Kebun Karet 70 HA terbakar
Kenangan duka yang masih saat terasa sampai saat ini adalah ketika Kebun Karet keluargaku seluas 70 (tujuhpuluh) Hektar Area habis dilalap api. Lokasi perkebunan Karet di Dataran Bukit Jehing suatu wilayah pertanian di Desa Kurungan Jiwa dan Baru Lubai Kab. Muara Enim Prov, Sumatera Selatan. Umur tanaman Karet 7 (tujuh) tahun. Kejadian menyedihkan ini terjadi pada tahun 1965.
Peristiwa ini bermula ketika seorang petani membakar lahan peladangannya. Pada saat kejadian ini, musim kemarau yang panjang. Api dengan sangat mudah membakar kayu, ranting dan daun di peladangan maupun kebun Karet. Petani yang membakar lahan pertanian untuk dijadikan ladang padi itu, entah mengapa? Adakah faktor kesengajaan ataupun faktor ketidak sengajaan, sehingga api dari lahan pertanian dapat menyambar keareal perkebunan Karet keluarga kami.
Ayahanda penulis bercerita : Petani itu berinitial M, berdomisili di desa Kurungan Jiwa Lubai, asal usulnya dia seorang pendatang lain desa, yang beristerikan perempuan dari desa Kurungan Jiwa Lubai. Setelah peristiwa kebakaran kebun Karet keluarga kami, beberapa hari kemudian dia berkunjung kerumah Ayahanda penulis, dengan membawa : seorang Ayam Jago, sebatang tembilang dari besi. Dia berucapkan sebagai berikut : "Ayam Jago ini merupakan simbol pedamaian, Tembilang ini simbol penyerahan diriku. Jika permasalahan ini dapat diselesaikan dengan kekeluargaan kita berdamai, maka terimalah Ayam Jago permberian saya ini. Akan tetapi apabila permasalahan ini tidak dapat diselesaikan dengan kekeluargaan, saya siap mengambil resiko yaitu pergunakan sebatang Tembilang itu untuk memukul saya.
Ayahanda penulis : terhadap peristiwa ini bersikap bijaksana dan arif. Beliau tidak melakukan tindakan apa-apa yang merugikan pihak yang membakar lahan kebun Karet keluarga kami. Peristiwa kebakaran kebun Karet ini, tidak membuat Ayahanda penulis salah tindakan, karena beliau menyerahkan permasalahannya kepada Allah azza wajalla.
Peristiwa kebakaran kebun Karet ini, merupakan kejadian yang sangat menyedihkan bagi kedua orangtua kami. Setelah mengeluarkan tenaga dan pikiran selama waktu tujuh tahun, habis seketika semua harapan keluarga kami. Dengan habis terbakarnya areal perkebunan Karet keluarga kami, maka dampaknya bukan saja menimpa kedua orangtua kami, akan tetapi peristiwa ini merupakan titik awal kehancuran perekonomian keluarga kami sampai dengan hari ini. Suatu hari Ayahanda penulis pernah berkata : "Amarmakruf, hati-hatilah terhadap api. Karena api jikalau masih kecil menjadi teman kita, begitu sudah besar menjadi musuh kita"
Perhitungan ekonomi
Andaikan saja perkebunan Karet itu tidak terbakar, sejarah akan mencatat dengan tinta emas keberhasilan usaha pertanian Karet keluarga kami. Dengan asumsi bahwa getah Karet didapat dari setiap hektarnya rata-rata 700 - 800 kg/ha/th. Jika Kebun Karet seluas 70 HA maka akan menghasilkan = 70 x 700 = 49.000 kg. 49.000 kg x Rp. 7.000 = Rp. 3.430.000.000,- (Tiga milyar Empat ratus tiga puluh juta Rupiah) setiap tahun. Pendapatan rata-rata perbulan adalah sebesar Rp. 28.583.000,- (Dua puluh delapan juta lima ratus delapan puluh tiga ribu rupiah).
Apresiasi masyarakat
Dengan perhitungan ini, dapat dinyatakan bahwa perekonomian keluarga kami cukup mapan. Masyarakat Lubai biasanya akan memberikan apresiasi yang tinggi pada orang yang perekonomian mapan. Karena sebagian masyarakat menempatkan material diatas segalanya. Saat ini perekonomian keluarga besar kami dianggap cuma biasa-biasa saja, maka apresiasi masyarakat Lubai terhadap kami ketika pulang kampung ke Desa Jiwa Baru pada bulan Agustus 2008, bersikap dingin alias acuh.
Apresiasi yang kami dapatkan hanya dari kaum kerabat terdekat saja. Hal ini tercermin dari yang sudi mengunjungi tempat kami menginap saat itu, hanyalah kaum kerabat saja.