Selamat datang di Ruang SKI MA ARIFAH
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Melalui kegiatan mengamati, menanya, mengeksplorasi, asosiasi, dan mengkomunikasikan, peserta didik mampu :
· memahami materi tentang Kesultanan Ternate, dan Kerajaan Islam Nusa Tenggara dengan baik;
· menyimpulkan materi tentang Kesultanan Ternate, dan Kerajaan Islam Nusa Tenggara dengan baik;
· mengomunikasikan materi tentang Kesultanan Ternate, dan Kerajaan Islam Nusa Tenggara dengan baik;
Kesultanan Ternate (Kerajaan Gapi) adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di
Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di nusantara. Didirikan oleh
Baab Mashur Malamo pada 1257. Di masa jaya kekuasaannya membentang mencakup
wilayah Maluku, Sulawesi utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina
hingga sejauh kepulauan Marshall di pasifik. Pulau Gapi atau Ternate mulai ramai di
awal abad XIII, penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera.
Awalnya di Ternate terdapat 4 kampung yang masing-masing di kepalai oleh seorang
momole (kepala marga), merekalah yang pertama-tama mengadakan hubungan
dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah-rempah.
Tahun 1257 momole Ciko pemimpin Sampalu terpilih dan diangkat sebagai Kolano
(raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi
berpusat di kampung Ternate, yang dalam perkembangan selanjutnya semakin besar
dan ramai sehingga oleh penduduk disebut juga sebagai “Gam Lamo” atau kampung besar (Gamalama).
Di masa-masa awal suku Ternate dipimpin oleh para Momole. Setelah
membentuk kerajaan jabatan pimpinan dipegang seorang raja yang disebut Kolano.
Sultan Zainal Abidin meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan gelar
Sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan. Setelah sultan sebagai
pemimpin tertinggi, ada jabatan Jogugu (perdana menteri) dan Fala Raha sebagai para
penasihat. Fala Raha atau Empat Rumah adalah empat klan bangsawan yang menjadi
tulang punggung kesultanan sebagai representasi para momole di masa lalu, masing masing di kepalai seorang Kimalaha. Mereka antara lain: Marasaoli, Tomagola,
Tomaito dan Tamadi. Pejabat-pejabat tinggi kesultanan umumnya berasal dari klanklan
ini. Bila seorang sultan tak memiliki pewaris maka penerusnya dipilih dari salah
satu klan. Selanjutnya ada jabatan-jabatan lain Bobato Nyagimoi Se Tufkange (Dewan
18), Sabua Raha, Kapita Lau, Salahakan, Sangaji, dan sebagainya.
Selain Ternate, di Maluku juga terdapat paling tidak 5 kerajaan lain yang
memiliki pengaruh. Tidore, Jailolo, Bacan, Obi dan Loloda. Kerajaan-kerajaan ini
merupakan saingan Ternate memperebutkan hegemoni di Maluku. Demi menyatukan
kerajaan-kerajaan tersebut, raja Ternate ke-7 Kolano Cili Aiya atau disebut juga
Kolano Sida Arif Malamo (1322-1331) mengundang raja-raja Maluku yang lain untuk
berdamai dan bermusyawarah membentuk persekutuan. Persekutuan ini kemudian
dikenal sebagai Persekutan Moti atau Motir Verbond. Oleh karena pertemuan ini
dihadiri 4 raja Maluku yang terkuat maka disebut juga sebagai persekutuan Moloku
Kie Raha (Empat Gunung Maluku). Kolano Marhum (1465-1486), Penguasa Ternate
ke-18 adalah raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan
pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-
1500). Ia mendirikan lembaga pengajaran Islam yang pertama di Ternate. Sultan
Zainal Abidin pernah memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada Sunan Giri di
pulau Jawa, di sana beliau dikenal sebagai "Sultan Bualawa" (Sultan Cengkih).
Di masa pemerintahan Sultan Bayanullah (1500-1521), Ternate semakin
berkembang, rakyatnya diwajibkan berpakaian secara Islami, teknik pembuatan
perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk
memperkuat pasukan Ternate. Di masa ini pula datang orang Eropa pertama di
Maluku, Loedwijk de Bartomo (Ludovico Varthema) tahun 1506. Tahun 1512
Portugis untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Ternate dibawah pimpinan
Fransisco Serrao, atas persetujuan Sultan, Portugis diizinkan mendirikan pos dagang
di Ternate. Portugis datang bukan semata-mata untuk berdagang melainkan untuk
menguasai perdagangan rempah-rempah pala dan cengkih di Maluku. Untuk itu
terlebih dulu mereka harus menaklukkan Ternate. Sultan Bayanullah wafat
meninggalkan pewaris-pewaris yang masih sangat belia. Janda sultan, permaisuri
Nukila dan Pangeran Taruwese, adik almarhum sultan bertindak sebagai wali.
Permaisuri Nukila yang asal Tidore bermaksud menyatukan Ternate dan Tidore
dibawah satu mahkota yakni salah satu dari kedua puteranya, pangeran Hidayat (kelak
Sultan Dayalu) dan pangeran Abu Hayat (kelak Sultan Abu Hayat II).
Sepanjang abad ke-17, setidaknya ada 4 pemberontakan yang dikobarkan
bangsawan Ternate dan rakyat Maluku.
a) Tahun 1635, demi memudahkan pengawasan dan mengatrol harga rempah yang
merosot Belanda memutuskan melakukan penebangan besar-besaran pohon
cengkeh dan pala di seluruh Maluku atau yang lebih dikenal sebagai Hongi