Selamat datang di Ruang SKI MA ARIFAH
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Melalui kegiatan mengamati, menanya, mengeksplorasi, asosiasi, dan mengkomunikasikan, peserta didik mampu :
· memahami materi tentang Kerajaan Islam di Sumatra, dan Kerajaan Islam di Jawa dengan baik;
· menyimpulkan materi tentang Kerajaan Islam di Sumatra, dan Kerajaan Islam di Jawa dengan baik;
· mengomunikasikan materi tentang Kerajaan Islam di Sumatra, dan Kerajaan Islam di Jawa dengan baik;
5. Kerajaan (Kesultanan) Banten
Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut
pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang
berafiliasi ke Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan
salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara
(Tangerang), Sunda Kelapa dan Cimanuk. Putera dari Sunan Gunung Jati
(Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan
dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak
kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.
Puncak kejayaan Kerajaan Banten terjadi pada masa pemerintahan Abdul
Fatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan
Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju
pesat. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi
Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.
Pada zaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret 1682, wilayah
Lampung diserahkan kepada VOC. seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada
Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh
di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus
1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung
Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada
tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh
Thomas Stamford Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran
Surasowan oleh Gubernur Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.
Para pemimpin Kesultanan Banten adalah sebagai berikut :
a) Sunan Gunung Jati
b) Sultan Maulana Hasanudin 1552 - 1570
c) Maulana Yusuf 1570 - 1580
d) Maulana Muhammad 1585 - 1590
e) Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 - 1640
f) Sultan Abu al Ma’ali Ahmad 1640-1650
g) Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680
h) Sultan Abdul Kahar 1683-1687
i) Sultan Fadhl atau Sultan Yahya 1687-1690
j) Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)
k) Muhammad Syifa Zainul Arifin/Sultan Arifin (1750-1752)
l) Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)
m) Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)
n) Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)
o) Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)
p) Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)
q) Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
r) Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
s) Aliyuddin II (1803-1808)
t) Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
u) Muhammad Syafiuddin (1809-1813)