Kentongan atau kentung-kentung adalah alat komunikasi jarak jauh tradisional yang terbuat dari bambu atau kayu berongga. Kentongan dipukul untuk memberi tanda bahaya, sebagai penanda waktu, atau sebagai seruan untuk berkumpul bagi penduduk yang mendengarkannya. Pesan yang dikirim, diidentifikasi melalui perbedaan ritme dan selang suara tabuhannya. Tiap daerah biasanya memiliki kode pukulan kentongan yang berbeda. Pemaknaan terhadap bunyi kentongan tergantung dari kebiasaan di daerah masing-masing.
Di zaman sekarang, peran kentongan sebagai penyiar informasi telah banyak digantikan oleh peralatan komunikasi elektronik. Kentongan lebih banyak digunakan sebagai hiasan ruangan dan hanya ditabuh pada upacara-upacara adat.
Bagi orang yang pernah bertempat tinggal di Jawa Tengah, pasti sudah pernah melihat suatu benda yang bernama kentongan. Barang yang biasanya berbentuk bulat, panjang dan gondal-gandul, tergantung di depan rumah tersebut merupakan media informasi/komunikasi bagi sebagian besar masyarakat terutama di desa. Kentongan digunakan untuk memberi kabar kepada masyarakat berkaitan adanya peristiwa yang sangat penting, seperti orang meninggal dunia, pencurian, perampokan, pembunuhan, banjir, kebakaran dan lain sebagainya.
Pada saat penulis masih kecil, senang memukul kentongan ini. Kentongan dalam bahasa Lubai adalah Getokan, atau Getok-getok. Kayu yang dipergunakan membuat getok-getok adalah Kayu jenis Leban atau Gehungang yang telah berlubang secara alami, sehingga proses pembuatannya jadi lebih mudah. Proses pembuatan sebuah kentongan tidak memerlukan waktu terlalu lama. Peralatan yang dipergunakan untuk membuat kentongan adalah pahat, beliung, golok dan kampak.
Pada tahun 1970-an penulis menginap di Ladang terletak di Dataran Gumsuruman Desa Jiwa Baru Lubai, Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Kentongan dipergunakan sebagai alat komunikasi yang ditempatkan di Dangau di Ladang. Saat ini penulis memukul kentongan dengan bermacam irama. Diantaranya irama pukulan kentongan ini, dipukul sampai 10x berturuat-turut ditengah-tengah kentongan. Bunyi yang dihasilkan : tong, tong, tong, tong, tong, tong, tong, tong, tong, tong. Dipukul 1x dipingir kentongan dan 4x ditengah-tengah kentongan. Biasanya ketika penulis memukul kentongan ini akan ditimpalan oleh orang yang menginap atau temalam di Ladang yang lainnya.
Catatan :
Dahulu kala di desa Jiwa Baru kecamatan Lubai kabupaten Muara Enim provinsi Sumatera Selatan, terdapat sebuah kentongan yang besar disebut dengan "Gentok gandaian"