Deskripsi :
Diare adalah diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai pengeluaran feses yang sering, lunak, dan tidak berbentuk.
Dibuktikan dengan :
Penyebab fisiologis
1. Inflamasi gastrointestinal
2. Iritasi gastrointestinal
3. Proses infeksi
4. Malabsorpsi
Penyebab psikologis
1. Kecemasan
2. Tingkat stres tinggi
Penyebab Situasional
1. Terpapar kontaminan
2. Terpapar toksin
3. Penyalahgunaan laksatif
4. Penyalahgunaan zat
5. Program pengobatan (agen tiroid, analgesik, pelunak feses, ferosulfat, antasida, cimetidine, dan antibiotik)
6. Perubahan air dan makanan
7. Bakteri pada air
Luaran :
Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis diare adalah: “eliminasi fekal membaik.”
Eliminasi fekal membaik diberi kode L.04033 dalam SLKI.
Eliminasi fekal membaik berarti proses pengeluaran feses yang mudah dengan konsistensi, frekuensi, dan bentuk feses yang normal. Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa eliminasi fekal membaik adalah:
1. Kontrol pengeluaran feses meningkat
2. Keluhan defekasi lama dan sulit menurun
3. Mengejan saat defekasi menurun
4. Konsistensi feses membaik
5. Frekuensi BAB membaik
6. Peristaltik usus membaik
Intervensi :
1. Manajemen Diare (I.03101)
Manajemen diare adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola diare dan dampaknya. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen diare berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi penyebab diare (mis: inflamasi gastrointestinal, iritasi gastrointestinal, proses infeksi, malabsorpsi, ansietas, stres, obat-obatan, pemberian botol susu)
o Identifikasi Riwayat pemberian makanan
o Identifikasi gejala invaginasi (mis: tangisan keras, kepucatan pada bayi)
o Monitor warna, volume, frekuensi, dan konsistensi feses
o Monitor tanda dan gejala hypovolemia (mis: takikardia, nadi teraba lemah, tekanan darah turun, turgor kulit turun, mukosa kulit kering, CRT melambat, BB menurun)
o Monitor iritasi dan ulserasi kulit di daerah perianal
o Monitor jumlah dan pengeluaran diare
o Monitor keamanan penyiapan makanan
Terapeutik
o Berikan asupan cairan oral (mis: larutan garam gula, oralit, Pedialyte, renalyte)
o Pasang jalur intravena
o Berikan cairan intravena (mis: ringer asetat, ringer laktat), jika perlu
o Ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit
o Ambil sampel feses untuk kultur, jika perlu
Edukasi
o Anjurkan makanan porsi kecil dan sering secara bertahap
o Anjurkan menghindari makanan pembentuk gas, pedas, dan mengandung laktosa
o Anjurkan melanjutkan pemberian ASI
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian obat antimotilitas (mis: loperamide, difenoksilat)
o Kolaborasi pemberian antispasmodik/spasmolitik (mis: papaverine, ekstrak belladonna, mebeverine)
o Kolaborasi pemberian obat pengeras feses (mis: atapugit, smektit, kaolin-pektin)
2. Pemantauan Cairan (I.03101)
Pemantauan cairan adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengumpulkan dan menganalisis data terkait pengaturan keseimbangan cairan. Tindakan yang dilakukan pada intervensi pemantauan cairan berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
o Monitor frekuensi napas
o Monitor tekanan darah
o Monitor berat badan
o Monitor waktu pengisian kapiler
o Monitor elastisitas atau turgor kulit
o Monitor jumlah, warna, dan berat jenis urin
o Monitor kadar albumin dan protein total
o Monitor hasil pemeriksaan serum (mis: osmolaritas serum, hematokrit, natrium, kalium, dan BUN)
o Monitor intake dan output cairan
o Identifikasi tanda-tanda hypovolemia (mis: frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat, hasil, lemah, konsentrasi urin meningkat, berat badan menurun dalam waktu singkat)
o Identifikasi tanda-tanda hypervolemia (mis: dispnea, edema perifer, edema anasarca, JVP meningkat, CVP meningkat, refleks hepatojugular positif, berat badan menurun dalam waktu singkat)
o Identifikasi faktor risiko ketidakseimbagnan cairan (mis: prosedur pembedahan mayor, trauma/perdarahan, luka bakar, apheresis, obstruksi intestinal, peradangan pancreas, penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinal)
Terapeutik
o Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
o Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
o Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
o Dokumentasikan hasil pemantauan