Selamat datang di Ruang SKI MA ARIFAH
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Melalui kegiatan mengamati, menanya, mengeksplorasi, asosiasi, dan mengkomunikasikan, peserta didik mampu :
· memahami materi tentang Kerajaan Islam di Sumatra, dan Kerajaan Islam di Jawa dengan baik;
· menyimpulkan materi tentang Kerajaan Islam di Sumatra, dan Kerajaan Islam di Jawa dengan baik;
· mengomunikasikan materi tentang Kerajaan Islam di Sumatra, dan Kerajaan Islam di Jawa dengan baik;
4. Kerajaan (Kesultanan) Cirebon.
Kesultanan Cirebon berkuasa pada abad XV hingga abad XVI M. Letak
kesultanan Cirebon adalah di pantai utara pulau Jawa. Secara geografis berbatasan
antara Jawa Tengah dan Jawa Barat dan ini membuat kesultanan Cirebon menjadi
“perantara” antara kebudayaan Jawa dan Sunda. Sehingga, di Cirebon muncul
budaya yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi oleh
kebudayaan Sunda maupun kebudayaan Jawa.
Kesultanan Cirebon dimulai dari Ki Gedeng Tapa, yaitu seorang saudagar di
pelabuhan Muarajati. Pondasi Kesultanan Cirebon dimulai tanggal 1 Sura 1358
tahun Jawa atau bertepatan dengan tahun 1445 M dan mulai saat itu menjadi daerah
yang terkenal dengan nama desa Caruban. Kuwu atau Kepala desa pertama adalah
Ki Gedeng Alangalang dan wakilnya adalah Walangsungsang. Walangsungsang
adalah putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang (putri Ki Gedeng Tapa).
Walangsungsang yang bergelar Cakrabumi diangkat menjadi Kuwu setelah Ki
Gedeng Alang-alang meninggal, kemudian bergelar Pangeran Cakrabuana.
Pangeran Cakrabuana mendirikan istana Pakungwati, dan membentuk
pemerintahan Cirebon. Dengan demikian kesultanan Cirebon didirikan oleh
pangeran Cakrabuana. Seusai menunaikan ibadah haji, Pangeran Cakrabuana disebut
Haji Abdullah Iman, dan tampil sebagai raja Cirebon pertama yang memerintah
istana Pakungwati, serta aktif menyebarkan Islam.
Pada tahun 1479 M, kedudukan Pangeran Cakrabuana digantikan oleh
keponakannya yang bernama Syarif Hidayatullah (1448-1568 M). Setelah wafat,
Syarif Hidayatullah dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati, atau juga bergelar
Ingkang Sinuhun Kanjeng Jati Purba Penetep Panatagama Awlya Allah Kutubid
Jaman Khalifatu Rasulullah. Pada perkembangan berikutnya ternyata banyak yang
meyakini bahwa Syarif Hidayatullah adalah pendiri dinasti kesultanan Cirebon dan
Banten, kemudian menyebarkan Islam di Majalengka, Kuningan, Kawali Galuh,
Sunda Kelapa, dan Banten. Syarif Hidayatullah wafat pada tahun 1568, terjadilah
kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Kosongnya
kekuasaan itu kemudian diisi oleh Fatahillah yang kemudian naik tahta, secara resmi menjadi sultan cirebon sejak tahun 1568. Sayangnya hanya dua tahun Fatahillah
menduduki tahta Cirebon, karena ia meninggal pada 1570.
Sepeninggal Fatahillah, tahta diteruskan oleh cucu Sunan Gunung Jati, yaitu
pangeran Emas. Pangeran emas kemudian bergelar panembahan Ratu I, dan
memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun. Setelah panembahan Ratu I
meninggal pada tahun 1649, pemerintahan kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh
cucunya yang bernama pangeran Karim, yang dikenal dengan sebutan Panembahan
Ratu II atau Panembahan Girilaya. Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan
Agung Hanyakrakusuma. Bersamaan dengan meninggalnya panembahan Girilaya,
Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, yakni para putra panembahan
Girilaya ditahan di Mataram. Dengan kematian panembahan Girilaya, terjadilah
kekosongan penguasa. Panembahan Girilaya meninggalkan Tiga Putra, Yaitu
Pangeran Murtawijaya, Pangeran Kartawijaya, dan Pangeran Wangsakerta
Pada penobatan ketiganya di tahun 1677, kesultanan Cirebon terpecah menjadi
tiga. Ketiga bagian itu dipimpin oleh tiga anak Panembahan Girilaya, yakni:
a. Pangeran Martawijaya atau Sultan Kraton Kasepuhan, dengan gelar Sepuh Abi
Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
b. Pangeran Kartawijaya atau Sultan Kanoman, dengan gelar
c. Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)
d. Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon, Sultan Kraton Cirebon dengan
gelar pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati
Pergantian kepemimpinan para sultan di Cirebon selanjutnya berjalan lancar,
sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803). Saat itu terjadilah
pepecahan karena salah seorang putranya, yaitu pangeran Raja Kanoman, ingin
memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama kesultanan
Kacirebonan. Kehendak Raja Kanoman didukung oleh pemerintah belanda yang mengangkatnya menjadi Sultan Cirebon pada tahun 1807. Sejak saat itu, di
Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu kesultanan Kacirebonan.
Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV lain bernama
Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811). Sesudah kejadian tersebut,
pemerintah kolonial belanda pun semakin ikut campur dalam mengatur Cirebon,
sehingga peranan istana-istana kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya
semakin surut. Puncaknya terjadi pada tahuntahun 1906 dan 1926, ketika kekuasaan
pemerintahan kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdiriya kota cirebon