Pendahuluan
Penulis dilahirkan pada sebuah desa kecil, yang bernama Baru Lubai. Saya diberi nama : Amarmakruf Silahturrahim, terlahir dari seorang Ibu Nafisyah binti Wakif warga desa Kurungan Jiwa dan Ayah M. Ibrahim bin Haji Hasan warga Desa Baru Lubai. Alhamdulillah, saya ditakdirkan Allah menjadi anak ke 7 dari 11 bersaudara yang terdiri dari : 8 laki-laki dan 3 prempuan yaitu : Alimin Darsana bin M. Ibrahim, Tjik Jaurioh bin M. Ibrahim, Iskandar bin M. Ibrahim, Nur Asmara binti M. Ibrahim, Natakerti bin M. Ibrahim, Azhari bin M. Ibrahim, penulis, Mustaqim bin M. Ibrahim, Hukmi bin M. Ibrahim, Alimin Dalil bin M. Ibrahim, Yurni Asmita binti M. Ibrahim.
Keluarga kami bukan berasal dari kaum bangsawan dan kaum hartawan. Pola kehidupan keluarga kami, mengutamakan hidup dalam kesederhanaan. Pola hidup kesederhaan ini selalu ditanamkan oleh kedua orang tua penulis, kepada anak keturunannya. Jatuh bangunnya perekonomian keluarga kami, membuat kami anak keturunannya tabah dalam menghadapi beberapa masalah. Ada falsafah hidup yang sering disampingkan ayahanda kepada penulis yaitu jadikan diri kita laksana air mengalir. Kadang mengalir dengan deras, kadang mengalir dengan tenang. Kalau lagi berpunya harta benda jangan lupa diri dan kalau lagi dalam kekurangan harta jangan ditunjukan pada orang lain. Dalam bahasa Lubai : kalu lagi ade jangan galak ngancakan rete, tapi kalu lagi buntu jang ditunjukkan kejeme lain.
Masa kanak-kanak
Penulis saat usia kanak-kanak masih berdomisili di desa Baru Lubai, Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Sebagaimana kehidupan dari keluarga yang sederhana, masa kanak-kanak penulis sesungguhnya tidak banyak yang menarik untuk ditulis pada webblog. Akan tetapi dari kisah hidup penulis masa-masa kanak ini, ada satu kenangan indah yang ingin disampaikan pada pembaca yang budiman. Kenangan indah itu, yang masih terasa saat ini sebagai berikut :
Kelompok bermain masa usia Sekolah Dasar : penulis bersama-sama teman-teman membuat orkes-orkesan dengan peralatan-peralatan seadanya. Peralatan yang kami pergunakan seperti botol kecap untuk bunyi seperti tamborin, derigent plastik untuk seperti gendang, sisir diberikan plastik untuk bunyi harmonika. Kami memainkan alat-alat tersebut sesuai dengan irama lagu dangdut top hit pada saat itu seperti lagu : Kebinaria, Mahligai Kencana, dan sebagainya. Adapun cara memainkan peralatan itu diseuaikan dengan irama lagu tersebut, jika peralatan itu dianggap belum cukup maka suara kami akan menimpalannya sehingga kelompok orkes-orkesan kami mirip dengan kelompok musik sesungguhnya.
Para pemain kelompok musik dangdut anak-anak ini sebagai berikut :
1. Amarmakruf Silahturrahim Lubai, pemain gendang / pimpinan;
2. Muhammad Hoyin Lubai, pemain harmonika / wakil pimpinan;
3. Joni Lubai, pemain tamborin;
4. Mustakim Lubai, pemain bass
5. Hilyamah Lubai, penyanyi
6. Istiqomah Lubai, penyanyi
7. Zuryana Lubai, penyanyi
Teman-teman bermain di kelas III Sekolah Dasar Negeri Baru Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi sebagai berikut :
1. Zikriyadi bin Huyur Lubai
2. Malyadi bin Abdullah Lubai
3. Muhammad Hoyin bin M. Tauzi Lubai
4. Joni bin Abul Lubai
5. Edison bin Madeha Lubai
6. Sudirion bin Kuris Lubai
7. Arsis Tawa bin Robin Lubai
8. Aryanda bin Jamaluddin Lubai
Masa Remaja
Penulis saat usia remaja berdomisili di kelurahan Tanjung Agung kecamatan Tanjungkarang Timur kota Bandar Lampung provinsi Lampung. Masalah remaja adalah masa datangnya pubertas ”sebelas sampai empat belas tahun” sampai usia sekitar delapan belas-masa tranisisi dari kanak-kanak ke dewasa. Masa ini hampir selalu merupakan masa-masa sulit bagi remaja maupun orang tuanya. Pada masa remaja ini, kisah penulis penuh dengan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan menyedihkan.
Kisah indah penulis sebagai berikut :
Berkeliling Kota Bandar Lampung bersama teman-teman. Kami berkeliling kota masuk gang keluar gang dengan berjalan kaki. Jarak tempuh yang jalani mencapai puluhan kilo meter. Rute yang kami lalui, selalu berubah-rubah. Diantara rute yang pernah kami lalui adalah mengikuti jalur rel Kereta Api dari stasiun Tanjung Karang sampai dengan stasiun Rajabasa. Sungguh indah saat kami bersama-sama jalan menelusuri kota Bandar Lampung, sambil bersenda gurau, merangkai kata demi kata.
Kisah sedih penulis sebagai berikut :
Pada tahun 1980 Rhoma Irama Show dilaksanakan di Kota Bandar Lampung. Saat itu Rhoma Irama bersama Soneta Group adalah Rajanya seniman Dangdut di tanah air. Penulis bersama teman-teman ingin menonton pertunjukan Soneta Group show bersama Rhoma Irama. Tempat pertunjukkan ini diadakan di Gedung Olahraga Saburai Bandar Lampung. Niat kami hendak menonton pertunjukan seni musik Dangdut itu, tidak kesampaian. Karena ditengah perjalanan menuju tempat show, kami diajak ribut oleh sekelompok remaja lainnya. Penulis bersama teman-teman menghindari terjadinya keributan itu, sehingga kami membatalkan niat menonton pertunjukkan show Dangdut. Sungguh menyedihkan kisah dimasa remaja ini, bersama teman-teman penulis.
Menu masa remaja sebagai berikut :
Minggu: Mancing di Sungai Balau dan makan kelapa muda; Senin: Jalan santai mengelilingi kota Tanjungkarang; Selasa: Main gitar; Rabu: Cuci-mata di Stasiun Kereta Api Tanjungkarang; Kamis: Kongkow-kongkow di lapangan parkir Saburai Tanjungkarang; Jumat: Santai bareng dirumah; Sabtu: Nonton film bareng di Bioskop King Tanjungkarang, begadang sampai pagi di depan Bioskop Sinar Pasar Tugu Tanjung karang;
Ada sejumlah alasan untuk ini:
1. Remaja mulai menyampaikan kebebasanya dan haknya untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tidak terhindarkan, ini bisa menciptakan ketegangan dan perselisihan, dan bisa menjauhkan ia dari keluarganya;
2. Remaja lebih mudah dipengaruhi teman-temannya dari pada ketika masih lebih muda. Ini berarti pengaruh orang tua pun melemah. Anak remaja berperilaku dan mempunyai kesenangan yang berbeda bahkan bertentangan dengan perilaku dan kesenangan keluarga. Contoh-contoh yang umum adalah mode pakaian, potongan rambut atau musik, yang semuanya harus mutakhir;
3. Remaja sering menjadi terlalu percaya diri dan ini bersama-sama dengan emosinya yang biasanya meningkat, mengakibatkan ia sukar menerima nasihat orang tua.
Masa Dewasa
Penulis saat usia dewasa berdomisili di kelurahan Tanjung Agung kecamatan Tanjung karang Timur kota Bandar Lampung provinsi Lampung. Kisah masa dewasa ini, jika dibuatkan berdasarkan lintasan waktu dan peristiwa banyak yang menarik untuk dituliskan. Akan tetapi mengingat beberapa peristiwa itu, ada sebagian tidak etis, jika di ungkapkan disini. Maka penulis hanya menulis beberapa kisah saja.
Kisah indah penulis sebagai berikut :
1. Diminta untuk memimpin pembacaan do’a pada kegiatan hari besar islam dan acara lepas – sambut pejabat di kantor tempat bekerja, memimpin pembacaan do’a acara pengajian perantau Lubai di Bandar Lampung. Aktivitas ini merupakan suatu kehormatan bagi penulis, mengingat kemampuan penulis membaca do’a ini merupakan hasil belajar autodidak. Pendidikan formal penulis bukanlah berlatar belakang sekolah agama islam, akan tetapi dari sekolah umum;
2. Diminta untuk menjadi instruktur pelatihan aplikasi komputer pada kegiatan sosialisasi di kantor tempat bekerja. Kemampuan untuk menoperasionalkan komputer ini didapat penulis, hasil dari belajar autodidak sejak tahun 1990;
3. Diminta untuk mewakili keluarga perantau desa Jiwa Baru Lubai di kota Bandar Lampung, pada kegiatan lamaran pertunangan, pada kegiatan Ijab Qabul Perkawin an, pada resepsi Pernikahan.
Kisah sedih penulis sebagai berikut :
Salah seorang sanak family meminta pertolongan kepada penulis, saat itu dia ditimpa musibah. Dia datang dengan menghiba, dengan ungkapan meminta bantuan untuk diselesaikan permasalahan yang dihadapi olehnya. Setelah dia berhasil keluar dari himpitan permasalahan itu, serta mendapat harta yang berlimpah, dia lupa siapa yang pernah menolongnya. Seakan-akan dia mengangap semua yang diraihnya dari hasil upaya dia sendiri. Laksana pribahasa bagaikan kacang lupa dengan kulitnya.
Keterangan :
1. Tamburin merupakan salah satu contoh dari alat perkusi yang tidak banyak berubah sepanjang masa. Di Indonesia, tamburin merupakan sejenis alat musik tradisional yang paling populer di Aceh. Tamburin ini awalnya pernah digunakan sebagai musik Klasik, musik Roma, musik Persia, musik Gospel, musik Pop, dan rock and roll. Di Brasil, umumnya dikenal sebagai Pandeiro.
2. Kendang atau gendang adalah instrumen dalam gamelan Jawa Tengah yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu.Jenis kendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendang gedhe biasa disebut kendang kalih. Kendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran ,ladrang irama tanggung. Untuk wayangan ada satu lagi kendhang yang khas yaitu kendhang kosek.
3. Harmonika adalah sebuah alat musik yang paling mudah dimainkan. Hanya tinggal meniup dan menghisapnya harmonika akan mengeluarkan suara yang cukup bagus. Harmonika berasal dari alat musik tradisional China yang bernama 'Sheng' yang telah digunakan kira-kira 5000 tahun yang lalu sejak kekaisaran Nyu-kwa.