Buah Tampui. Orang Lubai menyebutnya buah Tampuian. Sumatra: Tampoei daoen, tampoei benez. Bangka: Medang, tampui. Borneo: Pasin (Bassap Dyab); pegak (Dayak Tunjung); puak, tampoi (Iban); setai (Kenya); djentikan (Malay, Kutei); tampoi (Malaysia, Kedayan); Buah setei, empak kapur, kapul, terai.Masyarakat negara Malaysia di Hilir Perak menyebut nama buah ini : Larah. sebagian masyarakat Semenanjung Melayu menyebutnya buah Tampoi. Nama ilmiahnya : Sterculia Subpeltata Bl.
Keterangan :
Buah Tampui merupakan buah langka. Buah ini banyak yang tidak pernah menjumpainya dan memakannya. Karena Pohon Tampui tidak banyak di budidayakan. Masyarakat mengangap buah ini, tidak termasuk pohon buah-buahan yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Di Desa Baru Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan, Kakek penulis Haji Hasan bin Aliaqim menanam pohon Tampui di dekat Bakal Anyar. Namun sangat disayangkan, saat ini tanah itu telah menjadi areal perumahan masyarakat Desa Jiwa Baru Kec. Lubai, Kab. Muara Enim, sehingga pohon Tampui itu ditebang. Letak tanah itu memang sangat strategis, karena dekat dengan pemukiman penduduk dan dekat dengan lokasi Kalangan/Pasar hari Rabu di desa Jiwa Baru Lubai.
Dikampungnya di pedalaman kalimantan barat masyarakat menjebutnya tampi dan oleh masyarakat kota singkawang menyebutnya buah tampui baik dalam bahasa Melayu –tionghua. Di negara jiran Malaysia buah Tampui banyak ditanam di Sungai Lui, Hulu Langat dan di Johol, Negeri Sembilan serta di Johor.