besar sekian ribuan tahun sebelum masehi. Bahkan diperkirakan Sungai Musi lebih dahulu dibandingkan manusia yang menetap di Sumatra Selatan. Namun nama Musi pada sungai yang kini panjangnya sekitar 460 kilometer dan lebarnya rata-rata 300 meter : dari Barat ke Timur tidak diketahui sejak kapan digunakan, dan begitu pun artinya atau maknanya. Ada yang memperkirakan nama Musi berasal dari India, sebab ada nama Musi di pusat peradaban Hindu tersebut. Terakhir, ada yang menyebutkan nama Musi berasal dari bahasa Melayu yangberarti ikut atau aliran, seperti yang masih digunakan masyarakat Kayuagung.
Keberadaan Sungai Musi ini, yang menyebabkan daerah Sumatra Selatan sejak ratusan abad lalu menjadi daerah yang hidup. Dia menjadi sumber kehidupan hewan, tumbuhan, hingga manusia. Jadi, tidaklah heran, di sekitar gunung Dempo, tepatnya di sekitar anak-anak Sungai Musi, pernah hidup manusia dengan peradaban yang cukup maju di jamannya, yang kini terlihat melalui artefak berupa patung-patung prasejarah. Lainnya, di Sumatra Selatan banyak ditemukan sumber daya alam berupa minyak bumi, batubara, dan gas bumi, yang membuktikan di daerah ini pernah hidup tumbuhan dan hewan sejak jutaan tahun lalu.
Ikan-ikan di Sungai Musi yaitu :
Ikan Semah (Tor Douronensis) yang hidup di Sungai Musi bagian Ulu, tepatnya di sekitar gunung Dempo, merupakan ikan dengan tubuh indah. Warna sisik yang putih atau merah keemasan sangat enak dipandang. Mereka cenderung bertubuh besar, suka berkelompok dalam jumlah yang tidak besar dan memakan apa saja.
Ikan Gabus (Channa Striata) dan Ikan Toman (Channa Micropeltes). Ikan yang hidup di sungai, rawa, danau, sawah, hingga di parit-parit ini, juga memakan makhluk hidup apa saja, seperti serangga, ikan kecil, kodok, atau berudu. Jadi, tak heran, Gabus dan Toman menjadi hama bagi komunitas ikan air tawar lainnya. Bahkan Gabus atau Toman yang berukuran besar dapat mencapai panjang sekitar 1 meter juga berbahaya bagi manusia. Dalam sejumlah kasus ditemukan sejumlah tangan atau kaki manusia pernah digigit Toman atau Gabus. Hebatnya, mereka mampu hidup beberapa menit di darat, tanpa membutuhkan air. Mereka memiliki organ labirin yang mampu mengambil udara secara langsung. Pada musim kemarau, mereka mampu hidup berbulan-bulan atau bahkan bertahun dengan cara berendam di dalam lumpur.
Ikan Betok (Anabas Testudineus). Bedanya, Betok memiliki ukuran lebih kecil, maksimal panjangnya 25 sentimeter. Lalu mereka pun hidup di pinggiran Sungai Musi atau anaknya, seperti di rawa-rawa, kolam atau parit. Betok juga mampu bertahan hidup di darat untuk sekian lama. Bahkan, kecepatan berjalan di darat lebih cepat dari Gabus atau Toman. Insangnya digerakan dengan dimekarkan seperti menjadi kaki depan Betok saat bergerak.
Ikan Juaro (Pengasius) ikan yang masuk ordo Osthariophysi ini termasuk yang paling rakus. Selain memakan ikan kecil, serangga, ikan ini juga memakan kotoran manusia dan buntang. Jadi, Juaro selalu hadir di sekitar manusia.
Ikan Seluang Bada (Rasbora Daniconius) dan Sepat (Trichogaster Pectoralis) Keduanya suka bergerombol dan juga memakan apa saja, meskipun tidak sebuas atau serakus Gabus, Toman, Semah, Juaro, atau Betok.
Namanya Antu Banyu yang artinya Hantu Air. Kekerasan maupun kelembutan terbukti tidak mampu menaklukan atau menghancurkan Antu Banyu. Mereka terus mengincar manusia, tidak peduli anak-anak, orang dewasa, perempuan, laki-laki, kaya atau miskin, pribumi atau bule, penjahat atau ulama. Semuanya disantap dengan cara mengisap darahnya melalui umbun-umbun di kepala.