Nama Tempatan: Bunga Tanjung, Bahasa Lubai : Bunge Tanjong. Nama Saintifik: Mimusops elengi, Nama Lain: Baula(oriya),indian meddaler, bulletwood tree,Bakula,Spanish cherry, Famili: Sapotaceae
Keterangan :
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia : Tan·jung pohon yang bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan berbau harum, biasa dipakai untuk hiasan sanggul; Mimusops elengi; 2 bunga tanjung. Tanjung ialah sejenis pohon yang berdiameter sederhana. Ia biasa dijumpai ditanam ditepi-tepi jalan karena bentuknya yang rindang dan dapat memberikan keteduhan dari cahaya matahari yang terik. Bunga tanjung berbau sangat wangi dan biasa digunakan sebagai hiasan kepala masyarakat melayu tradisional dan kaum india. Bunga tanjung juga tahan lama dan boleh direndam dalam minyak kelapa setelah kering untuk mengembalikan harumannya. Biasanya bunga tanjung yang direndam dalam minyak kelapa ini digunakan sebagai bunga hiasan kepala untuk mewangikan rambut. Daun tanjung berwarna hijau tua, agak keras dan mempunyai permukaan yang berkilat. Buahnya berbentuk bujur, berwarna hijau ketika muda dan jingga setelah masak. Buahnya boleh dimakan dan mempunyai rasa yang sedikit manis. Tumbuhan ini berkembang biak dari keratan batang dan biji benih.
Kegunaan:
Rawatan ruam yang bernanah. Beberapa tangkai bunga tanjung direbus bersama 2 sudu besar jintan hitam. Air rebusan ini diembunkan selama semalam. Setelah itu airnya ditapis dan digunakan untuk mandi oleh pesakit. Sakit Gigi dan luka. Kulit batang pokok tanjung direbus bersama air. tapis rebusan ini dan gunakan sebagai ubat kumur sekali sehari selama empat hari.Ia juga dapat menghilangkan nafas berbau.Rebusan ini juga boleh digunakan untuk mencuci luka. Lakukan setiap hari hingga luka sembuh selain daripada itu bunga tanjung juga mempunyai minyak sari dan minyak sari yang dihasilkan berwarna kuning muda kehijauan.Ia boleh digunakan dalam perawatan aromaterapi.
Catatan :
Bunga Tanjung di Desa Kurungan Jiwa Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan, Tanaman Puyang Riamad bergelar Lebi usia mencapai lebih kurang 300 tahun. Bunga ini bagi masyarakat Lubai tidak terlalu dipedulikan, bahkan ia hanya diangap bunga yang tidak mempunyai nilai ekonominya.