Legenda Puyang Natakerti
Sejarah singkat
Puyang Natakerti diperkirakan lahir pada tahun 1.500 Masehi. Beliau merupakan anak dari Puyang Kencana Dewa yang bergelar Jaga Niti. Puyang Natakerti adalah salah seorang tokoh masyarakat desa Kurungan Jiwa dimasa yang lampau. Tempat kelahiran beliau adalah desa Kurungan Jiwa, masuk wilayah Kesultanan Palembang Darussalam. Saat ini desa Kurungan Jiwa digabung dengan desa Baru, sehingga berubah namanya menjadi “Jiwa Baru” merupakan wilayah dari Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Puyang Natakerti merupakan salah satu tokoh di desa Kurungan Jiwa.
Anak keturunan
Puyang Natakerti mempunyai 3 (tiga) orang anak laki-laki yaitu : Puyang Rentamad, Puyang Riamad dan Puyang Desamad. Adapun anak beliau yang lain penulis tidak ada menemukan data yang akurat, maka tidak dapat dicantumkan nama-namanya disini. Dari anak Puyang Natakerti 3 (tiga) bersaudara ini, melahirkan komunitas kurungan lembak, disebut dalam bahasa Lubai Gugok Kurungan Lembak atau Jurai Brak-bakbuk.
Komunitas kurungan lembak ini, menyebar dari desa Kurungan Jiwa, Kecamatan Lubai ke berbagai desa sebagai berikut :
1. Desa Gunong Raja, susunan silsilah keturunan : Abu Nikmat bin Aliaqim bin Sinar bin Riamad disebut juga Puyang Lebi bin Natakerti;
2. Desa Kurungan Jiwa, susunan silsilah keturunan : Haji Hasan bin Aliaqim bin Sinar bin Riamad disebut juga Puyang Lebi bin Natakerti. Sebagian besar penduduk desa Kurungan Jiwa, merupakan anak keturunan Puyang Natakerti, diperkirakan jumlah populasinya sebanyak 400 jiwa;
3. Desa Beringin, terdapat anak keturunan Puyang Natakerti, tetapi tidak ada data akurat, sehingga silsilah keturunan tidak dapat dimuat;
4. Desa Aur, terdapat anak keturunan Puyang Natakerti, tetapi tidak ada data akurat, sehingga silsilah keturunan tidak dapat dimuat;
5. Desa Prabumenang, terdapat anak keturunan Puyang Natakerti, tetapi tidak ada data akurat, sehingga silsilah keturunan tidak dapat dimuat;
6. Desa Buloh Ilok Kecamatan Rambang, terdapat anak keturunan Puyang Natakerti, tetapi tidak ada data akurat, sehingga silsilah keturunan tidak dapat dimuat. Anak keturunan Puyang Natakerti dari desa ini, sering melakukan ziarah ke makam Puyang Riamad yang disebut juga Puyang Lebi;
7. Desa Umpam, Kecamatan Lengkayap Kabupaten Ogan Komering Ulu, tetapi tidak ada data akurat, sehingga silsilah keturunan tidak dapat dimuat. Pada kunjungan penulis ke desa Umpam pada tahun 1982-an, banyak penduduk disana mengaku anak keturunan Puyang Natakerti;
8. Di berbagai desa di Provinsi Lampung, diperkira jumlah populasi mencapai 300 jiwa. Penulis merupakan anak keturunan Puyang Natakerti dengan silsilah keturunan sebagai berikut : Amarmakruf Silahturrahim Lubai bin M. Ibrahim bin Haji Hasan bin Aliaqim bin Sinar bin Riamda gelar Lebi bin Natakerti gelar Gembeling Sakti bin Kencana Dewa bin Jaga Niti.
Prestasi yang diraih anak keturunan Puyang Natakerti sebagai berikut :
1. Alm. Riamad bergelar Lebi atau Lebai. Semasa hidupnya pernah menjadi tokoh agama islam di desa Kurungan Jiwa. Gelar Lebai merupakan gelar structural bidang agama islam pada masa itu. Kedudukan dan wewenanm Lebai sama dengan Penghulu nagari di daerah Minangkabau, Sumatera Barat;
2. Alm. Muhammad Haqi, Semasa hidupnya pernah menjadi tokoh masyarakat di desa Kurungan Jiwa. Jabatan beliau adalah Kerio desa Kurungan Jiwa. Kerio merupakan gelar structural bidang pemerintahan pada masa itu;
3. Alm. Hi. Abdul Aziz, semasa hidupnya pernah menjadi tokoh agama islam di desa Kurungan Jiwa. Jabatan beliau adalah Khotib desa Kurungan Jiwa. Khotib merupakan gelar structural bidang agama islam pada masa itu, sama dengan penghulu nagari;
4. Alm. M. Ibrahim bin Haji Hasan, semasa hidupnya pernah menjadi tokoh pejuang kemerdekaan diwilayah Sumatera Selatan, Penggawa kampong satu desa Baru Lubai, Anggota Dewan Marga Lubai suku satu;
Anak keturunan Puyang Natakerti, setelah kemerdekaan Republik Indonesia banyak yang berhasil mengukit prestasi dibidang pemerintahan, bidang perdagangan, bidang pertanian. Dengan mempertimbangkan beberapa hal, penulis tidak dapat memuat nama-nama anak keturunan Puyang Natakerti selain yang tersebut diatas.
Berdasarkan info yang didapat penulis, bahwa anak keturunan Puyang Natakerti saat ini telah berhasil meraih prestasi dari berbagai bidang sebagai berikut :
1. Menjadi Anggota Kepolisian Republik Indonesia, prestasi : mencapai pakat perwira;
2. Menjadi Anggota Tentara Nasional Indonesia, prestasi : mencapai pangkat perwira;
3. Menjadi pejabat di Departemen Keuangan Republik Indonesia, prestasi : Eselon II;
4. Menjadi pejabat di Departemen Agama Republik Indonesia, prestasi : Eselon III;
5. Menjadi Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan dan sebagainya.
Catatan : Generasi muda keturunan Puyang Natakerti, sebagian besar mereka tidak tahu bahwa mereka itu merupakan anak keturunan puyang Natakerti.
Harta Peninggalan
Pada mulanya harta peninggalan Puyang Natakerti melimpah ruah. Diantara harta peninggalan beliau adalah berupa tanah lahan pertanian, Tebat, Danau, tanam tumbuh buah-buahan. Akan tetapi dikarenakan penulis tidak mempunyai data-data pendukung yang lengkap, maka penulis tidak dapat untuk menuliskan satu persatu harta peninggalan beliau. Adapun diantara harta Puyang Natakerti yang penulis ketahui sebagai berikut :
1. Tanah untuk lahan pertanian, seluas ribuan hektar terletak di daerah “Air Sabut”, desa Jiwa Baru, Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Pada tahun 1970-an tanah dikawasan ini, pernah dibuka menjadi lahan pertanian : Ladang Padi darat dan Kebun Karet. Yang membuka tanah Puyang Natakerti adalah Masyarakat desa Kurungan jiwa dan Baru Lubai, mendapat dukungan penuh dari pemerintah marga Lubai suku satu yaitu dari Pasirah Abdul Haris. Masyarakat Kurungan Jiwa dan Baru Lubai menamakan kegiatan ini “Proyek Natakerti”.
“Proyek Natakerti” adalah suatu kegiatan bersama yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Kurungan jiwa dan Baru Lubai, untuk mencapai tujuan yang luhur yaitu menyongsong kemakmuran bersama melalui pertanian. Untuk mencapai tujuan yang lahur itu, maka dibuatlah sebuah bendungan di Air Sabut. Tinggi bendungan lebih kurang tinggi 15 meter, lebar 45 meter ketebalan 5 meter. Bendungan dibuat menggunakan tanah biasa yang diberi pagar kayu. Tujuan dari dibuatnya bendungan ini adalah menjadi sumber air untuk mengaliran pesawahan dan menjadi tempat memelihara ikan. Adapun kegiatan lain adalah masing-masing kepala keluarga yang tergabung dalam “Proyek Natakerti” mendapa lahan pertanian, seluas lebih kurang 2 (dua) hektar. Lahan pertanian seluas 2 hektar itu dipergunakan untuk menanam padi darat dan membuat kebun karet.
Catatan : saat proyek ini dilaksanakan, penulis masih duduk dikelas III Sekolah Dasar Negeri Baru Lubai. Dari proyek ini yang berkesan bagi penulis adalah sebuah pantun yang sering dilantun oleh anak-anak desa Jiwa Baru tatkala itu. Biasanya pantun dilantunkan ketika pergi menuju kelokasi proyek Natakerti, dan saat pulang meninggalkan lokasi proyek Natakerti.
Bunyi pantun anak-anak desa Jiwa Baru Lubai sebagai berikut :
Pagi-pagi pergi ke Proyek Natakerti,
Kalau pergi, jangan lupa membawa nasi,
Walaupun proyek Natakerti telah jadi,
Tapi sayang banyak oyek daripada nasi.
2. Tanah untuk lahan pertanian, terletak di Talang Haji, Air Sehokdian, Air Sepape, Air Lau-lau, Air Pegang, dan sebagainya;
3. Tanah pekarangan rumah terletak di Desa Kurungan Jiwa Kecamatan Lubai;
4. Tanam tumbuh yang tersebar di Desa Kurungan Jiwa Kecamatan Lubai;
5. Senjata tajam : Pedang, Keris bertahta emas, Tombak;
Kesaktian
Puyang Natakerti mempunyai kesaktian mantraguna. Konon ceritanya zaman dahulu kala, jika dipagi hari Puyang-puyang di Desa Kurungan Jiwa berjemur dipinggir Sungai Lubai, beliau duduk bersila diatas mata tombak dalam bahasa Lubai disebut Kujur. Beliau melakukan ini merupakan isyarat bahwa para puyang-puyang itu memiliki daya tahan tubuh yaitu tubuh mereka tidak mampu ditembus senjata tajam.
Puyang Natakerti bergelar Gembeling Sakti. Gembeling artinya terlatih dan Sakti artinya mempunyai daya tahan tubuh kebal terhadap senjata tajam. Dalam arti kata yang luas seseorang yang mempunyai kesaktian adalah sosok manusia mempunyai pelindung tubuh yang baik, mampu menaklukan berbagai jenis binatang buas.
Berdasarkan cerita dari orangtua penulis, para nenek moyang di Desa Kurungan Jiwa zama dahulu mempunyai peliharaan binatang buas seperti : Harimau dan Ular. Ada suatu tradisi disini yaitu apabila berjumpa dengan binatang buas seperti Harimau dihutan desa Kurungan Jiwa, maka kita harus mengucapkan ”permisi nenek, cucu mau lewat”
Makam
Terletak di Desa Kurungan Jiwa ”Jiwa Baru” Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.
Makanan tradisional
Rusip dan Pekasam merupakan salah satu tradisi masyarakat Lubai sejak zaman Puyang Natakerti sampai saat ini.
Rusip adalah ikan yang difermentasikan dengan garam dan tepung dari beras yang sudah di sangrai, disimpan dalam tempayan/guci yang ditutup sangat rapat untuk menghindari masuknya telur lalat yang akan menjadi belatung didalam tempayan tersebut, hasilnya rusip hampir tidak ada bentuk ikan lagi melainkan seperti cairan hitam.
Pekasam adalah ikan yang difermentasikan dengan garam dan nasi putih, juga disimpan dalam tempayan yang ditutup sangat rapat, berbeda dengan rusip, pekasam masih terlihat bentuk ikannya hanya saja tulangnya lebih lunak namun ketahanannya kalah disbanding kan rusip yang bisa tahan berbulan-bulan.
Pada zaman Puyang Natakerti masih hidup, ikan-ikan di Sungai Lubai melimpah ruah. Musim kemarau sungai-sungai kecil, danau-danau kecil kering biasanya pada saat ini dilakukan bekarang ikan. Pada saat itu setiap komunitas di desa Jiwa Baru mempunyai tempat bekarang ikan. Saat musim banjir, air sungai Lubai meluap memenuhi sungai-sungai kecil dan danau-danau kecil yang kering yang berada disekitar Batanghari Lubai. Pada musim banjir ini banyak ikan yang hilir mudik mencari makanan dari buah-buah tumbuah hutan yang berjatuhan. Biasanya dikala Batanghari Lubai musim banjir dalam bahasa Lubai "rawang" adalah saat yang tepat mencari ikan. Peralatan penangkap ikan yang dipergunakan yaitu Bubu dan Gabul.
Hasil Tangkapan ikan ketika Puyang Natakerti masih hidup melebihi dari kebutuhan untuk makan sehari-hari. Untuk pengawetan ikan-ikan hasil takapan yang melebihi kebutuhan ini, dilakukan fermentasi Rusip ikan atau Pekasam ikan. Sering juga ikan-ikan itu diawetkan cara ditempatkan diatas tempat masak, yang dibuat dari bambu-bambu yang dijalin. Pengawetan seperti ini dinamakan tape ikan. Adapun cara pengawetan ikan yang lain adalah ikan-ikan itu diawetkan menjadi pede (bahasa Lubai)