Deskripsi :
Hipertermia merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai suhu tubuh meningkat diatas rentang normal tubuh.
Berhubungan dengan :
1. Dehidrasi
2. Terpapar lingkungan panas
3. Proses penyakit (mis: infeksi, kanker)
4. Ketidaksesuaian pakaian dengan suhu lingkungan
5. Peningkatan laju metabolisme
6. Respon trauma
7. Aktivitas berlebihan
8. Penggunaan inkubator
Luaran :
Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis hipertermia adalah: “termoregulasi membaik.”
Termoregulasi membaik diberi kode L.14134 dalam SLKI.
Termoregulasi membaik berarti membaiknya pengaturan suhu tubuh agar tetap berada pada rentang normal. Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa termoregulasi membaik adalah:
1. Menggigil menurun
2. Suhu tubuh membaik
3. Suhu kulit membaik
Intervensi :
1. Manajemen Hipertermia (I.15506)
Manajemen hipertermia adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola peningkatan suhu tubuh akibat disfungsi termoregulasi.
Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen hipertermia berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi penyebab hipertermia (mis: dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan inkubator)
o Monitor suhu tubuh
o Monitor kadar elektrolit
o Monitor haluaran urin
o Monitor komplikasi akibat hipertermia
Terapeutik
o Sediakan lingkungan yang dingin
o Longgarkan atau lepaskan pakaian
o Basahi dan kipasi permukaan tubuh
o Berikan cairan oral
o Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hyperhidrosis (keringat berlebih)
o Lakukan pendinginan eksternal (mis: selimut hipotermia atau kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, aksila)
o Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
o Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
o Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu
2. Regulasi Temperatur (I.14578)
Regulasi temperatur adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Tindakan yang dilakukan pada intervensi regulasi temperatur berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Monitor suhu tubuh bayi sampai stabil (36,5 – 37,5°C)
o Monitor suhu tubuh anak tiap 2 jam, jika perlu
o Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan dan nadi
o Monitor warna dan suhu kulit
o Monitor dan catat tanda dan gejala hipotermia atau hipertermia
Terapeutik
o Pasang alat pemantau suhu kontinu, jika perlu
o Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat
o Bedong bayi segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas
o Masukkan bayi BBLR ke dalam plastic segera setelah lahir (mis: bahan polyethylene, polyurethane)
o Gunakan topi bayi untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir
o Tempatkan bayi baru lahir di bawah radiant warmer
o Pertahankan kelembaban incubator 50% atau lebih untuk mengurangi kehilangan panas karena proses evaporasi
o Atur suhu incubator sesuai kebutuhan
o Hangatkan terlebih dahulu bahan-bahan yang akan kontak dengan bayi (mis: selimut, kain bedongan, stetoskop)
o Hindari meletakkan bayi di dekat jendela terbuka atau di area aliran pendingin ruangan atau kipas angin
o Gunakan matras penghangat, selimut hangat, dan penghangat ruangan untuk menaikkan suhu tubuh, jika perlu
o Gunakan Kasur pendingin, water circulating blankets, ice pack, atau gel pad dan intravascular cooling cathetherization untuk menurunkan suhu tubuh
o Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan pasien
Edukasi
o Jelaskan cara pencegahan heat exhaustion dan heat stroke
o Jelaskan cara pencegahan hipotermi karena terpapar udara dingin
o Demonstrasikan Teknik perawatan metode kanguru (PMK) untuk bayi BBLR
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu