Pendahuluan
Ayahanda penulis bernama M. Ibrahim bin Haji Hasan. Beliau putera dari Kakek Haji Hasan bin Aliaqim dan Nenek Sedunah binti Abdur Rahman. Lahir di Desar Baru Lubai, Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Makam ayahanda M. Ibrahim bin Haji Hasan terletak di Taman Pemakaman Umum Blok 7 Kampung Sawah Brebes Kecamatan Tanjungkarang Timur Kota Bandarlampung Provinsi Lampung. Pendidikan beliau adalah alumni Perguruan islam "Nurul Falah" Palembang. Ayah penulis mempunyai pengalaman hidup di 3 (tiga) zaman yaitu : Zaman kolonial Belanda, zaman penjajahan Jepang dan zaman kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau mempunyai saudara laki-laki bernama : K.H. Abdul Aziz bin Haji Hasan dan seorang saudara perempuan bernama : Mursaha.
Riwayat pekerjaan
Pekerjaan ayahanda penulis ketika beliau masih hidup sebagai berikut :
Karyawan bagian Logistik Tentara Jepang di Karang Indah Sumatera Selatan;
Anggota Panitia Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia nomor induk : 33 Komandannya : Kolonel Sjarnubi Said;
Sekretaris Pasirah Marga Lubai Suku satu, tahun 1945 sampai dengan 1947;
Penggawa / Kepala Kampung I Desa Baru Lubai, tahun 1965 sampai dengan 1970;
Anggota Dewan Marga Lubai Suku I, tahun 1966 sampai dengan 1970;
Pengusaha Batu Bata dan Genting di Desa Baru Lubai, tahun 1949 sampai dengan 1956;
Petani Kebon Karet seluas 70 HA di Bukit Jehing Desa Kurungan Jiwa Lubai, tahun 1957 sampai dengan 1961;
Petani Kebun Serai Wanggi seluas 100 HA di Bukit Jehing Desa Kurungan Jiwa Lubai, tahun 1962 sampai dengan 1969;
Pemborong Jembatan di marga Lubai, tahun 1970;
Petani Kebon Kopi seluas 30 HA di Desa Datar Lebuay Kecamatan Pulau Panggung Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung.
Silsilah Ayahanda : M. Ibrahim bin Haji Hasan bin Aliaqim.
Kakek dari pihak Ayah
Penulis mempunyai Kakek dari pihak ayah bernama Haji Hasan bin Aliaqim. Kakek Haji Hasan putra dari Puyang Aliaqim bin Sinar dan Puyang Rendinem binti Segaran. Lahir di desa Kurungan Jiwa Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Makam kakek Haji Hasan bin Aliaqim terletak dekat Kalangan hari Rabu Desa Jiwa Baru Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Kakek Haji Hasan mempunyai 2 (dua) saudara laki-laki yaitu : Abdul Syukur bin Aliaqim dan Abu Nikmat bin Aliaqim. Kakek Abu Nikmat mendapat isteri dari desa Gunung Raja dan beliau menetap disana. Makamnya terletak didesa Gunung Raja Lubai.
Pekerjaan kakek Haji Hasan bin Aliaqim semasa hidup bekerja menjadi karyawan di perusahaan minyak zaman kolonial Belanda di Palembang. Selain menjadi karyawan di perusahaan minyak, beliau menjadi pemborong pembuatan stasiun kereta api. Diantara stasiun kereta api buatan beliau adalah stasiun Pagar Gunung Lubai. Rumah peninggalan kakek Haji Hasan, saat ini masih berdiri kokok di desa Jiwa Baru Lubai. Lahan pertanian berupa hutan muda terletak di daerah aliran Batanghari Sepape, Batanghari Sehokdian, Batanghari Lau-lau, Batanghari Pegang dan dataran rendah Gumsuruman Lubai.
Silsilah Kakek dari Ayah sebagai berikut : Haji Hasan bin Aliakim bin Sinar bin Riamad gelar Lebi atau Lebai *) bin Natakerti gelar Gemeling Sakti bin Kencana Dewa gelar Jaga Niti.
*) Catatan : Lebi adalah gelar tokoh agama islam dimarga Lubai setingkat dengan penghulu dinegeri Minang Kabau.
Nenek dari pihak Ayah
Penulis mempunyai nenek dari pihak ayah bernama Sedunah binti Abdur Rahman. Nenek Sedunah putri Puyang Abdur Rahman dari desa Gunung Raja Lubai dan Puyang Mahaya binti Renadi bin Depati Subot *). Nenek mempunyai saudara laki-laki dan saudara perempuan. Makam nenek terletak disamping makam Kakek Haji Hasan. Beliau semasa hidupnya mempunyai pekerjaan berniaga Emas, Permata. Semasa aku masih usia kanak-kanak, salah satu peninggalan dari Nenek Sedunah yang masih tersisa adalah sebuah gelang Emas. Gelang Emas itu dilingkari dengan hiasan Merah Delima sebanyak 9 butir, apabila Gelang itu didekatkan pada gelas yang berisi Air bening maka warna Air itu akan menjadi Merah. Gelang itu hilang dicuri orang, ketika kakak perempuan penulis tertidur dirumah saudara di kota Prabumulih Provinsi Sumatera Selatan.
Silsilah Nenek dari Ayah sebagai berikut : Sedunah Binti Abdur Rahman berasal dari Desa Gunung Raja Lubai.
*) Puyang Depati Subot merupakan salah seorang yang pernah menjadi Kepala Marga Lubai Suku I.