Desa tempat kelahiran
Kenangan Suka ini merupakan kisah sewaktu aku masih kecil. Cerita ini akan saya mulai dengan asal-usulku. Asal-usulku dari sebuah Desa yang kecil namun indah, Baru Lubai nenek moyangku memberi namanya. Desaku terletak lebih kurang 120 KM. dari Kota Palembang. Dahulu kala Desa Baru Lubai yang merupakan tempat kelahiranku termasuk wilayah kedatuan Sriwijaya dengan rajanya : Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Setelah kedatuan Sriwijaya hancur berdiri Kesultanan Palembang Darussalam : diantara Sultan yang terkenal adalah : Sultan Mahmud Badaruddin II. Saat ini Desa Baru Lubai digabung dengan Desa Kurungan Jiwa dengan nama Jiwa Baru, Kecamatan Lubai Kapupaten Muara Enim Propinsi Sumatera Selatan.
Silsilah keluarga
Saya diberi nama : Amarmakruf Silahturrahim putera dari seorang Ayah M. Ibrahim bin Haji Hasan berasal dari Desa Baru Lubai. Alhamdulillah, saya ditakdirkan Allah menjadi anak ke 7 dari 11 bersaudara yang terdiri dari : 8 laki-laki dan 3 prempuan. Ayah M. Ibrahim semasa hidup pekerjaannya adalah menjadi Penggawa Desa Baru Lubai, Anggota Dewan Marga Lubai Suku I, Anggota Panitia Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia nomor induk : 33 Komandannya : Kolonel Sjarnubi Said, Pengusaha Batu Bata dan Genting di Desa Baru Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan, Petani Kebun Serai Wanggi seluas 100 HA di Bukit Jehing Lubai Kabupaten Muara Enim, Petani Kebon Karet seluas 70 HA di Bukit Jehing Lubai Kabupaten Muara Enim, Petani Kebon Kopi seluas 30 HA di Desa Datar Lebuay Kecamatan Pulau Panggung Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung. Saya terlahir dari seorang Ibu bernama Nafisyah binti Wakip berasal dari Desa Kurungan Jiwa. Ibu Nafisyah semasa hidup pekerjaannya adalah menjadi pendamping setia ayah M. Ibrahim.
Silsilah Kakek dari Ayah sebagai berikut : Haji Hasan bin Aliakim bin Sinar bin Riamad gelar Lebi atau Lebai *) bin Natakerti gelar Gemeling Sakti bin Kencana Dewa gelar Jaga Niti dari desa Kurungan Jiwa Lubai. Kakek Haji Hasan anak dari Puyang Rendinem bin Segaran. Kakek Haji Hasan semasa hidup pekerjaannya adalah menjadi karyawan di perusahaan minyak zaman kolonial Belanda di Palembang. Silsilah Nenek dari pihak Ayah sebagai berikut : Sedunah Binti Abdur Rahman berasal dari Desa Gunung Raja Lubai. Nenek Sedunah anak dari Mahayah binti Renadi bin Depati Subot. Nenek sedunah semasa hidupnya pekerjaannya adalah berniaga Emas. Semasa aku kecil peninggalan dari Nenek Sedunah yang masih tersisa adalah sebuah gelang Emas yang dilingkari dengan hiasan Merah Delima sebanyak 9 butir, apabila Gelang itu didekatkan pada gelas yang berisi Air bening maka warna Air itu akan menjadi Merah.
*) Catattan : Lebi gelar tokoh agama islam dimarga Lubai semasa itu. Puyang Depati Subot merupakan salah satu yang pernah menjadi Kepala Marga Lubai Suku I
Silsilah Kakek dari Ibu sebagai berikut : Wakip bin Kenarap. Kakek Wakip semasa hidup pekerjaannya sebagai petani Karet yang sukses. Hal ini dapat dibuktikan beberapa peninggalan beliau berupa beberapa bidang Kebon Karet, rumah yang masih berdiri kokoh saat ini berada ditengah Desa Kurungan Jiwa, sebelah rumah Kerio Sapuan. Silsilah Nenek dari pihak Ibu sebagai berikut : Mastinah Binti Kerio Rudin **) berasal dari Desa Gunung Raja Lubai. Nenek Mastinah semasa hidup pekerjaannya adalah menjadi petani Kebon Karet, pendamping setia Kaket Wakip.
Catatan : **) Puyang Kerio Rudin merupakan salah satu yang pernah menjadi Kepala Desa Gunung Raja Lubai.
Sepenggal kenangan
Kenangan dari Desa tempat saya dilahirkan, sesungguhnya tidak ada yang menarik untuk diceritakan. Tulisan ini merupakan kenangan ketika saya masih berdomisili di desa Baru Lubai kecamatan Lubai kabupaten Muara Enim provinsi Sumatera Selatan. Sepenggal kenangan yang masih tersisa sampai saat ini sebagai berikut :
Pasar Rabu : dalam bahasa Lubai disebut Kalangan Ahi Rebu. Pasar Rabu cuma ada seminggu sekali yaitu pada hari Rabu. Dalam bahasa Melayu Kalangan Rebu disebut Pekan Rabu. Waktu pembukaan Kalangan ini adalah pukul 18.00 sampai dengan 23.00 WIB hari Rabu malam Kamis. Ia bermula sebagai tempat penjualan keperluan sehari-hari seperti Sembako, Rokok Nipah, Tembakau Ranau, Buah-buahan dan pakaian; Kita juga dapat membeli kue, sayur mayur tradisional Lubai di sini seperti Serunding, Dodol Durian alias Lempok, Rujak Tahu, Garam, Terasi alias Belacan, Pekasam, Rusip;
Jalan Pedesaan : merupakan urat nadi lalu lintasi di Desa saya dilahirkan. Jalan itu persis membelah desa Desa Baru Lubai dan Kurungan Jiwa, kondisi jalan masih tanah biasa, jadi kalau hari hujan tanah menjadi lembek/becek sehingga kita kalau berjalan baru selesai hujan reda maka kaki jadi kotor semua dalam bahasa Lubai ”Keteng lolokan gale”.
Mandi, Cuci dan Kakus di Sungai Lubai : Kalau mau mandi saya sewaktu masih kecil diajak Ayah ke Sungai Lubai. Sepenggal kenangan yang masih sangat terasa adalah pola mandi yaitu kaum Adam mandinya menggunakan Kain lalu menyemplung masuk kesungai, sedangkan untuk kaum Hawa mandinya biasanya diatas Rakit Kayu yang disebut Gandung dalam bahasa Lubai. Mencuci pakaian biasanya dilakukan oleh kaum Hawa diatas Rakit Kayu sebelum melaksanakan mandi. Ada adat kebiasaan masyarakat di Kurungan Jiwa dan Baru Lubai ketika saya masih kecil yaitu kaum Adam jika membuang kotoran langsung nongkrong dipinggir Sungai Lubai, sedangkan untuk kaum hawa dibuatkan tempat khusus dalam bahasa Lubai disebut "Bung" ditempatkan diatas rakit kayu atau Gandung dalam bahasa Lubai.
Mengambil Ikan di Kolam Tradisional : Semasa saya kecil dulu di Sungai Lubai masih banyak ikan : Kepiat, Seluang, Palau, Behinget, Tuman, Tapah, Huan, Baung, Laes, Linjeng dan sebagainya. Saat yang paling menyenangkan ketika itu adalah kalau musim banjir yang disebut Rawang. Pada musim ini ikan-ikan banyak berkeliaran sehinga sangat mudah untuk ditangkap menggunakan alat seperti Bubu, Jaring alias pukat maupun Gabul. Ada suatu kebiasaan nenek moyangku adalah bekarang ikan di tebat ketika musim kemarau. Kegiatan ini merupakan suatu acara menangkap ikan bersama-sama yang masih ada dalam tali persaudaraan. Saya pernah diajak berkarang di Tebat Sepape, Tebat Lau-lau dan Tebat Sehokdian. Ketika itu tahun 1975 saya ikut menangkap ikan di kolam alias Tebat, didekat saya tergeletak seorang ikan yang agak besar yang durinya. Ikan itu saya tangkap tanpa menggunakan alat bantu, sehingga tanganku kena patil. Rasanya sakit bukan main, dan tak lama kemudian badan jadi panas akibat reaksi dipatil ikan tadi. Akhirnya saya tahu bahwa ikan itu disebut ikan Baung;
Mencari Buah-buahan : Ada lagi pada saat musim banjir yang kesenangan saya ketika itu adalah mencari buah atau dalam bahasa Lubai disebut Behayau buah-buahan yaitu buah yang sudah jatuh dari pohonnya : Behayau Buah Kecapi/Setol didekat Pangkalan mandi di Batangahi Lubai, Mencari Buah Rukam, di Muara Bening dekat Pematang Selanglang Lubai, Mencari Buah Jamblang atau Seguam di Lebak Lubai, Behayau Buah Kemang atau Binjai punya Puyang Tande, Pohon besar mempunyai diameter : 2 Meter dan Panjang/Tinggi Batangnya 40 Meter, usianya diperkirakan lebih-kurang 350 tahun, Mencari Buah Cermai dalam bahasa Lubai Cermen punya Wak Darman, Mengambil Buah Rambai dalam bahasa Lubai Hambai punya Kakek Haji Hasan, Mengambil Buah Cempedak dalam bahasa Lubai Temedak Punya Kakek Haji Hasan.