Deskripsi :
Konfusi akut merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai gangguan kesadaran, perhatian, kognitif, dan persepsi yang reversible, berlangsung tiba-tiba, dan singkat.
Berhubungan dengan :
1. Delirium
2. Demensia
3. Fluktuasi siklus tidur-bangun
4. Usia lebih dari 60 tahun
5. Penyalahgunaan zat
Luaran :
Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis konfusi akut adalah: “tingkat konfusi menurun.”
Tingkat konfusi menurun diberi kode L.06054 dalam SLKI.
Tingkat konfusi menurun berarti kesadaran, perhatian, kognitif, dan persepsi yang terganggu menurun. Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa tingkat konfusi menurun adalah:
1. Fungsi kognitif meningkat
2. Tingkat kesadaran meningkat
3. Aktivitas psikomotorik meningkat
4. Motivasi memulai/menyelesaikan perilaku terarah meningkat
5. Memori jangka pendek meningkat
6. Memori jangka Panjang meningkat
7. Interpretasi membaik
8. Fungsi sosial membaik
9. Respons terhadap stimulus membaik
Intervensi :
1. Manajemen delirium (I.06189)
Manajemen delirium adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola lingkungan terapeutik dan aman pada status konfusi akut. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen delirium berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi faktor risiko delirium (mis: usia >75 tahun, disfungsi kognitif, gangguan penglihatan/pendengaran, penurunan kemampuan fungsional, infeksi, hipo/hipertemia, hipoksia, malnutrisi, efek obat, toksin, gangguan tidur, stres)
o Identifikasi tipe delirium (mis: hipoaktif, hiperaktif, campuran)
o Monitor status neurologis dan tingkat delirium
Terapeutik
o Berikan pencahayaan yang baik
o Sediakan jam dan kalender yang mudah dibaca
o Hindari stimulus sensorik berlebihan (mis: televisi, pengumuman interkom)
o Lakukan pengekangan fisik, sesuai indikasi
o Sediakan informasi tentang apa yang terjadi dan apa yang dapat terjadi selanjutnya
o Batasi pembuatan keputusan
o Hindari memvalidasi mispersepsi atau interpretasi realita yang tidak akurat (mis: halusinasi, waham)
o Nyatakan persepsi dengan cara yang tenang, meyakinkan, dan tidak argumentative
o Fokus pada apa yang dikenali dan bermakna saat interaksi interpersonal
o Lakukan reorientasi
o Sediakan lingkungan fisik dan rutinitas harian yang konsisten
o Gunakan isyarat lingkungan untuk stimulasi memori, reorientasi, dan meningkatkan perilaku yang sesuai (mis: tanda, gambar, jam, kalender, dan kode warna pada lingkungan)
o Berikan informasi baru secara perlahan, sedikit demi sedikit, diulang-ulang
Edukasi
o Anjurkan kunjungan keluarga, jika perlu
o Anjurkan penggunaan alat bantu sensorik (mis: kacamata, alat bantu dengar, dan gigi palsu)
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian obat ansietas atau agitasi, jika perlu
2. Manajemen halusinasi (I.09288)
Manajemen halusinasi adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola peningkatan keamanan, kenyamanan, dan orientasi realita. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen halusinasi berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Monitor perilaku yang mengindikasikan halusinasi
o Monitor dan sesuaikan tingkat aktivitas dan stimulasi lingkungan
o Monitor isi halusinasi (mis: kekerasan atau membahayakan diri)
Terapeutik
o Pertahankan lingkungan yang aman
o Lakukan Tindakan keselamatan Ketika tidak dapat mengontrol perilaku (mis: limit setting, pembatasan wilayah, pengekangan fisik, seklusi)
o Diskusikan perasaan dan respons terhadap halusinasi
o Hindari perdebatan tentang validitas halusinasi
Edukasi
o Anjurkan memonitor sendiri situasi terjadinya halusinasi
o Anjurkan bicara pada orang yang dipercaya untuk memberi dukungan dan umpan balik korektif terhadap halusinasi
o Anjurkan melakukan distraksi (mis: mendengarkan music, melakukan aktivitas dan Teknik relaksasi)
o Ajarkan pasien dan keluarga cara mengontrol halusinasi
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian obat antipsikotik dan antiansietas, jika perlu
3. Manajemen penyalahgunaan zat (I.09291)
Manajemen penyalahgunaan zat adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola pasien yang menunjukkan efek toksik sebagai hasil dari mengkonsumsi satu atau lebih obat. Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen penyalahgunaan zat berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
o Identifikasi penyebab ketergantungan atau penyalahgunaan zat
o Identifikasi perilaku denial tidak efektif
o Periksa tanda dan gejala intoksikasi
o Periksa pasien dan abrang bawaannya secara acak
Terapeutik
o Penuhi kebutuhan dasar seperti keamanan, kebersihaan diri, kenyamanan, lingkungan tenang
o Perbaiki kesalahan konsepsi, tidak menyalahkan orang lain
o Pertahankan disiplin diri dengan pengawasan ketat
o Berikan Batasan pada perilaku manipulative
o Batasi akses penggunaan zat
o Hadapi secara konsisten, tidak menghakimi dan menghukum
Edukasi
o Anjurkan berfokus pada saat ini dan masa depan, bukan masa lalu
o Anjurkan pasien dan keluarga mengikuti peraturan ketat rumah sakit secara efektif (mis: tidak menyelundupkan obat)
o Anjurkan mengikuti program kelompok
o Anjurkan untuk berobat jalan secara teratur dan mematuhi pengobatan saat pulang
o Ajarkan keterampilan pencegahan kekambuhan, keterampilan suportif dan tugas perkembangan
o Jelaskan bahaya menggunakan alat invasive untuk memasukan zat dalam tubuh (mis: abses, HIV)
Kolaborasi
o Kolaborasi pemberian substitusi, sesuai indikasi