Deskripsi :
Nausea merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman pada bagian belakang tenggorok atau lambung yang dapat mengakibatkan muntah.
Berhubungan dengan :
1. Gangguan biokimiawi (mis: uremia, ketoasidosis diabetic)
2. Gangguan pada esofagus
3. Distensi lambung
4. Iritasi lambung
5. Gangguan pankreas
6. Peregangan kapsul limpa
7. Tumor terlokalisasi (mis: neuroma akustik, tumor otak primer atau sekunder, metastasis tulang di dasar tengkorak)
8. Peningkatan tekanan intraabdominal (mis: keganasan intraabdomen)
9. Peningkatan tekanan intrakranial
10. Peningkatan tekanan intraorbital (mis: glaukoma)
11. Mabuk perjalanan
12. Kehamilan
13. Aroma tidak sedap
14. Rasa makanan/minuman yang tidak enak
15. Stimulus penglihatan tidak menyenangkan
16. Faktor psikologis (mis: kecemasan, ketakutan, stres)
17. Efek agen farmakologis
18. Efek toksin
Luaran :
Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis nausea adalah: “tingkat nausea menurun.”
Tingkat nausea menurun diberi kode L.08065 dalam SLKI.
Tingkat nausea menurun berarti perasaan tidak nyaman pada bagian belakang tenggorok atau lambung yang dapat mengakibatkan muntah menurun. Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa tingkat nausea menurun adalah: Perasaan ingin muntah menurun
Intervensi :
1. Manajemen mual (I.03117)
Manajemen mual adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola perasaan tidak enak pada bagian tenggorok atau lambung yang dapat menyebabkan muntah. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen mual berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi pengalaman mual
o Identifikasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan (mis: bayi, anak-anak, dan mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif)
o Identifikasi dampak mual terhadap kualitas hidup (mis: nafsu makan, aktivitas, kinerja, tanggung jawab peran, dan tidur)
o Identifikasi faktor penyebab mual (mis: pengobatan dan prosedur)
o Identifikasi antiemetik untuk mencegah mual (kecuali mual pada kehamilan)
o Monitor mual (mis: frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan)
Terapeutik
o Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual (mis: bau tidak sedap, suara, dan rangsangan visual yang tidak menyenangkan)
o Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab mual (mis: kecemasan, ketakutan, kelelahan)
o Berikan makanan dalam jumlah kecil dan menarik
o Berikan makanan dingin, cairan bening, tidak berbau, dan tidak berwarna, jika perlu
Edukasi
o Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup
o Anjurkan sering membersihkan mulut, kecuali jika merangsang mual
o Anjurkan makanan tinggi karbohidrat, dan rendah lemak
o Ajarkan penggunaan teknik non farmakologis untuk mengatasi mual (mis: biofeedback, hipnosis, relaksasi, terapi musik, akupresur)
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian obat antiemetik, jika perlu
2. Manajemen muntah (I.03118)
Manajemen muntah adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengelola refleks pengeluaran isi lambung. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen muntah berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi pengalaman muntah
o Identifikasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan (mis: bayi, anak-anak, dan mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif)
o Identifikasi dampak muntah terhadap kualitas hidup (mis: nafsu makan, aktivitas, kinerja, tanggung jawab peran, dan tidur)
o Identifikasi faktor penyebab muntah (mis: pengobatan dan prosedur)
o Identifikasi antiemetik untuk mencegah muntah (kecuali muntah pada kehamilan)
o Monitor muntah (mis: frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan)
Terapeutik
o Kontrol lingkungan penyebab muntah (mis: bau tidak sedap, suara, dan stimulasi visual yang tidak menyenangkan)
o Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab muntah (mis: kecemasan, ketakutan)
o Atur posisi untuk mencegah aspirasi
o Pertahankan kepatenan jalan napas
o Bersihkan mulut dan hidung
o Berikan dukungan fisik saat muntah (mis: membantu membungkuk atau menundukkan kepala)
o Berikan kenyamanan selama muntah (mis: kompres dingin di dahi, atau sediakan pakaian kering dan bersih)
o Berikan cairan yang tidak mengandung karbonasi minimal 30 menit setelah muntah
Edukasi
o Anjurkan membawa kantong plastik untuk menampung muntah
o Anjurkan memperbanyak istirahat
o Ajarkan penggunaan Teknik non farmakologis untuk mengelola muntah (mis: biofeedback, hipnosis, relaksasi, terapi musik, akupresur)
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian obat antiemetik, jika perlu