Selamat datang di Ruang SKI MA ARIFAH
TUJUAN PEMBELAJARAN
Melalui kegiatan mengamati, menanya, mengeksplorasi, asosiasi, dan mengkomunikasikan, peserta didik mampu :
· memahami materi tentang Keadaan Sosial Masyarakat Quraisy sebelum Islam dengan baik;
· menyimpulkan materi tentang Keadaan Sosial Masyarakat Quraisy sebelum Islam dengan baik;
· mengomunikasikan materi tentang Keadaan Sosial Masyarakat Quraisy sebelum Islam dengan baik;
Para ahli sejarah menyebut masa sebelum kehadiran Islam yang dibawa oleh
Rasulullah Saw sebagai masa jahiliyah. Secara bahasa masa jahiliyah berasal dari kata
jahil, yang diturunkan dari kata dasar Arab jahala yang berarti bodoh
Keadaan Arab khususnya daerah Makkah terdiri atas gurun pasir yang panas dan
gersang. Hal ini mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat Makkah sehingga
tercermin dalam kehidupan sosial budaya mereka. Orang-orang Makkah dikenal sebagai
bangsa pengembara yang nomaden. Mereka sering berpindah pindah dengan
mengandalkan kendaraan yang berupa unta dan kuda.
Kebiasaan mengembara membuat orang-orang Arab Makkah senang hidup bebas
tanpa aturan dan hukum yang dapat mengikat mereka sehingga mereka menjunjung
tinggi nilai-nilai kebebasan. Mereka senang hidup mengelompok yang tergabung dalam
kabilah atau suku yang sangat banyak jumlahnya.
Kekuatan, keperkasaan, keuletan dan keberanian merupakan modal utama untuk
dapat bertahan di alam gurun pasir. Mereka tidak menyukai anak-anak wanita karena
wanita dinilai makhluk lemah, tidak mampu berperang, dan tidak kuat melakukan
pekerjaan yang berat. Seakan suatu bencana besar dan sebagai aib jika tidak
mempunyai anak laki-laki.
Namun, selain memiliki watak, perangai, dan perilaku keras, penduduk arab
mempunyai jiwa seni sastra yang tinggi, terutama dalam bentuk syair dan sajak.
Kepandaiannya dalam mengubah sajak atau syair merupakan kebanggaan orang Arab.
Para penyair kenamaan sangat dikagumi dan dihormati.
Dari segi keyakinan, bangsa Arab pada masa jahiliyah terbagi menjadi beberapa
golongan:
1. Golongan yang mengingkari Sang Pencipta dan hari kebangkitan. Mereka percaya
bahwa alam, masa, dan waktulah yang membinasakan segalanya seperti yang
termaktub dalam QS. Al-Jaatsiyah (45) : 24.
2. Golongan yang mengakui adanya Tuhan, tetapi walaupun mengakui adanya Tuhan,
namun mengingkari adanya hari kebangkitan, seperti yang termaktub dalam QS. Qaaf
(50) : 15.
3. Golongan yang menyembah berhala, biasanya masing-masing kabilah memiliki
berhala sendiri-sendiri. Kabilah Kalab di Daumatul Djandal misalnya, mereka
mempunyai berhala Wad, kabilah Huzdail mempunyai berhala Suwa‟ Kabilah
Madzhaj dan kabilah-kabilah di Yaman semuanya menyembah Yaghuts dan Ya‟uq,
Kabilah Tsaqif di Thaif menyembah Latta, Kabilah Qurays di Kinanah menyembah
Uzza. Kabilah Aus dan Khazraj menyembah Manat, dan sebagai pemimpin dari
semua berhala adalah Hubal yang ditempatkan di samping sisi Ka‟bah.
4. Golongan yang lain adalah golongan yang cenderung mengikuti ajaran Yahudi,
Nasrani, dan Shabiah, ada pula yang menyembah malaikat atau jin.
Label jahiliyah yang diberikan kepada bangsa Arab pra Islam, bukan berarti tidak adakebaikan sama sekali dalam kehidupan mereka. Bangsa Arab masih memiliki akhlakakhak
mulia dan budaya positif yang menyejukkan dan menakjubkan akal manusia.
Diantara perkembangan kebudayaan masyarakat Arab pra Islam :
Tradisi keilmuan
Bangsa Arab pra Islam telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, terbukti
dengan dikembangkannya ilmu astronomi yang ditemukan oleh orang-orang
Babilonia. Ilmu Astronomi ini berkembang di Arab setelah bangsa Babilonia diserang
oleh Bangsa Persia kemudian mengenalkan ilmu astronomi ini kepada orang-orang
Arab pada masa itu. Selain astronomi mereka juga pandai dalam ilmu nasab, ilmu
rasi-rasi bintang, tanggal-tanggal kelahiran dan ta‟bir mimpi.
2) Berdagang
Masyarakat Arab yang tinggal di perkotaan atau disebut ahlul-hadar, mereka hidup
dengan berdagang. Kehidupan sosial ekonominya sangat ditentukan oleh keahlian
mereka dalam berdagang. Mereka melakukan perjalanan dagang dalam dua musim
selama setahun, pada musim panas pergi ke Negeri Syam (Syiria) dan pada musim
dingin mereka pergi ke negeri Yaman. Pada masa itu sudah berdiri sebuah pasar yang
diberi nama pasar Ukaz. Pasar Ukaz dibuka pada bulan-bulan bertepatan dengan
waktu pelaksanaan ibadah haji, yaitu; bulan Dzulkaidah, Zulhijjah dan Muharam.
3) Bertani
Masyarakat Arab yang tinggal di pedalaman yaitu masyarakat Badui, mata
pencahariannya adalah dengan bertani dan beternak. Kehidupan mereka nomaden,
hidup mereka berpindah-pindah dari satu lembah ke lembah yang lain untuk mencari
rumput bagi hewan mereka. Masyarakat yang hidup di daerah yang subur, mereka
bercocok tanam dan hidup di sekitar oase seperti Thaif. Mereka menanam buahbuahan
dan sayur-sayuran.
4) Bersyair
Pasar Ukaz tidak hanya menyediakan barang dagangan berupa perniagaan dan
kebutuhan sehari-hari saja, tetapi juga pagelaran kesenian seperti qashidah-qashidah
gubahan sastrawan Arab. Syair menjadi salah satu budaya tingkat tinggi yang
berkembang pada masa Arab pra Islam. syair juga dapat menjadikan seseorang atau
kabilah tertentu menjadi kabilah terbelakang atau kabilah yang terhormat. Syair
menjadi masalah mafakhir (kebanggaan) mereka dalam kehidupan sosialnya.
Selain bersyair, mereka juga terbiasa menuliskan kata-kata hikmah dalam setiap
bangunan agung yang mereka dirikan untuk dijadikan peringatan dan diambil
hikmahnya bagi generasi selanjutnya. Orang Arab saat itu berloba-lomba dan
membanggakan sikap dermawan. Separuh syair-syair mereka diisi dengan pujian dan
sanjungan terhadap kedermawanan.
5) Menghormati Tamu
Kehidupan sosial bangsa Arab pra Islam terkenal pemberani dalam membela
pendiriannya, mereka tidak mau mengubah pendirian yang sudah mengakar dalam
kehidupan mereka. Salah satunya adalah menghormati dan memuliakan tamu,
menghormati tamu adalah bagian dari menjunjung tinggi sikap dermawan yangmereka miliki, mereka berlomba-lomba untuk memuliakan tamu dengan segala harta
benda meraka.
Bangsa Arab pra Islam rela untuk berkorban harta bendanya hanya untuk memuliakan
tamu. Pernah ada seorang laki-laki yang kedatangan tamu di rumahnya, sementara dia
tidak memiliki apa-apa selain onta yang menjadi tumpuan hidupnya. Ia rela
menyembelih untanya hanya demi untuk menjamu tamunya
6) Menepati Janji
Bagi orang Arab, janji adalah hutang yang harus mereka bayar. Melanggar janji
adalah aib bagi hidup mereka, bahkan dalam sebuah kisah Hani bin Mas‟ud bin
Mas‟ud asy-Syaibani hanya demi sebuah janji mereka rela membinasakan keturunan
mereka dan menghancurkan rumah demi memenuhi sebuah janji.
Kerjakan tugas dibawah ini dengan benar